Mentan Jelaskan Alasan Blitar Kekurangan Ayam Petelur

Minggu, 27 Agustus 2017 - 17:05 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita menanggapi adanya keluhan penurunan populasi ayam petelur di Blitar, Jawa Timur.

Menurut I Ketut, penurunan populasi ayam petelur merupakan bagian ‎dari upaya pemerintah dalam hal pengendalian untuk menjaga stabilitas harga telur di tingkat peternak.

“Saat ini populasi ayam memang menurun, karena kebijakan kami untuk menurunkan populasi di Blitar yang sebelumnya mengalami over supply, dengan harapan harga telur di tingkat peternak stabil,” ujar I Ketut dalam keterangan persnya, Minggu (27/8).

Kebijakan tersebut, kata I Ketut, diambil karena sebelumnya ada keluhan dari peternak tentang penurunan harga ayam hidup (broiler dan jantan layer), serta telur ayam di bawah harga pokok produksi.

“Pada beberapa bulan yang lalu pemerintah didemo oleh beberapa perwakilan peternak terkait adanya penurunan harga telur di Blitar yang menyebabkan peternak mengalami kerugian, bahkan sampai ada yang tidak mampu melanjutkan usahanya,” kata I Ketut.

Atas keluhan tersebut Ditjen PHK kemudian melakukan ‎peninjauan langsung ke kandang dan menemui para peternak di Kabupaten Blitar.

Selain itu pemerintah juga melakukan pertemuan dengan sejumlah stakeholder hingga beberapa kali.

‎Setelah itu barulah kebijakan diambil, salah satunya mengatur keseimbangan ‎supply dan demand melalui penyesuaian jumlah final stock sesuai dengan penerapan Keputusan Menteri Pertanian.

“Melalui pendekatan tersebut, keseimbangan supply dan demand ternyata segera pulih kembali,” katanya.

Harga telur di Blitar saat ini berkisar Rp 16.000 – 16.500/kg, dari sebelumnya anjlok hingga di bawah Rp 14 ribu. ‎

Kemudian di Yogyakarta berkisar Rp 17 ribu, Jabodetabek Rp 18 ribu. Harga acuan yang ditetapkan Kementerian Perdagangan Rp 18 ribu.

“‎Kami ikut bahagia karena pada periode 12-21 Juli lalu harga di tingkat peternak di Blitar bahkan sempat mencapai Rp 19.500/kg,” pungkas I Ketut.(gir/jpnn)