Bunuh TNI, Anak Anggota DPRD Diganjar 4 Tahun Penjara

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, DENPASAR – Kasus pembunuhan tentara dengan korban Prada Yanuar Setiawan, 20 dan penganiayaan Muhamad Jauhari, 20 memasuki babak akhir. Empat terdakwa pelaku pembunuhan divonis beragam dalam sidang di PN Denpasar. anak Anggota DPRD Bali DKDA, 16 yang menjadi terdakwa penusukan Prada Yanuar mendapat hukuman paling tinggi yaitu 4 tahun penjara.

Sedangkan terdakwa CI, 16 dalam kasus penganiayaan Prada Yanuar divonis hukuman 1,5 tahun dan dalam kasus penganiayaan Jauhari divonis 2 tahun penjara. Sehingga total hukuman CI menjadi 3,5 tahun penjara. Terdakwa lainnya yaitu KCA, 16 dan KTS, 17 yang ikut dalam pengeroyokan Jauhari hanya divonis 9 bulan penjara.

Sidang dipimpin oleh majelis hakim Ketua majelis hakim Agus Walujo Tjahjono, dan dua hakim anggota, Made Sukereni dan I Wayan Kawisada.

Dengan Tim JPU dalam kasus ini adalah Made Ayu Citra Mayasari dkk. Sidang empat terdakwa, terdakwa DKDA (pelaku utama penusukan), dan tiga terdakwa lain, berinisial KCA, IC,  dan KTS. Terdakwa DKDA didampingi oleh pengacara, pengacara Gusti Agung Dian Mahendra, I Made Supartha, Putu Bagus Budi Arsawan dan Putu Oka Pratiwi.

Sidang dilaksanakan secara bergilir, dan DKDA disidang paling terakhir. DKDA yang adalah anak Sekretaris Komisi I DPRD Bali Dewa Nyoman Rai Adi, dijerat dijerat pasal pasal 170 ayat (2) ke-3 KUHP jo UU RI Nomor 11 tahun 2012 tentang sistem peadilan pada anak yaitu secara terang-terangan dan bersama-sama melakukan kekerasan terhadap orang hingga menyebabkan meninggal dunia. Dan majelis hakim menghukum terdakwa dengan hukuman 4 tahun.

“Menjatuhkan hukuman empat tahun penjara dikurangi masa penahanan dengan perintah tetap dalam tahanan,” tegas hakim.

Dalam putusan hakim, juga memerintahkan agar terdakwa DKDA dipindahkan dari Lapas Kelas IIA, Kerobokan, Kuta Utara, Badung ke Lapas Anak di Karangasem. Vonis ini lebih ringan dari tuntutan jaksa, sebelumnya yaitu 5,5 tahun atau 5 tahun, 6 bulan. Atas vonis ini Jaksa dan pengacara menyatakan pikir – pikir.

Untuk tiga terdakwa lainnya, sudah lebih awal dibacakan. Terdakwa CI, KCA dan KTS mulai pukul 13.30 hingga pukul 15.00. Dalam perkara ini, majelis hakim menyatakan ketiga terdakwa terbukti sah dan meyakinkan dengan terang-terangan dan bersama-sama melakukan kekerasan hingga korban mengalami luka berat sesuai Pasal 170 ayat 2 KUHP jo UU RI No 11 tahun 2012 tentang system peadilan pada anak.

Untuk terdakwa CI dijatuhi hukuman 2 tahun penjara dari tuntutan JPU sebelumnya yang menuntut hukuman 3 tahun penjara. Sementara KCA dan KTS divonis 9 bulan penjara dari tuntutan JPU sebelumnya yaitu 1 tahun penjara. Selanjutnya, terdakwa CI kembali menjalani sidang untuk perkara penganiayaan Prada Yanuar. Dalam kasus ini, bocah putus sekolah ini dijerat pasal 170 ayat 2 KUHP jo UU RI No 11 tahun 2012 tentang system peadilan pada anak dan dijatuhi hukuman 1,5 tahun penjara dari tuntutan sebelumnya 2 tahun penjara. Ketiganya juga diputuskan untuk menjalani hukuman di Lapas Anak Karangasem. JPU juga menyatakan pikir – pikir atas vonis ini.

Dalam sidang kemarin, DKDA didampingi sang kakak. Sedangkan Anggota Dewan Dewa Rai tidak hadir. Selain itu dari TNI, hadir Kepala Bidang Hukum Kodam IX/Udayana Kolonel Chk Budiono. Kolonel Budiono menjelaskan, terkait putusan untuk keempat terdakwa pihak Kodam menyerahkan sepenuhnya kepada majelis hakim. Namun ia mengingatkan kembali pesan Panglima TNI agar tidak mengurangi titik koma dalam penegakan hukum untuk menegakkan keadilan “Kami disini sudah diwakili Jaksa Penuntut Umum. Terakhir JPU menyatakan piker-pikir. Kedepan saya ingin melihat bentuk sikap pernyataan pikir-pikir tersebut dan akan kami monitor terus. Apakah banding atau menerima,” tegas Kolonel Budiono.

