Arisan Bodong Ternyata punya Banyak Bandar

Sabtu, 8 Juli 2017 - 05:13 WIB

FAJAR.CO.ID, RANTAU – Anti, salah seorang bandar arisan online wilayah Tapin akhirnya menyerahkan diri ke Mapolres Tapin, Kamis (6/7). Penyerahan diri wanita yang bernama lengkap Marianti Hafiz Rizqiah ini diiringi para reseller arisan yang memburunya.

Mereka datang berombongan menuju ke ruang Reskrim Polres Tapin untuk bertemu dengan Anti. Belasan wanita ini langsung dikumpulkan oleh anggota Sat Reskrim Polres Tapin.
Salah satu reseller yang bernama Imah (26) warga Tatakan Tapin Selatan, mengaku sangat senang melihat Anti yang menyerahkan diri ke Mapolres Tapin. “Yang jelas senang dulu, karena Anti tidak hilang lagi,” bebernya.

Imah juga mengaku bahwa dirinya dikejar-kejar oleh reseller lain untuk membalikkan uang mereka. “Sampai-sampai ada reseller lain yang mengancam untuk membunuh,” akunya.

Karena ketakutan, dia kemudian menjual beberapa perhiasan juga sepeda motor. Dirinya berniat untuk menjual rumahnya nantinya untuk membayar ke reseller lain.”Total yang harus saya keluarkan untuk membayar kepada reseller yang saya pertanggung jawabkan sebesar Rp 32 juta rupiah,” ungkapnya.

Lanjut Imah, awal cerita dia mengikuti arisan online ini sebelum bulan puasa lalu, ketika itu dia mendapat broadcasting BBM tentang arisan online. Awalnya dia sebenarnya tidak ingin mengikuti tentang arisan online.

“Tetapi setelah mendengar dari teman hasilnya bagus, saya pun mengikutinya, dan sampai sekarang uang saya yang masuk sekitar Rp 98 juta rupiah,” akunya.

Sementara para korban lain yang berada di ruang Reskrim Mapolres Tapin saat ditanya perihal kerugian mereka satu persatu, ada yang mengatakan dari puluhan juta sampai ratusan juta.

Mereka juga berharap uang yang dikirim ke Anti bisa dikembalikan lagi walaupun tidak bisa secara langsung atau dicicil.

“Apalagi ada itikad baik dari Anti untuk mengembalikan uang tersebut, walaupun tidak bisa sekaligus,” ungkap salah seorang reseller yang bernama Hikmah yang sempat berbicara dengan Anti di ruang reskrim.

Sementara orang tua Anti yang bernama Salamat Fiddin (43) saat diwawancarai mengatakan bahwa dirinya akan berusaha mengembalikan uang tersebut.”Saya minta waktu dulu untuk mengembalikan uang tersebut, paling tidak satu bulan, karena saya berencana untuk menjual rumah yang ada di Bataratat,” janjinya.

Anti sendiri bercerita bahwa dia juga sebenarnya salah satu korban arisan online ini. Sekitar 3 bulan lalu ia mulai mengikuti arisan oline dengan seseorang.”Saya juga ikut dari seseorang yang berinisial R, yang mengaku bahwa ia tinggal di Tanjung,” akunya. Dia tidak mengatakan jika R ini adalah Iray, bandar yang berada di Martapura.

Ia mengatakan mengenal R, hanya sebatas lewat BBM saja, berhubungan lewat telpon pun dengan R, dia tidak pernah. “Pernah satu kali kami berhubungan, itupun telpon lewat BBM saja,” bebernya.

Ibu satu orang anak ini juga mengaku bahwa semenjak arisan online ini macet, dirinya pada tanggal 27 Juni lalu berhubungan dengan R untuk mengembalikan uang yang sudah dia setor.”Ketika itu R berjanji jam 1 siang sudah ditransfer dan saya kasih kabar kepada teman-teman saya yang mengikuti bahwa jam 2 ia akan kembalikan uang mereka,” ungkapnya.

Setelah ditunggu-tunggu sampai jam 5 saya ternyata tidak ditransfer. Anti yang mencoba menghubungi lewat telepon tak bisa sambung lagi. “BBM saya juga sudah dihapusnya, dan semenjak itu saya hilang kontak dengannya,” jelasnya.

Ia mengatakan awal pertama ikut melalui ajakan di pesan lewat BBM. Anti mengaku bahwa ia bermodal sebesar Rp 700 ribu rupiah.

“Pada awal pertama pembayaran langsung cash dikirim, saya menerima uang sebesar Rp 1,5 juta rupiah, setelah itu saya ikutkan lagi arisan online yang Rp 1,5 juta itu dan bertambah lagi Rp 2,5 tapi untuk hasil ini selanjutnya saya ikutkan lagi sampai seterusnya,” ceritanya.

