Aneh, Belum Survei, Kubu NH-AZIZ Sudah Yakin Elektabilitas Naik

0 Komentar

FAJAR.CO.ID — Pernyataan Sekretaris Jenderal DPP Golkar Idrus Marham tentang elektabilitas pasangan Nurdin Halid-Aziz Qahhar Mudzakkar (NH-AZIZ) akan bercokol di posisi pertama setelah lebaran Iduladha, dinilai hanya manuver untuk penggiringan opini.

Mengingat, hasil survei sebuah lembaga kredibel baru bisa diketahui hasilnya setelah melakukan pengambilan data sekitar 3-5 hari di lapangan dengan menggunakan metode multistage random sampling.

Sehingga, jika ada pihak memprediksi dan mengklaim ada kandidat bisa unggul sebelum pengambilan dan pengolahan data, maka pernyataan itu sangat subjektif dan patut dicurigai.

Pakar politik dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Adi Suryadi Culla, tidak menampik adanya survei pesanan yang dilakukan untuk penggiringan opini. Hal ini kata dia dilakukan untuk mempengaruhi pemilih, hanya memang, menurutnya tidak terlalu signifikan.

“Iya, bisa saja ada pesanan, saya kira itu nanti akan terjadi pertarungan calon dalam membentuk opini. Itu akan muncul nanti dalam berbagai kampanye yang dilakukan,” kata Adi, sapaan akrabnya saat dikonfirmasi melalui sambungan telpon, pada Jumat (25/8/2017)

Menurutnya, hal ini juga terlihat dengan adanya upaya kandidat membangun opini publik melalui media virtual, khususnya media sosial.

Adi menegaskan, hal seperti ini biasa tidak akan bertahan lama, karena adanya beberapa lembaga survei yang kreadibel bisa menutupi opini tersebut.

Sehingga, lanjutnya, penggiringan opini melalui hasil survei bisa saja merugikan kandidat itu sendiri. “Saya kira yang membentuk opini publik sekarang, baru pemanasan, dan itu bisa saja menjadi pertarungan politik untuk mempengaruhi persepsi pemilih,” ucapnya.

Hal senada dikatakan oleh pakar politik dari Universitas Bosowa (Unibos) Makassar, Arief Wicaksono. Menurutnya, prediksi hasil survei itu hanya untuk melakukan penggiringan opini. Dia menegaskan, tidak ada alasan untuk memastikan hasil survei.

“Belum atau tidak bisa dipastikan sekarang, bisa benar, bisa salah. Targetnya biasa untuk pembentukan opini saja,” ucap Arief.

Dia mengatakan, sesumbar pernyataan Idrus tidak lain hanya untuk mempengaruhi opini publik. Meski pada dasarnya pernyataan Idrus itu tidak berdasar dengan data.

“Saya kira tujuannya kesana, mempengaruhi calon pemilih. Terlepas apakah surveynya berupa pesanan atau tidak,” tandasnya. (*/raksul/fajar)

 

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...