Saksi Keberatan Disebut Berbohong di Persidangan Bupati Buton – FAJAR.co.id
Hukum

Saksi Keberatan Disebut Berbohong di Persidangan Bupati Buton

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Abu Umaya yang merupakan saksi dalam persidangan kasus dugaan suap Bupati Buton non aktif Samsu Umar Abdul Samiun terhadap mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) tidak terima dikatakan memberikan kesaksian palsu dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Rabu (26/7) lalu.

Dalam persidangan tersebut, Abu Umaya menganggap telah memberikan kesaksian yang sebenar-benarnya dihadapan majelis Hakim yang dipimpin oleh Ibnu Basuki Widodo. Menurutnya yang mengetahui dirinya berbohong dan tidaknya hanya hati nurani Umar Samiun, La Ode Agus Mukmin dan Dian Farizka.

“Yang mengetahui Saya bohong dan tidaknya hanya hati nurani Samsu Umar Samiun, La Ode Agus Mukmin dan Dian Farizka,” kata Abu Umaya dalam rilis hak jawab yang diterima redaksi fajar.co.id.

Olehnya itu, Abu Umaya dalam waktu dekat akan mengusulkan kepada JPU untuk bisa kembali menghadirkan saksi-saksi dalam persidangan. Dalam persidangan nanti, ia akan menyerahkan bukti rekaman serta print percakapan.

“Nanti saya akan menyerahkan rekaman serta print percakapan antara Umar Samiun dan Dian Farizka, Saya (Abu Umaya) dan Umar Samiun. Kemudian Abu Umaya dan Dian Farizka sebelum pertemuan dan setelah pertemuan di Grann Hayyat serta sebelum transfer dan setelah transfer uang Rp. 10 juta dari Umar Samiun ke rekening saya dan Rp. 9 juta dari rekening saya ke rekening Dian Farizka,” jelasnya.

Ia juga mengaku telah merasa difitnah oleh La Ode Agus Mukmin dan Dian Farizka dihadapan penyidik KPK dan dihadapan Hakim Pengadilan Tipikor. “Saya dituduh berutang Rp. 9 juta kepada La Ode Agus Mukmin, itu tidak benar alias bohong. Olehnya itu, saya akan menimbang langkah hukum apa yang akan diambil nantinya,” tutupnya.

Sekedar diketahui, dalam siding pada Rabu (26/7) lalu beragendakan pemeriksaan saksi-saksi yang menghadirkan Abu Umaya, La Ode Agus Mukmin, Dian Farizka dan Sofyan Kaepa. Dalam siding tersebut membahas tentang pertemuan yang berlangsung di Plaza Indonesia saat proses gugatan di Mahkamah Konstitusi. Dalam kesaksiannya, Abu Umaya mengaku memfasilitasi Dian Farizka untuk membuatkan materi gugatan pasangan calon Uku Dani ke MK dengan imbalan Rp. 25 juta. Namun hanya diberikan Rp. 10 juta.

Keterangan Abu Umaya tersebut kemudian dibantah oleh Dian Farizka. Ia mengaku tidak pernah diperintah untuk membuat gugatan terhadap pasangan calon Samsu Umar Abdul Samiun-La Bakry (Oemar Bakry) dan La Uku – Dani. Apalagi menerima imbalan untuk pembuatan materi gugatan tersebut.

“Saya tidak pernah diminta untuk membuat gugatan pasangan calon Oemar Bakry dan La Uku-Dani. Karena dalam pertemuan di Plaza Indonesia itu tidak membahas tentang materi gugatan atau persoalan sengketa Pilkada. Pak Samsu hanya membahas tentang bagaimana pembangunan Buton kedepan,” kata Dian Farizka.

Mengenai uang Rp. 10 juta yang masuk direkening BRI miliknya, Dian menjelaskan bahwa uang tersebut tidak ada kaitannya dengan apa yang disampaikan oleh Abu Umaya. Uang tesebut justru merupakan utang Abu Umayah terhadap Agus Mukmin yang ditransfer melalui rekening miliknya.

“Waktu itu Pak Agus Mukmin meminta nomor rekening saya katanya mau dikirim dana sebesar Rp. 9 juta. Uang itu lalu kemudian saya tarik dan sudah diserahkan kepada Pak Agus Mukmin,” tambahnya.

