Buntut Penganiayaan Polisi, Serda AS Diisolasi, Bripda Yoga dapat Award – FAJAR.co.id
Kriminal

Buntut Penganiayaan Polisi, Serda AS Diisolasi, Bripda Yoga dapat Award

FAJAR.CO.ID, JAKARTA- Menjadi korban aksi brutal dari anggota TNI AD di Pekanbaru, ternyata membuahkan hikmah yang besar Bripda Yoga Vernando, anggota Satlantas Polresta Pekanbaru.

Berkat kesabarannya menghadapi Serda WS, akhirnya Bripda Yoga diganjar penghargaan oleh pimpinannya, Kapolresta Pekanbaru Kombes Susanto. Award yang diterima personel Satlantas Polresta Pekanbaru itu berupa piagam, atas dasar kesabaran dan berdedikasi dalam melayani, mengayomi masyarakat pengguna jalan raya dalam pelaksanaan tugas sebagai polisi lalu lintas.

Upacara penyerahaan penghargaan itu berlangsung di Mapolresta Pekanbaru, Jumat (11/8). Saat Bripda Yoga menerima penghargaan dari Kapolresta Pekanbaru, turut hadir pula Wakapolresta, AKBP Edy Sumardi Priadinata dan Kasatlantas Polresta Kompol Rinaldo Acer.

Bripda Yoga Vernando menceritakan, peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 17.30 WIB. Saat itu dirinya yang berada di Pos Gurindam 9 tepat di Mall Pekanbaru melakukan Patroli. Sesampai di depan Star City menuju Plaza Sukaramai, dia melihat ada seorang pengendara sepeda motor yang tak menggunakan helm dan kaca spion.

Aksi ngamuk Serda WS (Youtube)

“Semula saya mengira masyarakat karena yang bersangkutan menggunakan jacket. Kemudian saya mengetahui bahwa dia seorang anggota TNI, saya berinisiatif mendahului tanpa ada gerakan apapun,” ujar Yoga.

Dari kaca spion, melihat pengendara tersebut menambahkan kecepatan untuk mengejar dirinya. “Setiba di sekitaran Plaza Sukaramai saya berhenti di samping angkot yang tengah berhenti di tengah jalan. Saya ingin menertibkan angkot itu supaya tidak mengganggu kelancaran arus lalu lintas. Akan tetapi oknum TNI itu menabrak saya dari belakang,” terangnya.

Menyadari hal tersebut, Bripda Yoda mengucapkan perkataan sopan sambil bertanya apa salah dirinya hingga menabrak dari belakang. Kemudian oknum TNI itu membalas dengan mengeluarkan perkataan yang tidak pantas.

“Dengan perasaan tenang saya berusaha mendinginkan suasana, namun oknum TNI itu emosi dan turun dari sepeda motor. Lalu menendang sepeda motor saya sebanyak enam kali dan memukul helm yang saya gunakan sebanyak empat kali, tapi dalam video yang beredar saat ini oknum itu hanya terlihat sekali memukul dan menendang saya,” imbuhnya.

Menerima perlakuan tersebut, Bripda Yoga masih bersabar, dia mengajak oknum TNI tersebut untuk menepi ke pinggir jalan. Dan kembali meminta maaf.

“Saya ajak ke pinggir. Kemudian saya mengatakan apabila salah saya minta maaf, dia sempat mengancam mengeluarkan senjata tajam. Namun tak jadi dikeluarkannya. Lalu dia kembali menendang kaki kanan, sehingga sempat oleng,” papar Yoga.

Kejadian itu mulai bereda setelah datang dua personel Satlantas Polresta Pekanbaru dari Pos Gurindam 9. Kemudian mengamankan sepeda motor dan oknum TNI tersebut. Ditambahan dia, sekitar pukul 19.30 datang Katim Intel Korem Kapten Latif datang ke Pos Gurindam 9 dengan maksud tujuan meminta maaf.

“Kapten Latif datang meminta maaf, saya dengan lapang dada dan memaafkan segala,” kata Yoga.

Pada peristiwa itu Yoga mengaku tidak melakukan perlawanan, karena memikirkan karirnya masih panjang dan memikirkan efeknya akan semakin rumit.

“Saya memikirkan karir saya dan efeknya kalau saya melawan. Saya memakai baju dinas tidak semudah ini, kalau saya melawan sama saja dengan melepaskan baju dinas,” sebutnya.

Sementara itu Kapolresta Pekanbaru, Kombes Pol Susanto mengatakan, keikhlasn dan kebasaran merupakan kunci dalam menjalan tugas. Banyak hikmat yang bisa diambil dari peristiwa yang dialami Bripda Yoga Vernando.

“Dalam menjalankan tugas ada hal yang akan mungkin terjadi. Kalau Bripda Yoga tidak tenang dan terbawa emosi maka akan lain lagi ceritanya. Yoga sudah ikhlas memaafkannya. Hikmah dari peristiwa ini kesabaran yang tulus dan ikhlas dalam melayani dan mengayomi masyarakat,” papar Susanto.

(iil/jpg/JPC)

Click to comment
To Top