Mengintip Era 70-an yang Masih Bertahan di Korea Utara

Kamis, 6 Juli 2017 - 00:01 WIB

FAJAR.CO.ID — Kerap diancam negara-negara maju, Korea Utara (Korut) justru tambah sibuk mengurus rangkaian tes nuklir. Pantas bila negara ini selalu mampu mencuri perhatian dunia, juga membuat Amerika Serikat meradang.

Alih-alih bersembunyi di balik selimut, Korut berdiri tegak dan lantang menjawab, “Mengancam kami? Kami ancam balik!” Begitu kira-kira.

Kenyataan bahwa mereka adalah salah satu negara di dunia yang paling terisolasi tidak membuat negeri ini minder.

Berbeda dengan tetangga dekatnya, Korea Selatan dan Jepang, Korut memang jauh dari budaya gemerlap. Tidak banyak terungkap mengenai kehidupan di Korut yang secara teknis masih dalam status perang dengan Korsel.

Pendiri sekaligus pemimpin pertama mereka Kim Il Sung menciptakan kebijakan mandiri untuk Korut. Kebijakan itu diterjemahkan dengan menghentikan semua hubungan ekonomi dan diplomatik dengan dunia. Bahkan saat kelaparan melanda pun mereka tidak akan meminta bantuan. Semua diatasi sendiri.

Suatu pagi di Pyongyang. (Foto: Wong Maye-E/AP)

Selama tujuh dekade berdiri, Korsel dikuasi tiga generasi dari keluarga ditaktor brutal yang sama. Kim Jong Un, 33, cucu Kim Il Sung, berkuasa pada 2011 setelah ayahnya Kim Jong Il, meninggal dunia.

Dari beberapa foto mengenai kondisi Korut, terlihat kalau negara dan masyarakatnya bak berada pada era 70-an. Seolah terjebak waktu. Banyak peraturan ketat yang diberlakukan pemerintah. Misalnya untuk urusan potongan rambut. Warga Korut harus memilih satu dari 28 gaya guntingan rambut yang diwajibkan.

Seorang perempuan melongok ke dalam kedai pinggir jalan. (Foto: Wong Maye-E/AP)

Perempuan belum menikah harus berpotongan pendek. Perempuan yang sudah menikah punya lebih banyak pilihan. Untuk lelaki muda, panjangnya harus kurang dari dua inci. Lelaki lebih tua bisa lebih panjang sedikit. (usatoday/tia/jpk)