Tegas, Pemprov Sulsel Tolak Garam Impor

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MAKASAR — Kebijakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan berbeda dengan pemerintah pusat terkait kebijakan impor garam. Bila pemerintah pusat ingin mengimpor 75 ribu ton garam dari negara tetangga, Pemprov Sulsel secara tegas menutup keran untuk garam impor.

Natsir Mallawi, Kepala Bidang Pengembangan dan Penataan Ruang Laut Pesisir dan Pulau Pesisir Dinas Kelauatan dan Perikanan Sulsel, mengungkapkan, Sulsel saat ini memiliki empat kabupaten yang menjadi sentra penghasil garam, yaitu Takalar, Jeneponto, Kepulauan Selayar, dan Pangkep.

Dari empat kabupaten tersebut, lahan potensi garam di Sulsel, luasnya mencapai 1.989 hektare (ha). Hanya saja, lahan produksinya hanya 1.000 ha. “Pada semua lahan potensi tersebut ada 900 hektare yang dikembangkang dengan program Pugar (Pengembangan Usaha Garam Rakyat),” jelas Natsir, kemarin (3/8/2017).

Untuk produksi garam Sulsel sepanjang 2016 lalu turun drastis, yakni hanya 13 ribu ton. Padahal tahun 2015, produksinya mencapai 115 ribu ton. Karenanya, pada 2017 ini, ditargetkan bisa memproduksi garam 120 ribu ton, agar bisa membayar defisit dan pengadaan cadangan.

“Kebutuhan garam konsumsi Sulsel sendiri kan hanya antara 25-30 ribu ton setiap tahunnya. Karenanya, saat produksi anjlok, yang dikeluarkan adalah stok garam yang ada di petani pada tahun sebelumnya,” terang dia.

Tutupnya produksi garam pada 2016 lalu disebabkan pengaruh cuaca. Dimana musim kemaraunya sangat pendek. Meski demikian, Natsir menegaskan, kebutuhan garam tidak terlalu penting. Karana kalaupun meningkat, tidak akan terlalu signifikan.

Meski Sulsel sudah tidak menerima bantuan garam dari daerah lain, tetapi sedang berusaha untuk membantu agar Indonesia bisa swasembada garam sebagai negari yang dikelilingi lautan. “Intinya adalah kran impor garam ditutup,” tegasnya.

Sementera Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, mengatakan, kondisi garam nasional yang harganya terus melambung, tidak berpengaruh sampai ke daerah ini. Sebab Sulsel saat ini masih cukup stabil.

“Tapi ini mengkhawatirkan sebenarnya, karena akhirnya impor garam dibuka dan berasal dari negara dengan pantai yang lebih sedikit dari Indonesia. Tapi paling tidak di Sulsel, sudah diantisipasi sejak jauh hari,” katanya.

Saat ini, lanjut Syahrul, Sulsel sedang membenahi sentra produksi garam yang ada. Termasuk untuk menjadikan garam beryodium. “Kita juga sudah masuk dalam standar dapur pasar ritel moderen,” katanya.

Ia juga menekankan, jika membuat garam saat ini, tidak susah seperti dulu dengan adanya bantuan teknologi. “Tapi persoalannya sekarang, harus dikejar agar produksi meningkat,” pungkasnya.(eky/upeks/fajar)

 

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...