Janda Anak Lima Tertangkap Gara-gara Sabu

Minggu, 27 Agustus 2017 - 15:43 WIB

FAJAR.CO.ID, TARAKAN – Yuni hanya bisa menangis saat majelis hakim menjatuhkan vonis penjara kepadanya dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Tarakan, Kamis (23/8). Pasalnya, janda 5 anak ini harus mendekam dalam penjara selama 6 tahun karena diputus bersalah atas kasus narkoba yang menimpanya.

Putusan itu sebenarnya lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menuntutnya selama 8 tahun penjara. Namun pengacara Yuni menganggap tuntutan JPU tidak masuk akal. Mengingat barang bukti narkoba yang ada tidak besar.

“Jelas saya tidak terima, sabunya hanya 0,19 gram, tapi kok dituntut 8 tahun, apalagi cuma sekedar pemakai saja,” bantah pengacara Thamrin SH.

Dia menjelaskan, alasan yang membuatnya tidak terima dengan tuntutan JPU, selain karena barang bukti sedikit, juga karena masih banyaknya pengguna narkotika yang lebih pantas dihukum lebih berat, dari pada Yuni. “Di luar sana kan banyak penggedar yang seharusnya bisa dihukum lebih, jadi tak masuk akal lah jika pengguna dituntut lebih dari 5 tahun,” terangnya.

Walapun sudah menyatakan tidak terima, namun Thamrin ternyata cukup berbesar hati menerima putusan majelis hakim persidangan yang memvonis Yuni lebih ringan. Walapun tidak seringan yang dirinya harapkan.

“Kalau putusan hakim seperti itu kan kita terima saja. Karena saya juga mengakui ini demi memberikan efek jera kepada semua para pengguna narkoba yang semakin merusak masyarakat kita,” terang Thamrin.

Sedangkan pihak JPU mengaku tidak bisa terlalu banyak bicara mengenai perakara Yuni. Karena pihaknya bukanlah JPU utama Yuni. “Kalau saya pribadi, hanya bisa setuju dengan putusan hakim karena itu kan demi efek jera. Tapi kalau lebih dari itu saya tidak bisa berkomentar, karena saya hanya JPU pengganti,” kata JPU Putra SH.

Sedangkan majelis hakim persidangan mengungkapkan, lebih ringannya putusan yang dijatuhkan karena beberapa faktor. Di antaranya keterangan saksi dan fakta persidangan yang ada.

“Mau diringankan lebih ya tidak bisa, karena kan kita menilainya dari fakta yang ada dan keterangan saksi. Apalagi terdakwa juga mengakui perbutaannya,” ungkap hakim ketua Christo En Sitorus SH MHhum.(*/osa)