Home » Makassar Hari Ini » Gaya Hidup

Minggu, 22 April 2012 | 00:41:34 WITA | 986 HITS
Menyeruput Kopi di Warkop Hainan

MAKASSAR, FAJAR -- Dulu dan kini, ngopi (minum kopi, red) selalu digandrungi. Cita rasa yang pekat diselubung  aroma wangi, mencipta nikmat tiada terperi. Kopi tak sekadar minuman pelepas selera. Kopi bermetamorfosis sebagai penyambung silaturahmi dalam bingkai warung kopi.

Ternyata, jejak masa lalu warung kopi di Kota Daeng hingga eksistensinya kini, tak lepas dari peranan etnis Tionghoa. Orang-orang asal Hainan, sebuah pulau yang juga  salah satu provinsi di Republik Rakyat China (RRC) inilah yang mula mengenalkan warung kopi. Bagaimana histori warung-warung kopi Hainan di kota ini?

Larikan awan putih terapung di langit biru Pantai Losari, Rabu, 18 April.  Terik matahari siang itu, pukul 12.15 Wita memerihkan kulit. FAJAR melintas di sepajang Pantai Losari. Menyusuri Jalan Penghibur hingga Jalan Pasar Ikan. Mencari  salah satu warung kopi  bersejarah di Kota Daeng.

Di pertigaan Jalan Pasar Ikan dan Jalan Haji Bora, di situlah warung kopi (warkop)  itu berada. Mudahnya lagi, kalau Makassar Golden Hotel (MGH) menjadi patokan Anda. Untuk mencari posisi pasti letak warkop Hainan ini.

Namanya Warkop Tong San. Letaknya di sudut pertigaan jalan. Reklame identitas warkop dengan sponsor sebuah merek rokok, terpancang. 

Konstruksi bangunan warkop masih model lama dengan bentuk setengah huruf U. Warkop bercat merah-putih tulang itu terdiri dua lantai. Teras lantai dua memamerkan jendela-jendela tinggi dengan susunan bilah kayu khas jendela tempo dulu.

Aroma kopi nan legit menguapkan wangi ketika menapaki ruang utama warkop. Gelas-gelas bertaburan di atas meja. Sebagian isinya ludes. Sebagian masih penuh terisi cairan kopi susu.

Pengunjung yang didominasi Kaum Adam duduk melingkar. Ada juga yang memilih duduk sendiri. Menyeruput nikmatnya kopi manis diselingi isapan kretek dalam-dalam. Asap rokok mengawan.

Di pojok ruangan, tampak seorang pelayan mendidihkan air dalam panci terbuat dari kuningan. Air itu harus selalu dalam keadaan panas demi kecepatan layanan pelanggan. Selain panci, di “dapur” yang terbuka itu dilengkapi peralatan masak lainnya seperti teko, saringan dan gayung.

Racikan minuman kopi tampak sederhana. Bubuk kopi cukup disiram dengan air mendidih. Diaduk lalu disaring. Disiram ke dalam gelas yang telah berisi susu kental. Tetapi sesungguhnya, di balik kesederhanaan proses racikan  itu, setiap warkop Hainan punya rahasia dapur tersendiri. Tak heran,  cita rasa kopi di berbagai warkop Hainan berbeda.

Racikan tradisional kopi pertama kali di warkop Tong San mula dicipta seorang nenek bernama Liem Sie (1896-1996). Nenek Liem Sie asli warga RRC. Demikian diungkap Tuty Holis, generasi ketiga di keluarga ini.

Sambil memejamkan mata  berusaha mengingat-ingat, Tuty yang ramah itu berbagi kisah sekira tahun 1943, warkop itu berdiri. “Tempatnya tidak berubah. Sekitar tahun itu, di depan warkop ada pasar ikan,” ucapnya sambil meminta kepastian dari suaminya, Johnny Lie. Anak ketiga dari tujuh bersaudara pasangan Johan Holis (1936-2005) dan Merlyana Wangi (1938-2004) menyebut racikan kopi  berasal dari jenis kopi Toraja Arabica.

“Pelanggan warkop banyak nelayan dan penjual ikan. Dulu melayani sejak pukul 04.00 dinihari sampai sore. Sekarang, buka baru jam 09.00 pagi,” terang wanita kelahiran Makassar, 11 Oktober 1960.

