Home » Opini dan Interaktif » Opini

Jumat, 27 Juli 2012 | 00:08:34 WITA | 394 HITS
Puasa: Sebuah Tradisi Spiritual

Oleh: Sabara Nuruddin(Peneliti Bidang Kehidupan Keagamaan Balai Litbang Agama Makassar)
  
Tak ada satu pun tradisi mistik atau spiritualitas yang tidak menyertakan puasa sebagai ritus utamanya. Jika kita mempelajari tradisi mistisisme atau spiritualitas di keyakinan mana pun, maka kita pasti menjumpai puasa sebagai salah satu ritus terpenting.

Jika kita ingin mendapatkan ilmu-ilmu supranatural, baik yang “hitam” maupun yang “putih”, maka hampir dipastikan puasa menjadi tirakat yang terpenting. Semua tradisi mistik dan spiritual mengenal puasa sebagai media yang paling efektif untuk mengantarkan manusia melepaskan diri dari belitan kepadatan materi menuju pengelanaan alam mistik atau spiritual.

Alam materi sering dikontradiksikan dengan alam spiritual dan alam mistik atau alam batin/alam rupa. Alam spiritual atau alam mistik adalah dimensi yang halus dari alam ini, sedangkan alam materi merupakan jenjang alam terendah yang berdimensi kasar. Oleh karena itu, untuk menembus alam spiritual atau alam mistik, manusia harus melakukan pelampauan terhadap alam materi. Hal ini dilakukan dengan cara mengendalikan, menekan, mengurangi, dan bahkan membunuh hasrat dan kecenderungan-kecenderungan ragawi untuk selanjutnya berhasrat pada kecenderungan supranatural atau adiduniawi.

Tradisi spiritual atau mistisisme sangat menekankan pada latihan atau riyadhah-riyadhah yang sangat ketat dalam ajarannya. Latihan atau riyadah itu bertujuan untuk menajamkan sisi batiniah manusia, dilakukan dengan memperhatikan banyak pantangan-pantangan yang sangat keras. Pantangan-pantangan itu berlaku baik secara temporer maupun permanen, pantangan tersebut berkisar pada upaya menahan atau menekan hasrat-hasrat biologis atau kecenderungan ragawi manusia lainnya. Seperti makan, minum, seks, bahkan tidur dan bicara pun dilarang untuk dilakukan.

Berdasarkan penjelasan tersebut, dalam tradisi spiritual maupun mistisisme, puasa menjadi media penting untuk melatih kecenderungan jiwa manusia dalam hal menekan hasrat-hasrat instingtif material guna mengantarkan jiwa manusia menembus petala alam spiritual atau alam mistik. Dengan puasa, manusia menjadi terlatih untuk mengendalikan hasrat ragawi yang liar, sehingga mampu membebaskan jiwanya untuk “terbang” dan merasakan kedalaman dan keluasan dimensi alam batinnya yang amat halus, sehingga pelakunya mampu menyerap kekuatan alam batin yang amat dahsyat.

Islam sebagai agama yang juga sangat menekankan spiritualitas sebagai inti ajarannya berdasarkan metafisika (Tauhid) sebagai pandangan dunianya. Tentu saja menjadikan puasa sebagai salah satu pilar penting yang mengantarkan manusia pada ketinggian derajat kemanusiaan (takwa). Namun, puasa dalam tradisi spiritualitas Islam berbeda dengan yang lain. Puasa tidak ditujukan untuk memperoleh ilmu kedigdayaan mistikal atau puasa tidak ditujukan pada hal apapun selain Allah sebagai tujuannya.

Puasa sebagai ibadah yang bersifat sangat pribadi antara seorang manusia dengan Tuhannya, melatih kejujuran dan keikhlasan seorang hamba untuk berbakti pada Sang Khalik. Dan Puasa dalam tradisi Islam adalah bentuk implementasi kecintaan orang-orang beriman kepada Kekasih Sejatinya. Sehingga wajarlah dalam sebuah hadis qudsi Allah berfirman: “Puasa untukKu dan Aku sendiri yang akan menilainya”.
 
Pergulatan Akbar Melawan Diri

Tidak ada pergulatan yang paling berat bagi manusia, selain pergulatan dengan dirinya sendiri. (Thuong Huo Dhuong) Alkisah sepulang dari Badar, perang akbar pertama antara umat Islam dan kaum kuffar, di mana pasukan muslim yang jumlah tiga kali lebih kecil berhasil memperoleh kemenangan yang gilang-gemilang. Tiba-tiba di tengah sorak-sorai dan yel-yel kemenangan, Rasulullah saw bersabda yang memecah eforia massa, “Sesungguhnya kita baru saja dari jihad kecil dan bersiaplah untuk jihad yang lebih besar”.

