Jalan-jalan ke Desa Matajang, Kampung Pengrajin Songkok Bolong

0 Komentar

Dari sinilah songkok bolong (hitam) atau kopiah, yang banyak beredar di Kota Makassar dan sejumlah daerah di Indonesia, berasal.

========================
MUHAMMAD ASHRI SAMAD
Kab Bone, Sulawesi Selatan
========================

Desa Matajang, Kecamatan Dua Boccoe, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, lokasi pembuatannya. Desa ini tak asing lagi bagi penjual ataupun pengusaha kopiah di Tanah Air. Kualitasnya bagus, namun harga sangat bersaing.

Desa Matajang berjarak 31 kilometer lebih dari Kota Watampone, ibu kota kabupaten. Bisa ditempuh menggunakan roda empat ataupun roda dua dengan waktu sekitar 40 menit.

Saat ke sana, penulis bertemu dengan Kepala Desa Matajang, Saleh, yang menyambut ramah.

Mengetahui maksud penulis, lelaki berusia 49 tahun tersebut menjelaskan, warga desanya tidak hanya bekerja di sektor pertanian, tetapi juga sebagai perajin songkok.

Menurut Saleh, ada dua pengusaha besar di Desa Matajang yang mempekerjakan warganya sebagai perajin songkok, yakni Julaeha dan Sirmin. Keduanya juga merupakan warga Desa Matajang.

“Jumlah penduduk Desa Matajang mencapai 1.000 jiwa, dari bayi hingga tua. Jadi, 20 persen di antaranya pengrajin dan pengusaha songkok. Ada di desa, di Makassar, dan luar Sulawesi yang bekerja,” jelas Saleh.

Saleh menjelaskan, keahlian membuat songkok warganya merupakan keahlian turun temurun. Dari generasi ke generasi. Maka tidak heran, sangat mudah menemukan warga Matajang yang berprofesi perajin songkok.

“Kalau mauki tahu lebih detailnya dari mana asal muasal keahlian tersebut, langsung maki bertemu pengusahanya,” sebut bapak lima anak ini.

Mendapat petunjuk tersebut, penulis bergegas ke rumah salah satu pengusaha sekaligus perajin songkok bolong, Sirmin. Sekitar 15 meter dari rumah Saleh. Cukup mudah menemukan rumahnya.

Saat pertama kali berjumpa, penulis cukup kaget. Ternyata Sirmin masih muda, 27 tahun. Namun begitu, songkok yang dihasilkannya sangat mencengangkan, 1.000 songkok bolong per hari.

“Jumlah itu dikerjakan lima pengrajin. Masing-masing pengrajin bertanggung jawab 200 songkok,” tukas anak kedua dari tujuh bersaudara.

Pada bulan suci Ramadan seperti yang baru saja berlalu, kata Sirmin, warga yang berusia muda ke Makassar untuk bekerja sebagai pengrajin songkok. Dan bagi yang sudah dewasa tinggal di desa.

“Songkok di sini tidak ada yang menganggur. Semua laku dan dipasarkan di berbagai daerah di Sulsel. Ada juga ke Wonomulyo Sulbar, Kendari Sulawesi Tenggara, bahkan ada sampai ke Malaysia,” papar lelaki kelahiran Matajang, 15 Mei 1990.

Puas mendapat penjelasan dari Sirmin, penulis kembali berbincang dengan pengusaha sekaligus pengrajin songkok lainnya, Julaeha.

Perempuan kelahiran 1966 ini bercerita, keluarganya sudah menggeluti usaha tersebut sejak 32 tahun silam. Selama itu pula, seluruh songkok yang dihasilkan selalu laris terjual.

Julaeha mengaku, keterampilan sebagai pengrajin songkok bolong diperolehnya secara otodidak. Semula, membeli songkok Surabaya dan membongkarnya.

“Setelah mengetahui cara membuatnya. Dia dan keluarganya pun mulai menekuni perajin songkok hingga saat ini. Untuk bahan, memang dari Surabaya,” ujarnya.

Namun demikian, Julaeha menggaransi, kualitas songkok yang dihasilkan warga Desa Matajang memiliki kualitas bagus dan harga yang terjangkau. Bahkan orang Surabaya pernah meminta untuk diajarkan teknik khusus. (*/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...