Jepang Targetkan Angka Bunuh Diri Menurun Hingga 30% pada 2025

Selasa, 25 Juli 2017 - 15:41 WIB

FAJAR.CO.ID, TOKYO – Jepang menargetkan angka bunuh diri berkurang hingga 30% dalam kurun waktu 10 tahun ke depan. Kekaisaran Jepang telah menyetujui rencana untuk mengurangi jam kerja, Selasa (25/7), yang selama ini dianggap kerap menjadi salah satu alasan terjadinya aksi bunuh diri.

Negara berjuluk Negeri Sakura tersebut memiliki rasio bunuh diri tertinggi di antara negara maju Kelompok Tujuh (G7). Saat ini, tercatat sekitar 20 ribu warga Jepang mengakhiri hidup setiap tahunnya.

Data pada 2015, 18,5 per 100 ribu warga Jepang melakukan bunuh diri. Maka, pemerintahan Jepang ingin menekannya hingga di bawah 13 orang pada 2025 mendatang.

Sejak puncaknya 34.427 pada 2003 silam, angka bunuh diri di Jepang terus menurun. Terbukti, tahun lalu, hanya 21.897 warga Jepang yang melakukan bunuh diri.

Dilansir dari AFP, rencana penekanan angka bunuh diri telah disepakati dalam rapat parlemen yang berlangsung di Chiyoda, Tokyo, Selasa (25/7). Salah satunya, adalah dengan memangkas jam kerja serta mencegah pelecehan yang dilakukan atasan kepada bawahan.

Kematian karyawan jasa biro iklan terbesar Jepang Dentsu, Matsuri Takahashi pada 2015 lalu menjadi tolok ukur. Wanita berusia 24 tahun itu bunuh diri lantaran stres pekerjaan. Ia diharuskan lembur lebih dari 100 jam selama sebulan penuh.

Kasus ini membuat pemerintah berencana untuk memerintahkan para atasan untuk membatasi jam kerja hingga maksimal 100 jam per bulan. Namun, menurut beberapa pihak, angka tersebut masih cukup tinggi. (riz/fajar)