Sesuai dengan dakwaan, kasus pengeroyokan dan penganiayan berat hingga menyebabkan seorang anggota TNI-AD tewas ini,  terjadi di Jalan Bypass Ngurah Rai atau tepatnya di dekat Halte Pertigaan Perum Taman Griya, Jimbaran, Kuta Selatan (Kutsel),  Badung, pada Minggu (9/7) sekitar pukul 04.30.

Singkat cerita korban Yanuar Setiawan, bersama pelapor Isro Mihardi serta empat teman lainnya,  yakni Stefanus Iman, Tegar Ananta Hadi,  Muhammad Jauhari dan Munajir berencana jalan-jalan ke Kuta.  Sempat jalan-jalan,  sekitar pukul 04.00,  korban bersama temannya berencana pulang ke rumah Isro di Jalan Pratama Gang I Lingkungan Celuk, Benoa, Kutsel.

Dalam perjalanan,  korban bersama lima teman mengendari motor. Selanjutnya ditengah perjalanan tiba-tiba disalip CI yang saat itu membonceng DKDA. Topi CI jatuh dan kemudian putar balik dan nyaris tertabrak oleh korban Stefanus dan Munajir. Sempat ditegur, dengan kata – kata kasar. “Fukymay kamu, mana nenekmu,” hardik Stefabus.  Kemudian mereka lanjut.  Namun sampai di TKP I di dekat Halte Perum Taman Griya,  mereka kembali bertemu dan senpat berpandangan.  Tak terima dengan teguran Munajir  tersangka Revo kemudian mengajak Munajir dan Stefanus kelahi.

Namun oleh Stefanus dicueki dengan memacu motor dengan kencang.  Sempat berupaya mengejar, namun Revo gagal.  Akhirnya ia menunggu korban dengan memalang motor.  Selanjutnya korban yang ada dibelakang kemudian tak terima dan sempat berupaya memukul Revo namun meleset.  Melihat Revo berkelahi,  CI yang membonceng DKDA kemudian membantu Revo dan mengeroyok dan memukili korban.  Selanjutnya DKDA mendorong dan menusuk korban dengan sajam dan jatuh tersungkur ke trotoar. Setelah korban jatuh,  DKDA pergi.

Sedangkan teman korban Jauhari dan Tegar yang saat itu masih ada dibelakang menanyakan kondisi korban ke pelaku.  Pelaku Revo yang tak terima saat ditanya kemudian mencekik dan kemudian sempat memukuli hingga mengalami luka-luka serius.

Saat usai dicekik ini, mereka lari ke dekat Restoran Laota. Namun dikejar, akhirnya Jauhari yang sembunyi diketemukan. Saat itu sempat dihajar lagi, bahkan dalam dakwaan disebutkan bahwa terdakwa CI sempat mengencingi wajah dari Jauhari sebelum ditinggalkan.

Dalam dakwaan, juga terungkap ternyata sebelum kejadian ini. Mereka yang menyebut diri dengan nama Group Remang Boys, sempat dugem didua tempat yaitu Midnight Kuta dan lanjut ke Bounty Kuta.

Masih terkait dengan kasus pembunuhan TNI Prada Yanuar, ada dua tersangka lagi yang tergolong dewasa (bukan anak – anak). Dua tersangka ini sudah dilimpahkan kemarin ke Kejari Denpasar. Penyidik Polresta Denpasar ke Jaksa Penuntut Umum (JPU) terdiri atas tiga berkas perkara.

Tersangka Revo menjadi tersangka untuk dua perkara yakni penganiayaan dengan korban Siswa Secapa Dikjur Infanteri, Singaraja, Prada Yanuar dan menjadi tersangka bersama tersangka Fajar dengan korban penganiayaan, Muhammad Jauhari.

Untuk korban Muhammad Jauhari tersangkanya Revo dan Fajar dengan  Jaksa yang ditunjuk adalah  Cok Intan Melani Dewie. Sementara untuk tersangka Revo dengan korban Prada Yanuar Setiawan, Jaksanya adalah Oka Ariani. “Sudah dilimpahkan tadi dari Polrestas,” jelas Kasipidum Kejari Denpasar Ketut Maha Agung kemarin.
Dalam sampul berkas, peran Revo sempat mencekik teman korban, Muhammad Jauhari ketika menanyakan keadaan korban Yanuar Setiawan yang dalam keadaan telungkup diatas trotoar dengan tubuh yang berdarah. Sedangkan Fajar terlibat juga dalam pemukulan korban Muhammad Jauhari. Revo dan Fajar diancam pidana penjara 12 tahun dan 9 tahun sebagaimana di atur Pasal 170 ayat 2 ke 1 dan ke KUHP.

(bx/art/yes/JPR)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...