Ini Penyebab Produksi Garam di Jeneponto Berkurang

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JENEPONTO — Berkurangnya produksi garam di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, turut mempengaruhi pasokan garam secara nasional.

Daerah ini adalah salah satu sentra penghasil garam terbesar di Indonesia dengan luas area tambak garam aktif kurang lebih 600-an hektare. Menghasilkan garam sekitar 20 ribu ton setiap musim.

Ketika produksi garam di Jeneponto berkurang, pasokan garam secara nasional turut bergeser turun.

Masalah penurunan produksi garam di Jeneponto kali ini menggugah perhatian Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Aliyah Mustika Ilham. Ia pun berinisiatif menemui petani dan pedagang garam di Kecamatan Bangkala, Jeneponto, pada Minggu (5/8/2017).

Dari kunjungan tersebut, ditemukan alasan utama kelangkaan garam, yakni hujan yang masih sering turun meski sudah memasuki musim kemarau.

“Kadang-kadang masih turun hujan, air laut masih bercampur dengan air tawar, jadi agak susah ada garam,” kata Deng Gassing, petani garam setempat.

Sementara, menurut Aliyah, legislator komisi IX yang membidangi kesehatan dan tenaga kerja, kelangkaan garam seperti saat ini perli diperhatikan secara serius, sebab bisa berdampak negatif bagi kesehatan warga Indonesia.

Pasalnya, garam merupakan kebutuhan primer yang dikonsumsi sehari-hari. Salah satu program gizi yang telah lama dilakukan di Indonesia adalah menambahkan yodium dalam garam (iodisasi) secara massal.

“Kalau kekurangan yodium akan menyebabkan banyak masalah kesehatan. Seperti kerdil, IQ rendah, gondok, dan tingkat keguguran hamil semakin tinggi. Jadi, garam ini sangat penting karena mengandung yodium,” ucapnya.

Kelangkaan tersebut juga bisa berdampak pada perusahaan yang memproduksi garam beryodium jadi kolaps akibat kesulitan mendapatkan bahan baku.

“Bisa jadi akibat minim stok garam, maka perusahaan yang bergerak di bidang garam produksi jadi kolaps. Efeknya akan terjadi PHK,” ujarnya. (fo/fajar)

 

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...