Home » Feature » Feature

Jumat, 20 Juli 2012 | 00:46:19 WITA | 2895 HITS
Bedah Buku Memoar Brigjen Purnawirawan Andi Oddang (2-Selesai)
Ungkap Fakta Kahar Muzakkar

Laporan: Hasbi Zainuddin

Tulisan tentang sejarah selalu lekat dengan kesan subjektivitas. Makanya, selalu hadir kebenaran lain dengan versi berbeda. Namun, itu menjadi lain ketika dia ditulis oleh seorang pelaku sejarah.

Bagi Andi Oddang, kebenaran tentang catatan hidupnya selama menjadi Pejuang Ekspedisi TRIPS, adalah kebenaran yang telah menjadi miliknya sendiri. Jika subjektif, toh dia adalah pelaku sejarah. Saksi yang sekaligus menjadi penutur langsung sejarah itu.

Dalam catatan yang kini menjadi sebuah buku memoarnya, Oddang mengungkap banyak fakta sejarah, yang belum pernah diceritakan dalam buku-buku sejarah lain. Catatan tersebut patut menjadi referensi tepercaya. Betapa tidak, Oddang cukup banyak terlibat dalam beberapa peristiwa sejarah Sulawesi Selatan, yang kebenarannya hingga sekarang masih terus mengundang spekulasi.

Fakta-fakta itu yang menarik perhatian cukup banyak audiens yang hadir dalam bedah buku Memoar Andi Oddang, di Gedung Graha Pena, Rabu 18 Juli lalu. Salah satu fakta sejarah itu adalah, spekulasi tentang perjuangan atau pemberontakan Kahar Muzakkar.

Untuk peristiwa tersebut, Oddang tahu betul. Dia adalah penghubung yang bertugas mengantarkan surat antara Mayor M Jusuf Amir (lebih dikenal Jenderal Jusuf, red), dengan Kahar Muzakkar. Tahun 1951, dia bahkan diutus ke markas Kahar Muzakkar di Baraka, Enrekang, yang telah memimpin Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Sebuah momentum yang menjadi awal perundingan antara Kahar dengan Jenderal Jusuf.

"Surat itu berisi tentang ajakan pemerintah kepada Kahar untuk berunding, agar Kahar tidak lagi masuk ke hutan (memberontak). Akhirnya, Pak Jusuf dan Kahar sepakat melakukan pertemuan di wilayah Enrekang," kata Oddang, dalam bedah buku tersebut. Saat mengantarkan surat dan diterima Kahar, Oddang cukup beruntung. Pasalnya, dua utusan yang sebelumnya diminta mengantarkan surat tewas terbunuh oleh tentara Kahar.

Menariknya, Oddang tidak menulis Kahar sebagai seorang pengkhianat seperti banyak ditulis sejumlah buku sejarah lainnya. Oddang menyebut, "Kahar ingin membicarakan tentang CTN (Corps Tjadangan Nasional, salah satu satuan TNI, red). Kahar mengusulkan untuk membentuk satu brigade dari CTN, dan dilatih oleh Depo Batalyon.

Anggotanya diseleksi, dan yang tidak memenuhi persyaratan akan kembali ke masyarakat. Dengan begitu, Kahar akan mengundurkan diri  dari militer," kata Oddang. Pasalnya, para pejuang muslim yang menjadi Prajurit Kahar, menjadi tentara biasa ketika direkrut menjadi CTN. Sayangnya, permintaan membentuk brigade itu ditolak oleh Panglima Kolonel A Kawilarang.

Sebelum mengusulkan pembentukan Brigade tersebut, Anggaran Negara untuk pasukan CTN sebesar Rp18 juta juga tertunda. Selain itu, Kahar Muzakkar juga pernah kecewa dengan isi persetujuan pengangkatannya sebagai Wakil Komandan Resimen 23 di bawah Letkol Sukowati. "Padahal, sebelumnya, Kahar pernah menjadi Komandan Resimen dengan pangkat Letnan Kolonel di Jogjakarta. Sedang Sukowati saat itu masih berpangkat Mayor," kata dia.

Padahal, menurut Oddang, Kahar cukup banyak berjuang untuk Indonesia. "Dia berhasil membentuk Tentara Republik Indonesia Persiapan Sulawesi, dan mengirim ekspedisi ke Sulawesi Selatan. Dia pernah membantu Komando Group Seberang, dan semua tugasnya dilaksanakan dengan baik. Dalam suratnya yang dikirim pada tanggal 30 April 1950, Kahar mengaku siap dihukum jika tudingan terhadapnya terbukti itu demi kecintaannya terhadap Negara," kata dia.

