Penjelasan Psikolog Soal Ibu yang Simpan Mayat Bayinya di Frezeer

0 Komentar

SEHARI setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus pembunuhan seorang bayi yang ditemukan dalam freezer, Jumat (4/8) kemarin SL (tersangka) menjalankan tes psikologi di Polres Tarakan.

Fanny Sumajaow, S.Psi, psikolog yang ditunjuk melakukan tes psikologi (kepribadian) menemukan beberapa fakta berdasarkan kondisi psikologis SL.

Pertama, pembunuhan ini murni terjadi karena tekanan (stressor) yang disebabkan minimnya komunikasi dengan suami sirinya, DH.

Lalu, adanya ketidakterbukaan dan sering ditinggal sang suami sehingga SL merasa kesepian karena mereka tidak hidup dalam satu atap. Lalu adanya faktor beban pikiran SL memikirkan nasib dan status anak di kemudian hari.

“Lalu karakter childish atau kekanak-kanakan dari si pelaku. Ditambah wawasan yang kurang, artinya tidak cerdas mengambil sikap sehingga menyebabkan pelaku bertindak tanpa pertimbangan,” ungkap Fanny Sumajouw.

Berdasarkan hasil tes kondisi kepribadian, fakta yang didapatkan dari pengakuan SL ke kepolisian hasilnya sama. “Hasilnya saat SL menggambarkan sebatang lidi ini polos sekali. Menggambarkan dirinya sebagai anak umur 3 tahun. Bahkan masih lebih baik gambar anak kelas satu SD,” ujarnya.

Dijelaskan Fanny, faktor yang paling mendasar sehingga pelaku nekat melakukan aksi tersebut karena rentetan masalah yang menimpanya.

Berdasarkan pengakuan SL ke psikolog, awal masalah bermula saat anak pertama SL yang masih berumur 2,5 tahun akan disekolahkan ke salah satu TK di Tarakan. Namun di luar ekspektasi SL, anak yang diketahui merupakan anak pertama dari suaminya, DH, tidak bisa sekolah lantaran tidak memiliki akta kelahiran.

“Nama ayah kandung tidak ada. Sekolah mempermasalahkannya. Itu ceritanya SL ke saya. Dari sinilah dia mulai kebingungan dan baru tahu bahwa ternyata nikah siri seperti itu akhirnya,” ujar Fanny.

 

Setelah ditolak sekolah, SL pun mulai memikirkan kondisi anaknya ke depan. Di saat yang bersamaan, SL tidak menyadari ternyata dia hamil anak keduanya.

Karena sudah terlanjur hamil, SL semakin tertekan karena kesepian. Apalagi ia tidak hidup bersama suami. Pengakuannya, sang suami siri hanya menjenguk sebulan sekali.

“SL mengakui, sebenarnya suaminya tahu jika dia hamil. Karena suaminya pernah bertanya kenapa perutnya membesar. Tapi karena komunikasi dia dengan suami tidak intens dan suaminya semakin acuh, SL memutuskan menyelesaikan masalahnya sendiri,” ujar Fanny.

Akhinya di hari kejadian, pada Mei lalu, menjelang melahirkan, SL sempat merasakan sakit di perut dan menyuruh ibunya untuk menjaga pencucian mobil yang berada di Kelurahan Kampung Satu.

Posisi SL saat itu di rumahnya Jalan Lestari Kelurahan Karang Harapan.

Pembunuhan itu dilakukan dalam kondisi sadar, namun ketakutan dan kebingungan. Sehingga pada saat posisi panik, dan masih dalam keadaan lemas karena baru melahirkan, bayi yang dilahirkannya langsung dimasukkan dalam kresek.

“Jadi seperti saya jelaskan di berita sebelumnya. Tidak ada syndrom baby blues. Dan dia lihat bayinya masih bergerak saat keluar, tapi saat berdiri sudah tidak bergerak. Dan dia sempat letakkan di lantai, juga tidak bergerak. Sehingga seperti yang terjadi dalam video yang beredar itulah yang dilakukannya,” ujar Fanny.

 

Lantas mengapa tak memanggil sang suami saat tahu akan melahirkan? Dari pengakuannya, SL mengatakan tidak memiliki rasa cinta dengan suami siri yang sebelumnya sudah memiliki istri tiga itu.

SL bertahan lantaran kondisi ekonomi yang menghimpit. Sehingga keterbukaan untuk meminta pertolongan kepada sang suami tidak ada.

