Miris, Generasi Milenial Makin Sulit Punya Rumah Tapak

Senin, 14 Agustus 2017 - 18:46 WIB

FAJAR.CO.ID – Karakteristik masyarakat Indonesia lebih suka dengan rumah tapak atau landed house. Padahal pemerintah sedang gencar kampanye pembangunan rumah vertikal untuk mengatasi mahalnya harga tanah dan keterbatasan lahan.

Kehidupan apartemen yang individualis dan rata-rata menggunakan sertifikat Hak Guna Bangunan (HGB) membuat konsumen lebih suka dengan landed house. Apalagi masyarakat menganggap landed house memiliki lahan untuk keturunan mereka bebas beraktivitas lebih luwes ketimbang tinggal di apartemen.

Namun, generasi milenial saat ini seolah berada di era yang salah karena lahan semakin terbatas dan harganya makin selangit. Mereka didorong untuk mengubah pola pikir atau mindset bahwa rumah vertikal paling relevan dengan kondisi zaman saat ini.

“Yang unik di Indonesia itu dibandingkan negara-negara lain, masyarakatnya lebih suka punya tanah dibanding apartemen atau rumah susun. Padahal generasi milenial hampir tak mungkin punya tanah seperti orang tua mereka,” kata Pakar Perencana Keuangan Universitas Indonesia (UI) Zaafri Husodo kepada JawaPos.com, Senin (14/8).

Harga tanah, kata Zaafri, saat ini harganya sudah 4-5 kali lipat dari harga apartemen. Jikapun tetap ingin memiliki properti landed house dengan budget yang terjangkau, Zaafri menyarankan para generasi milenial membeli dengan patungan.

“Memang perlu pemahaman atas rencana keuangan. Jika mampu bayar Rp 2 juta sebulan untuk kontrak, mereka (generasi milenial) hanya bisa melihat jangka pendek (short term),” ungkapnya.

Zaafri menegaskan tiga saran bagi generasi milenial yang tetap ingin berinvestasi properti. Dia meminta generasi milenial jangan rendah hati dan tetap optimis, sebab masalah ini juga dihadapi masyarakat global.

“Saran terbaik, mulailah investasi di usia semuda mungkin. Jika masih kesulitan, jajaki kolaborasi properti dengan teman-teman, dan ubah gaya hidup,” tandasnya. (ika/jpc/fajar)