Tuty yang belajar meracik kopi sejak duduk di bangku SMA  mengatakan, Tong San sebagai nama warkop  berarti Matahari Terbit. “Itu bahasa Tioghoa. Mungkin maksud nenek saya karena pengunjung yang menikmati kopi itu di pagi hari. Hehe,” katanya tertawa renyah.

Warkop lainnya yang mengusung konsep racikan tradisional yakni  Warkop Phoenam. Warung kopi yang berlokasi di Jalan Boulevard Ruko Topaz Blok F 33 C Panakkukang ini tetap berkibar di usianya yang menapak 66 tahun. Bagi Dedy Liongadi, 35 tahun, generasi ketiga dari almarhum Liong Thy Hiong, pendiri Phoenam-konsep warung kopi yang diusungnya tak pernah berubah sejak warkop ini didirikan. “Meracik kopi secara sederhana,” demikian kata Dedy ditemui beberapa waktu lalu. 

Tak hanya racikan tradisionalnya, khas Phoenam juga terletak pada sajian menu kopi andalan yang tak pernah berubah; kopi hitam atau kopi susu yang berbusa dan roti isi selai Srikaya. Menu sepasang ini selalu dicari bagi pelanggan yang mampir di warkop itu.

Selain dua warkop Hainan yang legendaris tadi, ada juga warkop Hai Hong yang dalam bahasa Mandarin berarti menembus laut. Warkop Hai Hong juga berdiri di sudut pertigaan jalan, yaitu Jalan Bonerate dan Jalan Serui.

Diceritakan Vonny,35 tahun, generasi ketiga, warkop Hai Hong didirikan oleh kakek-neneknya, Than Njap Hai dan Chen Liang Yi pada tahun 1945. “Kakek nenek mewarisi keahlian meracik kopi itu ke ayah saya, Than Njap Ing lalu diturunkan ke saya,” katanya yang diangguki ibunya yang duduk di sebelahnya, Mok Su Joat.

Alumni Fakultas Ekonomi Unhas ini mengisahkan, orang-orang dari Pelabuhan Makassar dari dulu hingga kini kerap mampir sarapan atau sekadar kongkow di warkop ini. “Pegawai di kantor-kantor area pelabuhan pagi-pagi sudah ke sini. Rata-rata mereka pesan kopi susu dan nasi goreng,” ucapnya.

Warkop Hainan lainnya, Warkop Sahabat, tak mau ketinggalan. Warkop yang beralamat di Jalan Laga Ligo No 26 ini lagi-lagi berdiri di sudut perempatan Jalan Lagaligo dan Jalan Lasinrang. Pasangan suami istri, Heng Kok Shing, 36 tahun dan Limce Salefu, 36 tahun, menyebut ramuan kopi di warkop itu diciptakan kali pertama oleh nenek  Liem Ai Hwa sekira tahun 1965.

“Warkop ini dulu pertama kali didirikan Heng Khen Tip tahun 1963-1964. Tapi kembali ke RRC maka digantikan nenek Liem yang meneruskannya,” urai Heng Kok Shing.

Orang tua ayah tiga anak ini, Heng Zeng Soan (78 tahun) dan Oei Lian Hwa (73 tahun) yang meneruskannya. “Lalu ilmu racikannya turun ke saya. Tapi saya belum rencanakan anak-anak saya mewarisi usaha ini,” paparnya sembari meminta FAJAR menyeruput kopi susu yang disajikan lengkap roti selai srikaya.

Bagi FAJAR, ciri khas rasa kopi susu di warkop ini lebih pekat dibanding testimoni warkop lainnya.  Warkop ini juga kerap disambangi pejabat.

Nah, kalau warkop Hainan yang satu ini boleh dikata tidak terlalu tampak dibanding warkop lainnya. Tempatnya memang strategis. Berada di pertigaan Jl Sulawesi dan Jl Sumba, Kelurahan Pattunuang, Kecamatan Wajo. Warkop ini sangat sederhana. Tanpa reklame nama. Dalam ruangan  hanya terisi lima meja. Juga, tutup relatif lebih cepat maksimal pukul 11.30 Wita.

Nama warkop ini, Bo Leng. Sesuai nama pemiliknya yang kini berusia 65 tahun. Sayang, saat itu sang pemilik  dalam kondisi kurang sehat sehingga FAJAR tak berhasil menemui.

