Home » Metro News » Yang Lain

Minggu, 28 Oktober 2012 | 01:51:25 WITA | 594 HITS
Satire dalam Gandrang Bulo

MAKASSAR, FAJAR -- Tarian tradisional ini seolah tak lekang dengan atmosfer ragam tari modern yang merasuk Sulsel. Kerap dimainkan dalam pelbagai hajatan.  Mulai pernikahan, peresmian event hingga diusung guna mengikuti festival kesenian. 

Tarian ini amat populer. Dimainkan beberapa pemain dengan gesture tubuh yang kocak. Diiringi tabuhan bulo (bambu) dalam lagu-lagu bernada satire. Dialog yang terlontar dari para penarinya berisi lawakan realita hidup sehari-hari. Kadang mengocok perut penonton, kadang pula membuat penonton terkesima.  Ya, tarian itu bernama Gandrang Bulo.

Seni tradisional di Sulsel tak lepas dari Gandrang Bulo. Gaungnya bahkan  telah dipentaskan puluhan tahun silam di Jakarta.  “Di zaman Walikota Patompo, ibu saya (Ida Joesoef Madjid) pernah memboyong seribu penari Gandrang Bulo ke Jakarta. Penari Gandrang Bulo ini mengiringi peresmian Taman Mini Indonesia Indah,” jelas Iin Joesoef Madjid, Ketua Yayasan Anging Mammiri (YAMA)Sulsel,  Sabtu, 27 Oktober, siang.

Itu baru satu cerita. Kebesaran Gandrang Bulo lainnya dibuktikan dengan aktifnya kesenian ini diusung dalam ragam festival internasional. “Saya sudah dua kali kali pentas Gandrang Bulo di Afrika, sekali di Malaysia dan Singapura,” beber Usman Majid, satu penari Gandrang Bulo dari Sanggar Remaja Paropo.

Kepopuleran Gandrang Bulo memantik tanya, bagaimana legenda tari tradisional ini sebenarnya?

Menelusuri legenda Gandrang Bulo, tak lepas dari cikal bakal lahirnya Gandrang Bulo itu sendiri. Konon, Gandrang Bulo lahir  di Kampung Paropo, sebuah kampung yang terletak di Kelurahan Paropo, Kecamatan Panakkukang.

Nama Paropo pun disematkan dalam satu bait lagu  Gandrang Bulo berbunyi  “Bulo batti-battikna Paropo ilolo gading igading na malola. Si ka sombo-sombo lekbak. Siriki iya massidendang baule. Tani pare alla gandrang bulo”.  Arti kalimat berbahasa Makassar ini kurang lebih : Bambu dengan bintik-bintik di permukaannya hanya ada di Paropo. Bambu yang muda dan berwarna kuning itu tumbuh  di Paropo dalam satu rumpun. Malu rasanya kalau bambu itu tidak dibuat gendang bambu”.

Tiba di kampung yang pernah diusul menjadi Kampung Budaya di Sulsel itu, Jumat, 26 Oktober, FAJAR bertemu dengan Dg Naba. Nama asli lelaki tua itu Sayyidina Ali Dg Naba. Dialah pemilik sekaligus Pembina Sanggar Remaja Paropo yang beralamat di  Jl Paropo II No 5. Sanggar ini adalah satu dari dua sanggar di Paropo yang aktif mementaskan Gandrang Bulo. Sanggar lainnya adalah  Sanggar Seni Tradisional Ilologading Paropo milik Dg Aca.

Dg Naba kini berusia 85 tahun. Dia lahir dan besar di kampung Paropo. Dulu, kampung ini masih masuk wilayah administratif Gowa. Di era pemerintahan Walikota Makassar Patompo, barulah wilayah ini dipecah dan Paropo masuk wilayah Makassar.

Ingatan Dg Naba masih kuat. Tubuhnya juga masih tegap berisi. Bahkan, gurat keriput kakek tiga cicit ini belum  tergambar jelas di wajahnya. Tuturnya lancar berkisah. 

Malam itu, Dg Naba menyenarai kisah. Dia dibantu cucu-cucu dan keponakannya menerjemahkan dialeknya yang kental berbahasa Makassar. Para cucu dan keponakan ini tak lain adalah anggota Sanggar Remaja Paropo. Ada Usman Majid, 43 tahun, Akbar Siama, 24 tahun, Hamido,51 tahun, dan Sudirman Majid, 40 tahun. Dalam pementasan Gandrang Bulo, mereka  berperan sebagai penari, pemain musik dan pelawak.

