Waspada! DBD Tak Kenal Musim

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MOJOKERTO – Kasus demam berdarah dengue (DBD) sepertinya tidak lagi mengenal musim. Meski beberapa bulan terakhir jarang turun hujan, namun di wilayah Kabupaten Mojokerto masih terjadi kasus akibat gigitan nyamuk aedes aegypti itu. Setidaknya, selama memasuki akhir Juli lalu, Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat mencatat ada 143 kasus.

Kepala Dinkes Kabupaten Mojokerto, Didik Chusnul Yakin menyatakan, kasus ini tidak lepas dari perilaku masyarakat yang kurang peduli terhadap kebersihan. Pasalnya, nyamuk aedes aegypti justru lebih banyak ditemukan berkembangbiak di tempat penampungan air dalam rumah. ”Makanya, setiap rumah diperlukan ada satu jumantik (juru pantau jentik),” terangnya Jumat (4/8).

Upaya tersebut untuk menekan perkembangbiakan nyamuk. ”Karena DBD tidak ada vaksinnya, sehingga caranya hanya dengan dicegah,” paparnya. Sedangkan cara yang paling efektif adalah dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Didik menjelaskan, meski saat ini tren DBD menunjukkan grafik penurunan dibanding tahun sebelumnya, akan tetapi masyarakat tetap diimbau untuk selalu waspada.

Dia menyebutkan, periode Januari-Juli ini tercatat sudah ada 143 kasus. ”Tahun lalu, meninggal karena DBD ada 11 orang dari 290 kasus. Sedangkan Juli ini ada 143 kasus, dan Alhamdulliah tidak ada yang meninggal,” ulasnya. Dia merinci, laporan paling tinggi terjadi pada bulan Januari dengan 47 kasus, dan Februari dengan 46 kasus. Hal itu tak lepas dari musim penghujan yang terjadi di sejumlah wilayah di Kabupaten Mojokerto.

Oleh sebeb itu, genangan air yang ada di lingkungan luar sekolah juga harus menjadi perhatian masyarakat. ”Khususnya pada barang-barang bekas yang bisa menimbulkan genangan air,” paparnya. Kemudian, memasuki musim kemarau mulai Maret hingga Juli lalu terjadi penurunan dengan total 50 kasus. Dari jumlah tersebut, kasus terbanyak terjadi di Kecamatan Gondang dengan 19 kasus, kemudian Bangsal dengan 16 kasus, dan Trowulan 14 kasus, Sooko dengan 12 kasus, dan Puri 9 kasus.

Kabid Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Mojokerto, Hartadi menambahkan, fogging masih menjadi alternatif dalam menekan penyebaran nyamuk aedes aegypti. Hanya saja, cara tersebut dinilai kurang efektif untuk memberantas nyamuk. ”Meski di-fogging, siklus nyamuk akan tetap ada, karena yang mati hanya nyamuk dewasa saja,” tandasnya.

Selain itu, efek samping yang dihasilkan dari cara pengasapan tersebut juga tidak baik bagi kesehatan. ”Fongging itu kan sama saja meracuni. Makanya, ke depan mungkin tidak lagi menggunakan fogging,” jelasnya. Satu-satunya cara untuk memutus mata rantai nyamuk adalah dengan PSN. ”Jika siklus telur, larva, hingga jentik diputus, kan tidak ada nyamuk lagi” pungkas dia. (Fajar/JPG)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...