Menurut Robby, 51 tahun, sahabat Bo Leng, warkop ini diperkirakan berdiri tahun 1950-an. Si pendiri warkop, Wi Kok Ciauw dan Tan Tsu Siang, tak lain orang tua Bo Leng sendiri.

“Sebenarnya, Bo Leng yang meracik sendiri kopi. Tapi beliau lagi sakit jadi diwakili asistennya, Pak Rahman,” jelasnya.

Rahman, warga Jalan Satando itu tampak senyum-senyum. Kopi racikan Bo Leng terdiri jenis Robusta dan Arabica. “Sudah lama saya mengabdi di warkop ini. Sejak orang tua saya, Lamang Kartadi yang membantu ayahnya Bo Leng,” jelasnya.  Dilanjutkan Robby, warkop itu selalu ramai. Tak hanya diramaikan etnis Tionghoa namun juga warga pribumi.

Peneliti Multi Etnik  Sulsel khususnya Tionghoa,  Shaifuddin Bahrum memaparkan, tradisi minum teh dan arak bermula dari orang Jepang yang diturunkan kepada orang China. “Seperti yang kita lihat di film-film Mandarin, pemainnya melakukan adegan minum arak di warung. Inilah yang coba diadaptasikan ke Indonesia ketika orang China itu bermigrasi,” jelasnya ketika dihubungi, Jumat, 20 April.

Shaifuddin melanjutkan, ketika orang China tiba di nusantara khususnya Sulsel, mereka melihat orang Bugis Makassar suka meminum kopi. Kebiasaan minum di warung itu lalu diadaptasikan menjadi kebiasaan minum kopi di warung kopi. “Inilah akulturasi budaya yang melahirkan budaya baru,” bebernya.

Dari pantauan FAJAR pada lima warkop Hainan, pengunjung dari berbagai etnis berbaur damai. Warkop Hainan telah menjadi mediasi ruang persahabatan dan silaturahmi. Tak hanya pengunjung dan penjual, namun antara majikan dan karyawan pun yang berbeda etnis, kerukunan itu terlihat indah. Mungkin  seperti yang dicontohkan pemilik warkop Bo Leng. Dan, kopi terbaik tetap menyisakan pahit di lidah. (yan)

  Comment on Facebook  

Redaksi: redaksi[at]fajar.co.id
Informasi Pemasangan Iklan
Hubungi Mustafa Kufung di mus[at]fajar.co.id
Telepon 0411-441441 (ext. 1437).
 

Nasional

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA, FMC -- Lelaki ini merasa gelisah. Ia pun menulis...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Wakil Ketua Badan Kehormatan (BK) DPR,...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Langkah Menteri pendidikan dan kebudayaan...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Wakil Ketua MPR, Hajriyanto Y Thohari...

Politik

Rabu, 15 Mei 2013 MAKASSAR,FAJAR -- Bakal calon bupati Sidrap, Rusdi Masse...

Rabu, 15 Mei 2013 SENGKANG,FAJAR -- Setelah resmi mendapat rekomendasi dari...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Meski telah mengundurkan diri sebagai...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Komisi II DPR dalam masa kerja periode...

Hukum

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhirnya...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Ketua Komisi Yudisial (KY), Eman Suparman...

Rabu, 15 Mei 2013 MALANG,FAJAR -- Wajah dunia pendidikan di Malang tercoreng....

Ekonomi

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA, FAJAR -- PT PLN (Persero) menyebutkan, pemakaian...

Selasa, 14 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Ketua DPR, Marzuki Alie menyatakan kenaikan...

Selasa, 14 Mei 2013 JAKARTA, FAJAR -- Pemerintah menugaskan Perum Badan Urusan...

Hiburan

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Ashanty akan memulai perjalanan karirnya...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR – Rachel Maryam geram. Akun...

Rabu, 15 Mei 2013 BEBERAPA waktu lalu, publik sempat yakin bahwa Justin...

Selasa, 14 Mei 2013 JAKARTA -- Aktris seksi, Kiki Amalia benar-benar terpukul...

Internasional

Rabu, 15 Mei 2013 DAMASKUS,FAJAR – Lebih dari dua tahun...

Selasa, 14 Mei 2013 ROSELLA, FAJAR -- Seorang pria Chicago ditahan kepolisian...

Selasa, 14 Mei 2013 SEOUL,FAJAR - Keputusan mengejutkan muncul dari rezim Kim...

Senin, 13 Mei 2013 PARIS,FAJAR - Seorang turis Perancis yang baru saja kembali...