Bau Limbah PT KIMA Ganggu Aktivitas Belajar di Sekolah Ini – FAJAR.co.id
Makassar

Bau Limbah PT KIMA Ganggu Aktivitas Belajar di Sekolah Ini

Murid SD Pertiwi Nusantara belajar sambil tutup hidung karena bau pembuangan limbah PT Kima. (Foto: Suryadi / RakyatSulsel / FAJAR Group)

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Aktivitas belajar para murid SD Pertiwi Nusantara di Kelurahan Kapasa Raya, Kecamatan Bhiringkanaya, Kota Makassar, terganggu bau busuk dari pembuangan limbah industri PT Kawasan Industri Makassar (Kima) Persero.

“Kalau jam belajar, kami terganggu akibat bau. Saya dan teman-teman harus tutup hidung karena bau itu,” kata Andi Wahyuddin (13), murid SD Pertiwi Nusantara, Jumat (11/8/2017).

Berdasarkan informasi yang ia dapat dari keluarga maupun sekolah, kondisi ini sudah lama dialami siswa di sekolah tersebut.

Sebagai siswa, Andi Wahyuddin berharap pihak yayasan dan Pemkot Makassar mencarikan solusi untuk mengatasi gangguan ini. Demi kenyamanan belajar.

“Kami mau belajar yang nyaman, sama yang ada di sekolah lainnya, tidak di tempat bau,” harapanya.

Guru SD Pertiwi, Andi Hermawati, mengakui jika lokasi sekolah tak jauh dari pembuangan limbah, sehingga terjadi ketidaknyamanan bagi murid.

“Iye, betul. Karena di sebelah sekolah ini, kan jalur kanal pembuangan limbah PT Kima Persero jadi dampak ke sekolah,” ujar Hermawati.

Dia melanjutkan, apa yang dialami oleh murid SD Pertiwi, juga dirasakan warga yang tinggal di sekitar kanal pembuangan milik PT Kima itu. Bau busuk menjadi konsumsi hidung mereka setiap hari.

“Sudah jadi pemandangan setiap hari, murid-murid di sini belajar sambil menutup hidung dan mulut,” terangnya.

Hermawati menambahkan, bau busuk mirip bau bangkai hewan itu akan tercium lebih menyengat pada saat pagi dan siang hari. Apalagi, lanjut dia, ketika angin berembus kencang dari arah kanal pembuangan.

“Kalau anginnya sudah kencang, duh baunya lebih menyengat,” ucapnya.

Selain murid SD, di sekolah swasta yang dinaungi oleh YPPI-IIPI Pusat Makassar itu juga terdapat siswa setingkat KB, TK, SMP dan SMK. Mereka belajar di tengah bau menyengat limbah pembuangan ratusan perusahaan yang ada di bawah naungan PT Kima Persero.

Ketua Yayasan Harian YPPI-IIPI Pusat Makassar, Sitti Maryati Rasjid, mengaku tak bisa berbuat banyak karena tak ada lokasi lain selain di tempat tersebut yang tak jauh dari perusahaan besar KIMA. Tak ada jalan lain, katanya, selain bertahan di daerah Biringkanaya.

“Tidak ada lokasi lain. Ini kan Yayasan, jadi tidak hanya ada SD saja, tapi ada juga Kelompok Bermain (KB), TK, SMP dan SMK,” singkat Sitti Maryati Rasjid.

(suryadi/raksul/fajar)

 

Most Popular

To Top