Tito Sudah Beberkan Siapa Calon Penggantinya sebagai Kapolri

Selasa, 11 Juli 2017 - 18:26 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Keinginan Tito Karnavian untuk melepas kursi Kapolri sedang hangat dibahas. Banyak spekulasi bermunculan, tetapi bagi jenderal asal Palembang, niat mundur adalah dorongan untuk bisa lepas dari tingkat stres yang tinggi (stressfull).

Sementara, menurut Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane, keinginan Tito Karnavian untuk pensiun dari posisi Kapolri sudah beberapa kali diutarakan alumni AKBARI 1987 itu.

“Empat bulan lalu saat ngobrol-ngobrol di rumah dinasnya, Kapolri Tito sempat pula menyatakan bahwa dirinya sudah siap meninggalkan Polri tanpa menunggu dirinya pensiun,” kata dia kepada JawaPos (FAJAR Group), Selasa (11/7/2017).

Tak hanya itu, lanjut Neta, Tito juga sempat membeberkan siapa calon penggantinya sebagai Kapolri.

“Pak Tito juga sempat memaparkan beberapa pati yang dianggapnya layak menjadi kapolri. Tapi saat itu saya tidak menanggapinya dengan serius karena bagi saya setiap pejabat harus siap diganti kapan saja,” sambung Neta.

Apalagi kata dia, Tito sudah melakukan berbagai penataan di internal Polri, termasuk menyiapkan proses kaderisasi di tubuh korps Bhayangkara.

“Dalam pandangan IPW, situasi Polri saat ini sangat solid. Duet Tito-Syafruddin adalah duet ideal antar Akpol 87 dan 85,” kata Neta.

Dimana, kata Neta, Jenderal Tito sebagai Adimakayasa 87 tampil dengan kemampuan profesionalnya yang kemudian di-backup oleh syafruddin sebagai figur yang disegani para senior maupun junior di kepolisian.

Keduanya kata Neta relatif ideal dalam menjalankan lokomotif maupun gerbong kepolisian menuju polri profesionali.

Meskipun kata dia, terkadang dalam beberapa hal duet Tito-Syafruddin terlihat sangat akomodatif dan kompromistis terhadap beberapa senior.

Neta juga menuturkan, setiap polisi yang berada di posisi Kapolri pasti selalu mendapat tekanan yang membuat stress. Tentunya hal ini sangat manusiawi.

“Saya pikir stress itu hal biasa. Meskipun saat Tito memimpin, Polri banyak menghadapi masalah, seperti kasus intoleransi, SARA, ancaman kebhinekaan, kejahatan bersenjata api, terorisme dan gangguan keamanan lainnya,” papar dia.

Akan tetapi, dengan kinerja profesionalnya, Tito terbukti cukup mampu menyelesaikan masalah itu. Terutama di masalah Pilgub Jakarta yang banyak menguras energi Polri.

“Kalau ada yang menggoyang posisi Kapolri itu biasa. Setiap jabatan tinggi paublik pasti ada goyangan. Presiden digoyang,” paparnya. (elf/JPG/fajar)