Oddang menjelaskan, terlepas dari sikap politik Kahar Muzakkar, menurut dia, Kahar adalah kawan dan mantan atasan yang hangat dan bersahabat.

Saat ditanya tentang spekulasi kematian Kahar, Oddang enggan berspekulasi. "Yang mati tertembak dan dilarikan ke Rumah Sakit Pelamonia, waktu itu memang Kahar. Itu menurut kesaksian Jenderal Yusuf, dan beberapa kerabat yang datang menyaksikan mayatnya," kata Oddang.

Selama ini, banyak yang berpendapat kematian Kahar sengaja direkayasa, karena hubungan emosional yang erat antara Kahar dan Jenderal Yusuf, yang menjadi pemimpin operasi kilat pada masa itu. Skenario rekayasa itu diduga disusun saat Jenderal Yusuf dan Kahar melakukan pertemuan khusus di Bonepute.

Menurut Pakar Sejarah Universitas Negeri Makassar, Prof Dr Ima Kesumah, buku memoar Andi Oddang telah mengungkap bahwa, cukup banyak orang Sulsel yang ikut berperang dalam perjuangan melawan penjajah di Pulau Jawa. "Fakta ini yang tidak tertulis dalam buku-buku sejarah. Bahwa, ternyata ada beberapa nama yang cukup besar di Jogjakarta, dan itu adalah orang Sulsel.

Seperti Letnan Rahman Dg Siala, Lettu Mancong, dan Lettu Hasan Lagulu," katanya. Dalam buku tersebut, Oddang menulis kisahnya saat berangkat ke Jogjakarta bersama 23 pejuang lain dengan perahu jenis Lambo. Menurut Ima, buku tersebut telah menunjukkan bahwa sejarah tidak hitam putih, dan selalu banyak warna.

Budayawan Sulawesi Selatan, Asdar Muis RMS, mengkritik, buku tersebut masih perlu direvisi. "Masih banyak catatan-catatan yang bocor-bocor, belum lengkap. Saya usulkan, buku ini ditulis ulang, tapi dengan menghadirkan orang-orang lain yang banyak mengetahui sejarah itu, mendampingi pak Andi Oddang," kata dia. Menurut Asdar, kehadiran orang-orang yang tahu sejarah, setidaknya membantu ingatan Andi Oddang, agar catatan tersebut lebih lengkap. (*/sil)

  Comment on Facebook  

Redaksi: redaksi[at]fajar.co.id
Informasi Pemasangan Iklan
Hubungi Mustafa Kufung di mus[at]fajar.co.id
Telepon 0411-441441 (ext. 1437).
 

Nasional

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA, FMC -- Lelaki ini merasa gelisah. Ia pun menulis...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Wakil Ketua Badan Kehormatan (BK) DPR,...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Langkah Menteri pendidikan dan kebudayaan...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Wakil Ketua MPR, Hajriyanto Y Thohari...

Politik

Rabu, 15 Mei 2013 MAKASSAR,FAJAR -- Bakal calon bupati Sidrap, Rusdi Masse...

Rabu, 15 Mei 2013 SENGKANG,FAJAR -- Setelah resmi mendapat rekomendasi dari...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Meski telah mengundurkan diri sebagai...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Komisi II DPR dalam masa kerja periode...

Hukum

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhirnya...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Ketua Komisi Yudisial (KY), Eman Suparman...

Rabu, 15 Mei 2013 MALANG,FAJAR -- Wajah dunia pendidikan di Malang tercoreng....

Ekonomi

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA, FAJAR -- PT PLN (Persero) menyebutkan, pemakaian...

Selasa, 14 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Ketua DPR, Marzuki Alie menyatakan kenaikan...

Selasa, 14 Mei 2013 JAKARTA, FAJAR -- Pemerintah menugaskan Perum Badan Urusan...

Hiburan

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Ashanty akan memulai perjalanan karirnya...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR – Rachel Maryam geram. Akun...

Rabu, 15 Mei 2013 BEBERAPA waktu lalu, publik sempat yakin bahwa Justin...

Selasa, 14 Mei 2013 JAKARTA -- Aktris seksi, Kiki Amalia benar-benar terpukul...

Internasional

Rabu, 15 Mei 2013 DAMASKUS,FAJAR – Lebih dari dua tahun...

Selasa, 14 Mei 2013 ROSELLA, FAJAR -- Seorang pria Chicago ditahan kepolisian...

Selasa, 14 Mei 2013 SEOUL,FAJAR - Keputusan mengejutkan muncul dari rezim Kim...

Senin, 13 Mei 2013 PARIS,FAJAR - Seorang turis Perancis yang baru saja kembali...