Kevin Tomallewangan (3-selesai): Berguru pada Zaenal Beta, Dikagumi Saykoji hingga Roby ‘Geisha’ – FAJAR.co.id

FAJAR.co.id

Budaya & Pariwisata

Kevin Tomallewangan (3-selesai): Berguru pada Zaenal Beta, Dikagumi Saykoji hingga Roby ‘Geisha’

Awal karier Kevin Tomallewangan cukup berat. Orang-orang memandangnya sebelah mata. Syukur, cap miring mulai menjauh setelah karya-karyanya mampu bicara banyak.

Oleh: Sidic Manggala

Adalah Zaenal Beta, seniman senior Sulawesi Selatan sekaligus penemu lukisan tanah liat, yang mampu mengubah mindset Kevin tentang seni rupa. Dari Zaenal Beta-lah, Kevin sanggup “menghidupkan” karya-karyanya. Dia pun semakin semangat berimprovisasi.

Kali pertama Kevin bertemu Zainal Beta empat tahun lalu. Bersama temannya, dia pergi berguru kepada Zaenal Beta di Benteng Rotterdam, Makassar.

“Teman yang ajak saya ke sana. Dia bilang, ‘Siapa tahu kita diajar, minta ilmunya sedikit’,” jelas Kevin.

Gayung bersambut. Niat Kevin untuk belajar diterima senang hati oleh Zaenal Beta. “Dia lama sharing ilmunya. Dia kasih tahu cara melukis pakai perasaan, memasukkan perasaan dalam karya, menggores dengan perasaan.”

Sebelum-sebelumnya, karya Kevin hanya berwujud goresan benda mati biasa, tidak “hidup”. Tetapi, berkat kata-kata Zainal Beta, Kevin mengubah pandangan, lantas menghidupkan karya dengan menaruh perasaan di dalamnya. Jadilah karyanya lebih bernilai, hidup, dan bisa diterima khalayak.

“Kalau kita sedang marah, tuangkan emosi ke dalam karya. Belajar tuangkan emosi ke dalam karya,” sambungnya mantap.

Perubahan besar pada pola pikir Kevin akhirnya berbuah banyak. Kevin yang belajar seni rupa secara otodidak menjadi optimistis, lebih rajin berkarya, lalu mengunggah foto karyanya ke Facebook dan Instagram. Satu, dua, tiga karya terunggah, ketertarikan publik pun datang. Orang-orang Indonesia dan orang luar negeri rutin memberi jempol atau menekan ikon love ketika foto karya ter-upload. Sejumlah artis nasional bahkan jatuh hati. Saykoji, Jerinx SID, hingga Roby ‘Geisa’ mengakui karyanya, lantas mengaku sebagai fans berat Kevin.

“Saykoji, Jerinx SID, mereka suka. Banyak artis. Paling dekat Roby ‘Geisha’. Kalau ada karya baru, pasti dia hubungi saya.”

“Roby sering hubungi saya lewat DM (direct message) Instagram. Dia kan juga pelukis. Dia bilang, ‘Saya ngefans banget sama anda. Saya baru pertama kali lihat seniman Indonesia yang medianya seperti ini.’ Saya jawab, ‘Alhamdulillah, saya juga ngefans sama anda. Saya juga terinspirasi dari cara anda main gitar’,” beber Kevin.

Ternyata, selain mencipta karya seni rupa, Kevin juga pandai memainkan nada dari senar-senar gitar. Dia punya band, “Akar Tumbuh”, bergenre folk, tetapi tidak setenar Geisha, Saykoji, atau Superman Is Dead (SID), tentu saja. Akar Tumbuh sekadar untuk menyalurkan hobi dan menghibur warga Malino yang merasa kesepian di antara rimbunnya pinus-pinus.

Kevin bermusik bersama sepupunya: Nabil (bass), Wini (drum), dan Agung (vokal). Bersama sepupu-sepupunya ini pula, Kevin membentuk Komunitas Seni Alam (KOSA), dan mengajar sukarela 50-an anggota ekstrakurikuler seni di SMPN 1 Tinggimoncong, Malino.

“Yang vokalis ngajar teater dan puisi, drummer ngajar nari, bassis itu ngajar alat musik tradisional: gendang, seruling, puipui. Saya ngajar rupa,” katanya.

Bukan cuma membagi ilmu dengan cuma-cuma, Kevin dan sepupu-sepupunya juga rutin mengadakan pentas seni. Yang tampil pentas adalah anak-anak binaan.

“Makanya kalau dapat proyek sketsa, uangnya untuk beli alat. Alat untuk bekerja, untuk dipakai ajar ke anak-anak, dan untuk pentas.”

Menurut Kevin, ada banyak anak-anak di Malino yang berbakat di bidang seni: rupa, musik, lukis, dan tari. “Kita cari sendiri memang. Kita bujuk gabung ke komunitas, belajar, memperdalam ilmu seninya. Daripada mereka kosong, ilmunya tinggal, bergaul juga yang ini… toh, seni juga menghasilkan (fulus).”

Usaha keras dibarengi niat tulus pasti berbuah manis. Akhir-akhir ini anak murid binaan Kevin cs. kerap diminta tampil mengisi acara. “Apalagi kalau ada pejabat-pejabat yang datang, paling anggota ji yang ini, yang pentas,” imbuh Kevin, kembali tersenyum.

Tidak terasa, matahari mulai condong ke barat. Awan mendung yang menyapa saya saat datang di Malino juga telah menjatuhkan hujan. Angin berhembus, menggoyang daun-daun, membuat suhu lebih dingin dari sebelumnya.

Saya, Kevin, dan Achenk mengambil jeda, membiarkan seluruh obrolan meresap ke otak, dan menyilakan dingin memeluk raga. Setelah bibir-bibir terkunci untuk beberapa saat, kami bersamaan memegang gelas, lalu menyesap kopi selama mungkin. Kebersamaan yang mantap.

“Sebetulnya, apa tujuan Kevin berkarya?” saya bertanya, memancing sebuah kesimpulan.

Kevin mendongak, berpikir sebentar sebelum buka mulut, “Tujuanku sebenarnya kepuasan ji, terus juga bagaimana supaya kotaku ini, Malino, bisa terkenal dengan karya seni. Orang tahunya Malino itu cuma tempat wisata yang… pinus, pemandangannya. Orang tidak tahu kalau ada anak seni di sini, ada orang-orang berbakat. Bahkan maestro tari juga ada di sini.”

Saya mengangguk-angguk, sedangkan Achenk sudah berdiri di belakang tripod kamera, menjepret momen.

“Saya suka seni, saya punya kampung, anak-anak yang mau berseni juga ada, jadi kenapa tidak saya kembangkan saja bakat seni yang ada di sini, di Malino,” Kevin menutup dengan sebuah alasan manis. (Selesai)

To Top