Home » Nasional

Jumat, 16 Desember 2011 | 23:34:35 WITA | 861 HITS
Atur Tata Niaga Gula

Peredaran dan penjualan gula rafinasi secara bebas bisa “membunuh” petani gula. Perlu tata niaga gula lebih apik.
NASIB petani tebu di wilayah timur Indonesia bisa terancam lantaran produksi mereka tidak dapat diserap pasar. Ini merupakan dampak keberdaan gula rafinasi dan gula impor. Apalagi, awal 2012, pemerintah berencana mengimpor 300 ribu hingga 500 ribu gula.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia, Nur Khabsyin, mengungkap, perembesan gula rafinasi dan impor gula sangat berdampak pada rusaknya tata niaga gula secara keseluruhan. Termasuk berdampak buruk terhadap petani gula.
Berdasarkan temuan organisasi ini di sejumlah daerah di Indonesia, gula rafinasi atau gula yang terbuat bukan dari tebu diimpor PT Makassar Tene dengan merk Bola Manis. Gula ini beredar luas di pasaran umum di seluruh wilayah Indonesia.
Sebagai contoh, Khabsyin menyebutkan di Bali gula rafinasi ini mudah ditemukan di beberapa daerah seperti Denpasar, Tabanan, Klungkung, dan sebagainya. Sementara di Nusa Tenggara Barat, peredaran gula rafinasi dipastikan telah mencapi 90 persen. Termasuk di Maluku, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan.
Namun, Pemerintah Provinsi Sulsel punya pandangan berbeda. Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limp, cenderung mendukung Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 111 Tahun 2009 yang membolehkan impor gula rafinasi. Syahrul mengatakan, jika melihat tingkat kebutuhan dan permintaan masyarakat, tak ada jalan lain kecuali membuka ke arah itu (impor gula rafinasi, red).
“Tapi memang perlu diatur bagaimana caranya agar tetap petani tebu dan gula nasioal tidak dirugikan. Kalau melihat tingkat konsumsi dan kebutuhan, sebaiknya gula rafinasi itu dibolehkan. Tapi tentu harus diatur dengan baik tata niaga di setiap daerah,” kata Syahrul di Kantor Gubernur Sulsel, Kamis, 15 Desember.
Syahrul mengatakan, bukan mendukung sepakat atau tidak terkait Keputusan Menteri Perdagangan yang membolehkan gula rafinasi dijual secara luas, bukan saja di kalangan industri kecil dan rumah tangga, namun pemerintah pusat memang perlu pendekatan wilayah. Ada perlakuan khusus.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulsel, Irman Yasin Limpo, menambahkan, kebutuhan gula di kawasan timur Indonesia jauh di atas kemampuan tiga pabrik gula di Sulawesi yang menjadi suplayer utama. Dari tiga pabrik; Pabrik Gula Takalar, Pabrik Gula Camming, dan Pabik Gula Gorontalo, hanya mampu memproduksi 30 ribu ton pertahun. Sementara kebutuhan mencapai 120 ribu ton pertahun.
Berdasarkan angkat itu, kata dia, kawasaan timur Indonesia masih kekurangan 90 ton per tahun. Realitanya, ujar Irman, maka  gula rafinasi harusnya memang menjadi jalan keluar. Hanya saja ini memang kerap ditentang kalangan petani dan pengusaha tebu.
“Kalau memang ada pelarangan total. Maka pemerintah pusat harus membangun industri gula di kawasan timur Indonesia dengan kapasitas lebih besar. Ini tidak mudah. Yang ada saja, masih sulit ditingkatkan produksinya. Kualitas gula tebu kita juga perlu diperbaiki,” jelas Irman.
Dewan Menolak
Terkait peredaran gula rafinasi yang dijual secara bebas di pasaran, mendapat reaksi dari anggota Komisi B DPRD Sulsel, Muhtar Tompo. Dia menegaskan bahwa keberadaan gula rafinasi yang diperjualkan secara bebas akan merugikan masyarakat, khususnya petani tebu di Sulsel.
Untuk itu, Muhtar Tompo mengimbau agar Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulsel harus turun tangan mencegah gula rafinasi yang dijual secara bebas tersebut. “Pemerintah harus memperhatikan Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2004 tentang pengawasan. Disperindag harus bertindak tegas,” ujar Muhtar Tompo, malam tadi.
Dari banyak kasus, lanjut legislator Partai Hanura ini, ternyata gula rafinasi beredar bebas di pasaran. Kondisi ini dinilai sudah melenceng dari substansi keberadaan gula rafinasi yang seharusnya hanya untuk industri makanan dan minuman.
Akibat beredarnya gula rafinasi secara bebas ini lanjut Muhtar, bisa mengakibatkan petani tebu di Sulsel semakin terpojok. Padahal di Sulsel, ungkap Muhtar, ada tiga pabrik gula tebu yang memberdayakan petani lokal.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sulsel, Zulkarnaen Arief, juga mengungkap jika ketersediaan gula dan kebutuhan terhadap konsumsi masyarakat, tidak sesuai. Bahkan kendati pun pemerintah melakukan impor gula, namun Sulsel kerap tidak kebagian distribusi.
Gula rafinasi, kata dia, telah disepakati untuk digunakan dalam jumlah tertentu dengan aturan yang diberlakukan ketat. Artinya, kata dia, ada regulasi yang mengatur mengenai gula rafinasi tersebut. Namun di sisi lain, kehadirannya diperlukan. Kalau tidak ada gula rafinasi, tandasnya, justru membawa dampak bagi harga gula secara keseluruhan.
Sulsel, urai alumni Universitas Muslim Indonesia (UMI) ini, masih mengalami kekurangan gula dalam kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan lokal. “Kita berharap, seharusnya pabrik gula yang ada mampu memenuhi kebutuhan kita. Sayang, produksi yang ada sekarang tidak mampu memenuhinya. Kurang lebih hanya 40 persen saja yang mampu dipenuhi,” ujar Zulkarnaen.
Ia justru menolak jika gula rafinasi dilarang beredar. Namun peredarannya harus mengacu kepada regulasi agar bisa terkontrol dan bisa dipertanggungjawabkan pemakaiannya.
“Gula rafinasi itu salah satu solusi. Cuma kalau ada aturan yang dilanggar, saya kira itu harus melewati mekanisme (penegakan aturan, red). Setahu saya, gula rafinasi itu memang tidak bisa dikonsumsi langsung tetapi ada edaran yang menyebutkan harus melalui industri,” imbuhnya.
Sulsel dan kawasan timur Indonesia, lanjut Zulkarnaen, masih sangat butuh gula rafinasi. Malah di Jawa, gula rafinasi justru banyak beredar di pasaran untuk konsumsi umum. Ketergantungan terhadap gula rafinasi, kata dia, hanya bisa dihentikan jika pabrik gula lokal mampu menutupi kebutuhan gula masyarakat Sulsel.
Gula rafinasi bisa ditekan penggunaannya, terang Zulkarnaen, jika pabrik gula lokal bisa dimaksimalkan untuk memproduksi gula. Produksi bisa lebih digenjot dengan menggunakan beberapa terobosan, salah satunya dengan pengadaan lahan baru untuk area perkebunan tebu. Pemerintah, kata dia, bisa menawarkan jika memiliki lahan, dan Kadin akan bermitra untuk berinvestasi.
Selain itu, pemerintah juga diminta untuk memastikan lahan yang dipakai oleh pabrik gula, khususnya untuk area perkebunan tebu, agar terjamin. Di sini dimaksudkan agar dalam proses produksi gula tersebut, tidak tersendat karena ketidakjelasan lahan seperti yang terjadi selama ini. Kerap, kata dia, sudah ada hak penguasaan, namun justru bermasalah dan pemerintah tak mampu melindungi hal ini.
Solusi lain untuk mengatasi kekurangan gula di Sulsel, kata dia, bisa melibatkan beberapa kabupaten melakukan sharing dana hibah untuk pengadaan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang terkait dengan gula. Mereka lalu bermitra dengan pihak investor dalam hal manajemen dan pengelolaan BUMD tersebut dengan sistem bagi saham. Dengan begitu, pemerintah daerah juga mendapat kontribusi dari BUMD tersebut. (aci-rid-kas)

