Komunitas Sahabat Penyu Mampie Gigih Melawan Orang Jahat dan Predator – FAJAR –
Budaya & Pariwisata

Komunitas Sahabat Penyu Mampie Gigih Melawan Orang Jahat dan Predator

old.fajar.co.id, POLMAN – Andai tak ada Komunitas Sahabat Penyu (KSP) Mampie, habitat kura-kura laut di Pantai Mampie, Dusun Patoreang, Desa Galeso, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, telah punah sejak dahulu.

Begitu sayangnya anggota KSP Mampie pada kelestarian penyu. Mereka gigih menyelamatkan habitat kura-kura yang hidup di laut. Bukan cuma predator seperti biawak dan anjing, KSP Mampie juga harus menyelamatkan penyu dari ulah jahil orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Bentuk kasih sayang itu ditunjukkan lagi hari ini, Kamis pagi (6/4/2017). 90 telur penyu yang tertimbun pasir dievakuasi Ketua Komunitas Sahabat Penyu (KSP) Mampie, Yusri, agar tidak diganggu predator dan orang-orang jahat.

“Kita evakuasi ke tempat lebih aman,” kata Yusri.

Yusri memindahkan telur-telur penyu itu bersama anggota KSP Mampie lainnya. Kebetulan pula beberapa mahasiswa turut membantu. Mahasiswa-mahasiswa dari Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) tersebut sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (PPM) di desa setempat.

Telur-telur penyu kemudian dibuatkan lubang sedalam 50 cm untuk penetasan di tepi pantai. Bagian dasarnya dibuat lebih halus. Seluruh telur yang berjumlah 90 butir dimasukkan ke lubang itu dengan hati-hati, lalu ditimbun dengan pasir murni tanpa sampah atau kerikil. Lubang penetasan buatan dibuat semirip mungkin dengan lubang alami. Tempat itu kemudian diberi pembatas jaring sebagai penanda dan pelindung dari manusia dan hewan predator.

“Kalau cuacanya panas, bisa 40 hari baru menetas. Kalau cuaca normal, paling cepat 50 hari atau bahkan sampai 60 hari,” urai Yusri.

Telur-telur penyu aman di tempat baru, Yusri bersama mahasiswa yang berjumlah belasan orang kembali menuju lokasi tempat telur-telur penyu ditemukan. Yusri menjelaskan kepada mahasiswa, penyu yang ingin bertelur kerap mengalami kesulitan karena adanya abrasi pantai.

“Lama berputar-putar, satu jam, hingga penyu itu menemukan lokasi yang tepat untuk bertelur. Penyu sulit mencari lokasi aman dari jangkauan air laut,” jelasnya.

Menurut Yusri, berdasarkan jejak penyu di pasir Pantai Mampie, diperkirakan ukuran badan penyu yang bertelur itu sekira 43 cm. Jika dihitung mulai dari ujung tungkainya, ukurannya mungkin 65 cm.

“Banyak penyu di sini, beragam jenis, yang ditemukan mati adalah penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dengan berat 50 kilogram,” jelas Yusri lagi.

Mahasiswa yang terlibat dalam upaya penyelamatan generasi penyu tersebut merasa sangat senang. Menurut Sekertaris KKN Kordinator Desa Galeso, Aco Muhammad Nizar,  pengalaman ini sangat berharga.

“Sebenarnya, ini juga masuk di program kerja kami, ya alhamdulillah, tepat hari ini kami bisa dilibatkan,” kata Aco, mahasiswa jurusan Teknik Sipil Unsulbar. (SM/ParePos)

loading...

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!