Asal Gandrang Bulo

Gandrang Bulo yang merupakan rangkaian tari-tarian  di dalamnya tak lepas pula dari ihwal munculnya tari Pepe-pepeka ri Makka. Konon, tari Pepe-pepeka ri Makka cikal bakal  tari Gandrang Bulo. Tari ini diperkirakan masuk di Sulsel abad V. “Sekitar tahun 500-an  tarian ini masuk di Sulsel.  Diadopsi dari kisah Nabi Ibrahim yang bersentuhan dengan api,” demikian cerita Dg Naba yang diperjelas oleh cucunya, Usman Majid.

Namun ada pula dugaan kisah berbeda. Tari Pepe-pepeka ri Makka adalah tarian yang dilakoni masyarakat saat itu sebagai wujud kedekatannya dengan alam yang terdiri empat unsur, api, udara, tanah dan air.

“Orang dulu kan memiliki keyakinan yang tinggi dengan kekuatan alam sekitar. Melalui tarian, mereka langsung bersentuhan dengan alam,” lanjut Usman.

Seiring waktu, tarian Pepe-pepeka Ri Makka ini berkembang. Entah bagaimana ceritanya, tarian ini menjadi bagian rangkaian Gandrang Bulo.  Awalnya pun Gandrang Bulo belumlah menabuh gendang tapi yang ditabuh adalah kentungan bambu. Sejenis bambu namun dengan bentuk yang lebih sederhana.

Gandrang yang berarti menabuh dan bulo adalah bambu  ini juga diperkirakan  hadir pada abad XVI atau di zaman pemerintahan  Raja Gowa ke-16  Sultan Hasanuddin. Praduga ini berasal dari satu bait lagu Gandrang Bulo lainnya berbunyi “Baku’na tumbang batayya sosara’. Lanja-lanjayya Gowa nu’beta. Ki si lino tama te’ne’. Artinya, “Pada waktu rubuhnya Gowa silsilah Kerajaan Gowa dikalahkan. Seluruh dunia hancur dan rasanya tidak enak di hati”.

Hancurnya Kerajaan Gowa ini akibat gempuran Kompeni Belanda pada medio abad XVI itu.
 
“Lagu-lagu dalam Gandrang Bulo itu bercerita tentang sejarah masa lalu dan keadaan masyarakat saat itu yang masih dinyanyikan sampai sekarang,” kata Dg Naba, Seniman Gandrang Bulo.

Seniman Sulsel lainnya,  Iin Joesoef Madjid, menceritakan kesenian Gandrang Bulo sudah berkembang di  zaman Penjajahan Jepang. Aslinya, permainan ini merupakan pertunjukan seni tari yang diiringi permainan musik gendang dan biola dari bambu.

“Di zaman penjajahan Jepang, kesenian rakyat ini dikembangkan  dengan menambahkan dialof spontan dan gerak tubuh penari yang kocak. Ini bentuk penyampaian demo ala masyarakat saat itu dengan menyampaikan kritik yang ringan dan lucu,” terang Iin ditemui di kediamannya, Jl Syarief Alqadri No 5.

Dua Fase

Iin yang lincah ini kembali bercerita dengan membuka beberapa referensi. Selanjutnya, wanita yang lahir di  Makassar, 26 Desember 1967 itu menceritakan perkembangan Gandrang Bulo. Ternyata, perkembangan Gandrang Bulo terdiri dua fase. Fase pertama adalah Gandrang Bulo Klasik yang terdiri dari tari dan musik saja. Fase pertama berkembang pada masa kerajaan. Fase kedua terbentuk pada tahun 1942 saat penjajahan Jepang. Pada fase kedua inilah unsur kritik dimasukkan.

“Pertunjukan Gandrang Bulo dilakukan di atas sebuah panggung dan diiringi musik dari gendang. Disela-sela pertunjukan sering disisipkan tari-tarian tradisional dari Makassar seperti Tari Se'ru dan Tari Pepe. Dialog-dialog lucu yang dilontarkan oleh para senimannya merupakan kritik dan luapan emosi atas masalah yang dihadapi sehari-hari,” kata ibu dengan sepasang buah hati yang kembar ini.