  Comment on Facebook  

Redaksi: redaksi[at]fajar.co.id
Informasi Pemasangan Iklan
Hubungi Mustafa Kufung di mus[at]fajar.co.id
Telepon 0411-441441 (ext. 1437).
 

Nasional

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA, FMC -- Lelaki ini merasa gelisah. Ia pun menulis...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Wakil Ketua Badan Kehormatan (BK) DPR,...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Langkah Menteri pendidikan dan kebudayaan...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Wakil Ketua MPR, Hajriyanto Y Thohari...

Politik

Rabu, 15 Mei 2013 MAKASSAR,FAJAR -- Bakal calon bupati Sidrap, Rusdi Masse...

Rabu, 15 Mei 2013 SENGKANG,FAJAR -- Setelah resmi mendapat rekomendasi dari...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Meski telah mengundurkan diri sebagai...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Komisi II DPR dalam masa kerja periode...

Hukum

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhirnya...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Ketua Komisi Yudisial (KY), Eman Suparman...

Rabu, 15 Mei 2013 MALANG,FAJAR -- Wajah dunia pendidikan di Malang tercoreng....

Ekonomi

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA, FAJAR -- PT PLN (Persero) menyebutkan, pemakaian...

Selasa, 14 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Ketua DPR, Marzuki Alie menyatakan kenaikan...

Selasa, 14 Mei 2013 JAKARTA, FAJAR -- Pemerintah menugaskan Perum Badan Urusan...

Hiburan

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Ashanty akan memulai perjalanan karirnya...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR – Rachel Maryam geram. Akun...

Rabu, 15 Mei 2013 BEBERAPA waktu lalu, publik sempat yakin bahwa Justin...

Selasa, 14 Mei 2013 JAKARTA -- Aktris seksi, Kiki Amalia benar-benar terpukul...

Internasional

Rabu, 15 Mei 2013 DAMASKUS,FAJAR – Lebih dari dua tahun...

Selasa, 14 Mei 2013 ROSELLA, FAJAR -- Seorang pria Chicago ditahan kepolisian...

Selasa, 14 Mei 2013 SEOUL,FAJAR - Keputusan mengejutkan muncul dari rezim Kim...

Senin, 13 Mei 2013 PARIS,FAJAR - Seorang turis Perancis yang baru saja kembali...