Pengakuan Dosa Nurdin Halid, Berpengaruhkah? – FAJAR –
Politik

Pengakuan Dosa Nurdin Halid, Berpengaruhkah?

Nurdin Halid-Azis Qahhar Mudzakkar

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Nurdin Halid (NH) dan Azis Qahhar Mudzakkar sudah berdiri di garis start Pilgub Sulsel 2018. Namun bukan berarti paket ini tanpa rintangan.

Kelebihan utama NH-Azis ialah paket ini menjadi kandidat yang paling siap memimpin Sulawesi Selatan periode 2018-2023. Keduanya juga dianggap saling menutupi kekurangan.

“Kami yakin pasangan ini paling ideal. Perpaduan antara tokoh politik dan agama yang tentunya diharapkan akan membawa perubahan besar bagi masyarakat Sulsel,” ujar Ketum DPP Partai Golkar, Setya Novanto, ketika menyerahkan rekomendasi usungan kepada NH-Azis di Gedung Lap Tennis Indoor Telkom, Makassar, Rabu (5/7/2017).

Azis boleh dikata beruntung dipinang NH, Ketua DPD I Golkar Sulsel, yang memiliki mesin partai politik bagus sekaligus mengantongi pemilih klasik nan loyal di daerah. Seolah-olah Azis melewati “jalan tol” menuju posisi calon wakil gubernur.

Tak bisa dipungkiri bahwa Golkar dengan 18 kursi di DPRD masih menjadi kendaraan politik “terseksi” di Sulsel, walau Gerindra dan Demokrat sebagai partai yang lahir pada masa modern sedang berusaha mematahkan dominasi tersebut.

Sebaliknya, NH juga bahagia lamarannya diterima Azis, sosok religius yang berlabel tokoh Islam. Nama harum dan memiliki basis massa yang setia di sejumlah daerah–bukan hanya Luwu Raya–membuat Azis juga memiliki modal awal yang mumpuni untuk diperhitungkan para rival nantinya.

Menariknya, Azis mendampingi NH tanpa meminta posisi calon wakil gubernur sebelumnya, baik kepada Nurdin Halid maupun kepada Partai Golkar Sulsel.

“Inilah keikhlasan dari Golkar. Saya tidak pernah dimintai komitmen. Saya tidak pernah dipanggil untuk ikut rapat di Golkar Sulsel,” Aziz berujar.

“Saya tidak pernah dimintai komitmen, namun tetap mendapat rekomendasi mendampingi Pak Nurdin.”

Hanya saja, di balik kelebihan-kelebihan yang dimiliki, NH-Azis dalam hal ini Partai Golkar sebagai pengusung, tak boleh jemawa bahwa mereka maju tanpa kekurangan. Tak ada yang sempurna di dunia. Begitu juga NH-Azis, calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sulsel periode mendatang.

NH pun mengakui itu, mengingat masa lalunya yang pernah suram, yang pernah dipenjara karena kasus korupsi, yang bisa menjadi bahan negative campaign lawan setelah bendera race Pilgub Sulsel 2018 diangkat.

Baiknya, NH telah mengakui dosa-dosanya yang lampau.

Ketika menerima rekomendasi pasangan dari Partai Golkar, kemarin, NH menyinggung hal itu, bahwa saat dalam masa tahanan, ia berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, jika dirinya masih dicintai, ia memohon untuk dibebaskan.

“Dan saya akan datang ke Makassar, dan seluruh daerah di Sulawesi Selatan, saya akan menciptakan perubahan dan membangun Sulawesi Selatan,” ujar NH.

NH menyadari risiko hukuman penjara pada masa lalu dapat berimbas pada kiprah politiknya pada masa depa. Namun, ia mengaku harus maju demi perubahan, demi memperjuangkan hak-hak rakyat.

“Sejak saat itu, saya berikrar untuk kembali ke Sulsel guna membangun Sulsel lebih baik. Jangan ragukan saya. Saya akan buktikan, bahwa saya bisa membangun Sulsel lebih baik,” kata NH penuh tekad.

Di sinilah tantangan NH-Azis sebetulnya. Bila internal memahami bahwa mereka mampu saling menutupi kekurangan, bagaimana dengan eksternal, apakah orang-orang luar berpandangan sama? Mengingat perilaku pemilih lokal di Sulsel masih labil, gampang mengubah arah politik di akhir-akhir “pertandingan”.

Masing-masing tentu punya jawaban, juga pilihan. Yang jelas, kata dosen dan pakar hukum Universitas Hasanuddin, Dr Amir Ilyas, tidak ada orang baik yang tak memiliki masa lalu. “Begitupun sebaliknya, tidak ada orang jahat yang tidak memiliki masa depan,” demikian Amir Ilyas. (fajar group)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!