Dari cerita Dg Naba, Gandrang Bulo mulai menjadi perhatian pemerintah Sulsel ketika tahun 1960. Di sinilah mula perkembangannya. Dg Naba ingat betul, tahun 1978 ketika era pemerintah Walikota Makassar, Patompo, para seniman Gandrang Bulo dari Paropo bertolak ke Jakarta mengikuti festival kesenian. “Sulsel meraih Juara II dari 26 provinsi. Juara I kesenian dari Irian Jaya. Sepuluh menit kami tampil dan memukai tim juri,” kenang Dg Naba.

Berangsur-angsur kemudian, berbagai festival kesenian yang diadakan di pelbagai kota kerap diikuti para seniman Gandrang Bulo dari Paropo.  Seperti  di Yogyakarta (1983), Bali (1990), Jakarta (1991 dan 1994).

Masa Kini

Saat ini, gandrang bulo banyak mengangkat isu-isu seputar politik, sosial, dan budaya. Karena tema-tema yang diangkat begitu dekat dengan kehidupan masyarakat dan disajikan dengan ringan dan lucu. Salah satunya pernah diperankan oleh Sanggar Remaja Paropo mengenai pentingnya ber-KB. Di sini, para pemain dari sanggar yang diketuai Jumakkara Baco ini meluconkan tentang hamil tua dan slogan Dua Anak Cukup. “Sebenarnya, lelucon kami juga tergantung dari permintaan penyelenggara acara. Atau kami sendiri yang berinisiatif. Tergantung kondisi. Hehe,” jelas Usman Majid yang dipercaya sebagai sekretaris sanggar ini.

Satu kali pertunjukan Gandrang Bulo durasinya sekira 12 menit terdiri tarian Gandrang Bulo, Tari Si’ru, Tari Pepe-pepeka ri Makka serta pertunjukan teater Kondo Buleng (Burung Bangau). Untuk melakoni komposisi tarian ini, setidaknya dibutuhkan kurang lebih  14 pemain terdiri penari, pemain musik dan penyanyi. Inilah  Gandrang Bulo. Yang mencoba  menertawakan kehidupan dan menggugat persoalan dalam rupa humor yang menghibur.(yan/pap)

  Comment on Facebook  

Redaksi: redaksi[at]fajar.co.id
Informasi Pemasangan Iklan
Hubungi Mustafa Kufung di mus[at]fajar.co.id
Telepon 0411-441441 (ext. 1437).
 

Nasional

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA, FMC -- Lelaki ini merasa gelisah. Ia pun menulis...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Wakil Ketua Badan Kehormatan (BK) DPR,...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Langkah Menteri pendidikan dan kebudayaan...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Wakil Ketua MPR, Hajriyanto Y Thohari...

Politik

Rabu, 15 Mei 2013 MAKASSAR,FAJAR -- Bakal calon bupati Sidrap, Rusdi Masse...

Rabu, 15 Mei 2013 SENGKANG,FAJAR -- Setelah resmi mendapat rekomendasi dari...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Meski telah mengundurkan diri sebagai...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Komisi II DPR dalam masa kerja periode...

Hukum

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhirnya...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Ketua Komisi Yudisial (KY), Eman Suparman...

Rabu, 15 Mei 2013 MALANG,FAJAR -- Wajah dunia pendidikan di Malang tercoreng....

Ekonomi

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA, FAJAR -- PT PLN (Persero) menyebutkan, pemakaian...

Selasa, 14 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Ketua DPR, Marzuki Alie menyatakan kenaikan...

Selasa, 14 Mei 2013 JAKARTA, FAJAR -- Pemerintah menugaskan Perum Badan Urusan...

Hiburan

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR - Ashanty akan memulai perjalanan karirnya...

Rabu, 15 Mei 2013 JAKARTA,FAJAR – Rachel Maryam geram. Akun...

Rabu, 15 Mei 2013 BEBERAPA waktu lalu, publik sempat yakin bahwa Justin...

Selasa, 14 Mei 2013 JAKARTA -- Aktris seksi, Kiki Amalia benar-benar terpukul...

Internasional

Rabu, 15 Mei 2013 DAMASKUS,FAJAR – Lebih dari dua tahun...

Selasa, 14 Mei 2013 ROSELLA, FAJAR -- Seorang pria Chicago ditahan kepolisian...

Selasa, 14 Mei 2013 SEOUL,FAJAR - Keputusan mengejutkan muncul dari rezim Kim...

Senin, 13 Mei 2013 PARIS,FAJAR - Seorang turis Perancis yang baru saja kembali...