Soal Ibu Sadis yang Masukan Bayi ke Frezeer, Semua Orang Dekat Diperiksa

Jumat, 11 Agustus 2017 - 22:18 WIB

FAJAR.CO.ID,TARAKAN – SL, tersangka kasus pembunuhan bayi yang dimasukan ke freezer itu kembali menjalani pemeriksaan di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Tarakan, Kamis (10/8). Selain SL, turut juga diperiksa ibu SL dan seorang temannya berinisial TI.

Kapolres Tarakan, AKBP Dearystone Supit melalui Paur Subbag Humas Polres Tarakan, Ipda Denny Mardiyanto mengatakan, pemeriksaan kali ini dilakukan untuk menindaklanjuti hasil autopsi yang dilakukan pihak RSUD Tarakan, yang menyimpulkan hasil autopsi bayi malang tersebut masih hidup saat dilahirkan oleh SL, pada usia kandungan sekitar 9 hingga 10 bulan. “Selain itu kami akan menggali lagi lebih dalam dari teman-teman SL maupun ibunya SL, apakah mereka mengetahui kehamilan SL,” tutur Denny.

Selain itu, pemeriksaan yang dilakukan kali ini juga untuk memastikan apakah benar SL sengaja menghilangkan darah dagingnya sendiri karena motif tidak menginginkan anak kedua dari DH yang merupakan suami sirihnya. Lantaran SL tidak ingin anak keduanya tersebut mendapatkan status yang sama dengan anak pertama mereka.

Beredar informasi, SL diduga sakit hati terhadap DH karena harta yang dinikmatinya selama ini bukan atas namanya, melainkan atas nama DH. dan kabarnya DH berencana menarik semua harta yang dinikmati SL selama ini.

“Bisa saja karena faktor harta, sehingga SL sakit hati dan melampiaskan kepada darah dagingnya sendiri. Dari keterangan yang sudah ada, perlu digali lagi lebih dalam untuk memastikan motifnya,” ucapnya. Selain teman SL dan Ibu SL, rencananya dalam waktu dekat penyidik akan memanggil kembali DH.

Denny memastikan kembali jika SL saat melahirkan tidak ada satupun yang mengetahuinya. Termasuknya anaknya yang berusia 2,5 tahun yang pada saat itu ada di rumah. “Dia melahirkan pukul 06.00 Wita, anak pertamanya tidak tahu karena posisi sang anak saat itu sedang tidur. Sementara kondisi rumahnya di Jalan Lestari, RT 21, Kelurahan Karang Harapan, jauh dari tetangganya. Kami pastikan juga perbuatannya memasukan darah dagingnya ke dalam kulkas itu hanya dia yang tahu,” bebernya.

Di sisi lain, kondisi psikologis SL saat pemeriksaan dilakukan Unit PPA Polres Tarakan, sudah jauh lebih baik daripada saat awal diperiksa dan setelah ditetapkan menjadi tersangka. “Sudah lebih tenang dari sebelumnya,” pungkas Denny. (jnr/nri)