Meski Langka, Siswi MI Ini Bisa Mengubah Garam Menjadi Energi Listrik

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MOJOKERTO – Di tengah kenaikan dan kelangkaan komoditas garam di pasaran, sejumlah siswa di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darun Najah, Desa Gading, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, justru mampu menemukan sumber energi listrik baru.

Kebutuhan bahan dapur ini ternyata mampu mereka ciptakan sebagai tenaga utama alternatif. Fitriana, 12, salah satu siswi MI Darun Najah mengungkapkan, untuk menjadikan garam menjadi energi listrik dengan cara yang sangat sederhana. “Bahannya cuma garam dan air saja,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Mojokerto.

Sedangkan, komponen pendukungnya adalah kabel sebagai penghantar aliran listrik, tembaga sebagai kutub positif, dan zink atau seng untuk kutub negatifnya serta alat elektronik. “Kita pakai jam digital, karena konsumsi listriknya tidak membutuhkan banyak daya,” kata dia.

Uniknya, semua perangkat tersebut memanfaatkan barang bekas. Dalam praktiknya, garam dilarutkan menggunakan air yang ditaruh di sebuah wadah gelas plastik. Satu gelas diberi tiga sendok makan garam dapur. Setelah dilarutkan, setiap gelas diukur dengan avo meter untuk mengetahui daya yang dihasilkan. Fitriana menjelaskan, setiap gelas mampu menghasilkan daya listrik antara 0,6 volt hingga 0,8 volt. Namun, untuk bisa menyalakan sebuah jam digital, dibutuhkan paling sedikit 1,5 volt.

Dengan demikian, harus dilakukan perangkaian seri dengan tiga gelas larutan garam. “Dengan tiga gelas bisa menghasilkan daya listrik setara baterai berdaya 1,5 volt,” tukasnya. Untuk membuktikan, kabel dari larutan garam tersebut lalu disambungkan ke jam digital. Hasilnya, layar pada jam digital menyala laiknya berenergi baterai. Listrik yang dihasilkan dari larutan garam tersebut mampu bertahan lama. “Bisa sampai 10 hari,” tambah Fitriana. (mj/ram/ris/jpr/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...