Sementara itu, Agus Mukmin dicecar pertanyaan seputar komunikasinya dengan Arbab Paproeka. Agus menjelaskan, ketika sementara menunggu pengumuman hasil putusan MK terhadap hasil Pemungutan Suara Ulang (PSU) ia tiba-tiba dihubungi oleh Arbab Paproeka. “Saya kaget ditelpon oleh Arbab. Saya katakan tumben, ada apa nih saya ditelpon?,” jelas Agus.

Setelah itu, Arbab meminta kepada dirinya untuk difasilitasi untuk bertemu dengan Umar Samiun saat itu sekitar awal Juli 2012. “Saya sempat bertanya ada keperluan apa? Arbab hanya bilang usahakan saja saya untuk bisa bertemu dengan Pak Umar, ini penting,” kata Agus menirukan perkataan Arbab.

Keesokan harinya, Agus Mukmin kemudian menuju Apartemen Juanda yang menjadi Posko Oemar-Bakry saat berlangsungnya proses sengketa Pilkada di MK. Di Juanda, Agus Mukmin kemudian menyampaikan apa yang menjadi permintaan Arbab untuk bertemu. Namun permintaan Arbab ditolak oleh Umar Samiun.

Bahkan, setelah beberapa kali meminta tetapi tidak ditanggapi Umar Samiun, Arbab kemudian meminta bertemu dengan Agus Mukmin di Cibubur. “Singkat cerita, Arbab jelaskan mengenai MK dan Arbab memaksa untuk bertemu Pak Umar jika tidak maka kasus Pilkada Buton akan sama dengan Pilkada Kota Waringin Barat yang dirubah putusannya. Usai bertemu Arbab saya lalu sampaikan ke Pak Umar. Pak Umar saat itu bukannya menerima malah saya di omelin katanya kita ini sudah menang tidak usah urus itu,” tukasnya.

Arbab​ lalu meminta nomor ponsel Umar Samiun dengan maksud ingin menghubungi langsung dan menceritakan apa yang menjadi keinginan Arbab untuk bertemu dengan Umar Samiun. “Saya kasih nomornya tanpa seizin Pak Umar. Saya cuma tahu sampai disitu. Saya tidak tahu apakah Arbab menghubungi Pak Umar atau tidak,” tuturnya.

Sementara itu, Penasihat Hukum Umar Samiun, Saleh SH MH mengatakan keterangan Abu Umayah dalam persidangan berbeda dengan kenyataan yang terjadi. Tidak hanya itu, berdasarkan bukti yang diperoleh justru berbanding terbalik dengan pernyataan Abu Umayah baik didalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) maupun di persidangan.

“Abu Umayah itu mengatakan bahwa 12 Agustus 2011 malam katanya ada pertemuan di Plaza Indonesia mau membuat gugatan. Padahal, pak Samsu berdasarkan bukti dari Jaksa itu akta penerimaan dari MK ternyata terbukti tanggal 12 Agustus 2011 jam 11.56 WIB sudah masuk gugatan pasangan Oemar Bakry sementara gugatan La Uku Dani masuk pukul 14.58 WIB,” ujar Saleh usaipersidangan.

Jadi, Lanjut Saleh bagaimana mungkin dikatakan pertemuan di Plaza Indonesia untuk membahas pembuatan gugatan pasangan Oemar Bakry da La Uku Dani, sementara gugatan yang dimaksud sudah masuk sejak siang hari.

“Jadi, siang gugatan itu sudah masuk. Masa dikatakan kemudian malam baru mau dibuat gugatan. Pertemuan dilakukan sesudah gugatan masuk di MK. Makannya jika dikatakan malam, Pak Samsu meminta Dian Fariska membuat gugatan itu nggak nyambung. Bohong itu kesaksian Abu Umayah, karena saat ditunjukan bukti, dia (Abu Umaya) kaget,” tutupnya.

Dalam persidangan tersebut Umar Samiun sempat menjelaskan kepada Hakim bahwa sebelumnya ia tidak pernah melakukan pertemuan di Grand Hyatt seperti yang dikatakan Abu Umaya, melainkan di Plaza Indonesia. “Saya tidak pernah melakukan pertemuan di Grand Hyat, tapi saya sering ke Plaza Indonesia baik untuk ketemu teman, wartawan maupun mahasiswa,” tegasnya. (Fajar)

To Top