Para sahabat pun heran dan bertanya; “Ya Rasulullah, perang apa lagi yang lebih besar dari perang Badar ini?”, Lelaki agung itu menjawab; “Jihad akbar (perang besar) adalah jihad melawan hawa nafsumu”.
Puasa merupakan riyadhah yang lebih ultim dari sekadar laku tapa, karena puasa memantik nalar rasional sekaligus menyuluh rasa cinta yang meluap-luap dari seorang insan.

Kesadaran rasional terpantik untuk melawan bengkalai diri yang paling berpotensi menghadang jalannya hijrah kemanusiaan. Itulah hawa nafsu yang mengarahkan manusia pada bu’dul bahimi (kecenderungan syaitaniyah) yang dehumanis. Puasa menekankan manusia untuk mengendalikan keliaran hawa nafsu, sehingga akal dapat menjadi penunggang yang baik yang mampu mengontrol diri untuk antarkan jiwa berjalan pada jalannya.

Pada level awam, puasa adalah sebuah pergulatan batin antara manusia dengan hawa nafsunya. Hal ini ditujukan untuk mengendalikan hawa nafsu agar manusia tak terseret pada kesia-siaan dan tidak terjebak pada kecenderungan pada bayang-bayang fatamorgana dunia. Pada level yang khusus, puasa adalah sebuah proses refleksi kedirian manusia untuk mendengar suara-suara kebenaran dari kedalaman nuraninya.

Itulah sebabnya, bagi kaum khawwas, puasa tidak sekedar menahan hasrat instingtif jasmaniyah secara fisikal semata, tapi juga mengendalikan kecenderungan-kecenderungan ragawiyah yang terbetik di pikiran dan dihatinya. Bagi kaum khawwas, puasa tak sekadar menahan lapar dan dahaga, tapi puasa adalah proses “membunuh” segala potensi-potensi bengkalai kejiwaan.

Bagi kaum khawwasul khawwas, puasa adalah proses untuk menyingkap kebenaran sejati dari bisik sirr al-asrar dari kedalaman kalbu yang paling sublim. Oleh karena itu, puasa bagi kaum khawwasul khawwas adalah proses “peniadaan” dari segala selain Dia, agar dalam pikiran dan hati kita hanya ada Dia dan hanya tertuju padaNya, tidak untuk selain Dia.

  Comment on Facebook  

Redaksi: redaksi[at]fajar.co.id
Informasi Pemasangan Iklan
Hubungi Mustafa Kufung di mus[at]fajar.co.id
Telepon 0411-441441 (ext. 1437).
 

Nasional

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA, FMC -- Lelaki ini merasa gelisah. Ia pun menulis...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Wakil Ketua Badan Kehormatan (BK) DPR,...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Langkah Menteri pendidikan dan kebudayaan...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Wakil Ketua MPR, Hajriyanto Y Thohari...

Politik

Rabu, 15 Mei 2013 MAKASSAR,FAJAR -- Bakal calon bupati Sidrap, Rusdi Masse...

Rabu, 15 Mei 2013 SENGKANG,FAJAR -- Setelah resmi mendapat rekomendasi dari...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Meski telah mengundurkan diri sebagai...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Komisi II DPR dalam masa kerja periode...

Hukum

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhirnya...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Ketua Komisi Yudisial (KY), Eman Suparman...

Rabu, 15 Mei 2013 MALANG,FAJAR -- Wajah dunia pendidikan di Malang tercoreng....

Ekonomi

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA, FAJAR -- PT PLN (Persero) menyebutkan, pemakaian...

Selasa, 14 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Ketua DPR, Marzuki Alie menyatakan kenaikan...

Selasa, 14 Mei 2013 JAKARTA, FAJAR -- Pemerintah menugaskan Perum Badan Urusan...

Hiburan

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Ashanty akan memulai perjalanan karirnya...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR – Rachel Maryam geram. Akun...

Rabu, 15 Mei 2013 BEBERAPA waktu lalu, publik sempat yakin bahwa Justin...

Selasa, 14 Mei 2013 JAKARTA -- Aktris seksi, Kiki Amalia benar-benar terpukul...

Internasional

Rabu, 15 Mei 2013 DAMASKUS,FAJAR – Lebih dari dua tahun...

Selasa, 14 Mei 2013 ROSELLA, FAJAR -- Seorang pria Chicago ditahan kepolisian...

Selasa, 14 Mei 2013 SEOUL,FAJAR - Keputusan mengejutkan muncul dari rezim Kim...

Senin, 13 Mei 2013 PARIS,FAJAR - Seorang turis Perancis yang baru saja kembali...