Lanjut Anti, yang mengikuti arisan online lewat dirinya ada sekitar 50 orang dan dari 50 orang itu, uangnya berputar-putar setiap harinya. “Saya pun mentransfer ke R, dengan rekening yang berbeda-beda, total rekening yang pernah saya transfer ada sekitar delapan rekening,” ucapnya.

Perihal kabar yang mengatakan bahwa Anti mengenal Iray yang berada di Martapura, ternyata Anti membantahnya bahwa dia sama sekali tidak tahu dengan Iray. “Saya tidak mengenal dengan namanya Iray tersebut,” tuturnya kepada Radar Banjarmasin.

Kapolres Tapin AKBP Zulkifli Ismail melalui Kasat Reskrim Polres Tapin AKP Dodi Harianto membenarkan bahwa Anti datang ke Mapolres Tapin bersama dengan orang tuanya.”Untuk sementara dia masih dalam proses pemeriksaan sebagai saksi, kalau cukup bukti akan ditingkatkan ke penyidikan,” ungkap Kasat Reskrim saat dikonfirmasi malamnya.

Sementara itu, usai secara resmi menerima laporan dari para korban jual beli arisan online, Satreskrim Polres Banjar langsung bergerak cepat untuk melakukan pemeriksaan kasus yang meresahkan masyarakat dan menyebabkan kerugian hingga miliaran rupiah itu.

Kapolres Banjar AKBP Takdir Mattanete melalui Kasatreskrim AKP Sofyan mengatakan, pihaknya Kamis (6/7) kemarin telah menerbitkan laporan polisi (LP) atas nama pelapor Agustina Halimah dan kawan-kawan. Sementara yang menjadi terlapor ialah Siti Raihanah alias Iray selaku bandar arisan. “Dengan terbitnya LP, kami sekarang fokus memeriksa para korban. Juga menggelar rapat cepat,” katanya kepada Radar Banjarmasin.

Dia menuturkan, tak semua korban nantinya akan diperiksa. Melainkan hanya yang merasa dirugikan atau tak sempat menikmati uang arisan. “Korban ‘kan bermacam-macam, ada yang sudah menikmati ada juga yang belum. Jadi kita fokus memeriksa yang belum,” ujarnya.

Salah satu korban yang belum sempat menikmati pencairan uang arisan ialah Agustina Halimah, yang saat ini namanya mewakili seluruh korban sebagai pelapor. “Setelah dihitung, Agustina ini mengalami kerugian sekitar Rp89 juta,” tambah Sofyan.

Sementara itu, terkait hasil rapat cepat yang sudah mereka lakukan. Dia mengungkapkan, untuk sementara pihaknya menetapkan kasus di pasal 378 KUHP tentang penipuan dengan ancaman hukuman di atas lima tahun penjara. “Tapi sekarang masih belum kita simpulkan,” ungkapnya.

Lalu di mana keberadaan Iray sekarang? Sofyan mengaku belum ada berkomunikasi dengan terlapor. Sebab, pihaknya masih fokus dalam melakukan pemeriksaan. “Nanti kalau pemeriksaan selesai, akan dilakukan gelar perkara. Setelah itu, baru terlapor akan kami panggil sebagai saksi,” katanya.

Sementara itu, Hani, salah seorang reseller arisan online juga mengaku tak mengetahui di mana keberadaan Iray. “Kami terakhir melihat dia pada Sabtu (1/7) tadi, saat dia mencari perlindungan ke Polres Banjar,” ujarnya.

Saat ini, rumah yang sebelumnya menjadi tempat tinggal Iray bersama suami dan dua anaknya beralamat di Jalan Irigasi, Gang Mujahidin III, Tanjung Rema Darat, Martapura hanya ada paman suaminya bernama Yasir. “Kasihan pamannya, tidak tahu apa-apa malah selalu didatangi orang di rumahnya untuk menagih uang arisan,” katanya.

Dia berharap, pihak kepolisian dapat secepatnya mengungkap kasusnya. Kemudian segera menangkap orang yang benar-benar bersalah. “Saya yakin polisi sudah mengawasi orang-orang yang dicurigai,” tuturnya.

Secara terpisah, Kuasa Hukum para korban Putu Kastu mengaku menyerahkan semua proses hukumnya kepada pihak kepolisian. “Sekarang polisi masih melakukan pemeriksaan, setelah itu baru melakukan upaya hukum lainnya. Seperti pemanggilan, lalu penangkapan,” katanya.

Dia mengungkapkan, jika saat dipanggil terlapor tidak datang maka pihak kepolisian akan kembali melakukan pemanggilan. Tapi bila sampai tiga kali pemanggilan, terlapor tak kunjung datang maka akan dipanggil secara paksa.”Kalau dia melarikan diri, maka bakal masuk DPO,” pungkasnya. (ris/mr-147/ay/ran)