Label “Kami Pancasila” Justru Memecah-belah Masyarakat

0 Komentar

FAJAR.CO.ID — Belakangan bangsa Indonesia dikepung banyak kesalahpahaman. Berdampak buruk bagi kemajemukan dalam masyarakat.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Zulkifli Hasan, dalam pidato kebangsaan pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PAN III Tahun 2017, di Hotel Asrilia, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (21/8).

Menurut Zulhas, sapaan Ketua MPR itu, salah paham pertama sungguh serius. Ada anggapan bahwa beragama berarti menjauh dari berbangsa. Tunduk pada ajaran agama dipandang sebagai tak bersetia pada paham kebangsaan. Dan menjadi pemeluk agama yang taat dinilai sebagai berkhianat terhadap prinsip berkeindonesiaan.

Padahal, di Indonesia, paham kebangsaan dan paham keagamaan saling menopang. Menjadi pemeluk agama yang taat adalah jalan untuk menjadi warga negara yang baik.

Salah paham kedua yang tak kalah seriusnya menurut Zulhas adalah kontestasi politik digunakan untuk memberi label sekaligus memisah-memisahkan kelompok dalam masyarakat.

“‘Kami toleran’ dan ‘kalian intoleran’. ‘Kami perawat kemajemukan’ sementara ‘kalian perusak kebhinekaan’. ‘Kami penjaga Pancasila’ dan ‘kalian berkhianat pada Pancasila’. ‘Kami cinta NKRI’ sementara ‘kalian menjauh dari paham NKRI’,” paparnya.

Padahal, jelas Zulhas, kekalahan atau kemenangan dalam kontestasi politik adalah hal biasa dalam demokrasi. Tidak sepatutnya kalah atau menang dijadikan alat untuk mengkotak-kotakkan kelompok-kelompok dalam masyarakat.

Sebut dia, demokrasi menuntut siapapun untuk siap menang secara layak dan kalah secara terhormat. Walhasil, kontestasi atau kompetisi politik semestinya disikapi dalam suasana rekonsiliasi bukan pemecah-belahan.

“Kita tak bisa biarkan pemberian label dan pengkotak-kotakan kelompok dengan menggunakan identitas pro-Pancasila, kemajemukan, toleransi dan kesetiaan pada NKRI itu. Secara khusus umat Islam menjadi sasaran dalam pelabelan dan pengkotak-kotakan ini,” pungkasnya.

Kesalahpahaman ini kata Zulhas sungguh berbahaya. Sejarah republik ini sudah membuktikan bahwa umat Islam sudah khatam masalah toleransi. Bahkan umat Islam adalah pembela dan pecinta NKRI dan perawat kemajemukan.

“Umat Islam adalah pemberi sumbangan terbesar bagi terjaga dan terawatnya Pancasila,” demikian Zulhas. (san/rmol/fajar)

 

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...