Akhirnya SL berjuang sendiri.  “Posisinya jauh dari ibunya yang sedang berjaga di pencucian mobil. Dalam kondisi mau melahirkan akhirnya dia memutuskan sendiri melakukan itu,” jelas Fanny.

 

Mengapa harus memasukkan dalam freezer, pertanyaan ini yang paling sering muncul di masyarakat.

Fanny mengatakan, SL melakukan itu karena jika menguburkan sang bayi, pasti akan melibatkan orang lain. Sehingga ia kehabisan ide. Maka keputusan memasukkan dalam freezer dengan pertimbangan tidak membusuk pun dilakukan SL.

Lantas bagaimana kehamilannya selama ini, mengapa tak ia beritahukan dengan yang lain? Kembali menurut pengakuan SL ke Fanny, penyebabnya lagi-lagi SL memiliki sifat introvert dan tertutup. Rentetan permasalahan yang terus mendera ditambah lagi sang suami dianggap acuh, karena memang keduanya memiliki komunikasi yang tidak berjalan dengan baik. Lainnya mereka terpaut usia.

“Usia mereka terpaut 30 tahun. Sang suami datang hanya sebulan sekali. Artinya datang dalam tanda kutip. Lalu SL mengganggap begitu tidak memedulikannya. Akhirnya yah seperti itu kejadiannya,” tambah Fanny.

 

Berbicara perkenalan suami dengan SL, awalnya hanya pelanggan di salah satu tempat kerja SL. Dari pertemuan tersebut akhirnya DH pun mengenalkan SL ke keluarganya. Dan faktanya pula, SL dan keluarga DH sudah saling kenal dan diterima di keluarga DH.

Dan saat itu, SL membutuhkan figur ayah yang memang diketahui ayah SL sudah lama meninggalkan ia dan ibu serta adiknya. Jadi lanjut Fanny, SL menerima ajakan DH menikah siri karena murni untuk memperbaiki ekonomi keluarga. “Dia ingin dia saja yang berkorban membahagiakan ibu dan adiknya,” ujarnya.

Namun di kemudian hari, masalah muncul. SL tahu DH sudah memiliki istri dan dirinya adalah istri keempat.

Oleh masukan beberapa orang yang mengenalnya, SL pun dijelaskan mengenai dampaknya ke depan dari pernikahan siri, terutama untuk sang buah hatinya. Tidak akan mencerahkan.

Ditambah lagi fakta lainnya, bahwa rumah, mobil dan tempat pencucian yang diberikan DH masih atas nama DH, bukan atas namanya, sehingga membuat dirinya resah.

“Karena kita tahu suaminya sudah tua, dapatlah dia masukan dari kerabatnya bahwa nanti dia dapat apa dengan pernikahan ini. Makanya dia menuntut haknya ke suaminya, namun hanya dijanji-janji akan diuruskan segalanya tapi tidak juga diwujudkan. Ini juga rentetan penyebab Sl melakukan hal tersebut,” ungkap Fanny lagi.

Dengan beberapa hasil analisa tersebut, Fanny menyimpulkan, seseorang dalam kondisi tertekan tersebut memang rentan melakukan hal-hal seperti tindak kriminal. Ada sebab dia melakukan hal tersebut. Murni karena stressor.

Untuk itu, ia juga menyayangkan judgement komentar masyarakat yang cukup viral sampai mengecam aksi SL. Fanny berharap agar masyarakat tidak asal membuat komentar jika tak mengetahui sebab atau akar masalahnya.

“Masyarakat marah, wajar, karena pelaku memang terbukti bersalah. Tapi di balik itu ada sebab dia melakukan itu dan karena kondisi kepolosan dia dan wawasan dia yang minim, akhirnya nekat melakukan hal tersebut,” lanjutnya.

Fanny meminta agar masyarakat tidak main hakim sendiri atas kasus yang dialami SL tersebut. Boleh saja marah, tapi cukup di dalam hati. Jika tidak tahu sebabnya, jangan sampai membuat opini yang menimbulkan provokasi. “Benar memang dia dalam kondisi membunuh itu salah. Kita boleh marah, tapi tidak berarti kita menghakimi apalagi bertindak sendiri.  Karena kita tidak pernah tahu latar belakang seseorang yang membuat seperti itu. Karena saat saya tanya, dia sangat kooperatif menjawab,” pungkas Fanny.(zia/ddq)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...