Banyak Jalan di Makassar Akan Berubah Arah, Ini Uraiannya!

Senin, 28 Agustus 2017 - 08:00 WIB

FAJAR.CO.ID — Warga Kota Makassar harus bersiap-siap dengan perubahan arah di sejumlah ruas jalan. Pemkot melalui Dinas Perhubungan tengah mengkaji aktivitas lalu lintas di ruas jalan yang masuk dalam rencana tersebut.

Kepala Bidang Moda Transportasi Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Makassar, Jasman Launtu, mengatakan, sejauh ini rancangan sistem perubahan arah di ruas jalan dalam kota telah ada, tetapi masih dalam proses pengkajian sebelum dilakukan sosialisasi.

“Rancangannya sudah ada, tapi masih perlu dikaji kembali untuk rute-rute mana saja akan dimasukkan dalam perubahan jalur. Kalau sudah rampung, kita laporkan ke Pak Wali dan menunggu waktu untuk dilakukan sosialisasi,” kata Jasman Launtu, Jumat (25/8/2017).

Ia kemudian mengungkap rancangan perubahan jalur ruas jalan itu. Salah satunya dan yang utama adalah akses masuk ke kawasan Pantai Losari.

”Untuk sementara ini, perubahan jalur yang direncanakan adalah ruas jalan menuju Anjungan Pantai Losari Makassar. Saat ini kan dari arah selatan ke utara. Atau dari Jalan Haji Bau menuju Jalan Nusantara hingga jalan tol. Nantinya akan diubah arahnya, dari utara ke selatan,” jelas Jasman.

Jadi, pengendara nantinya yang hendak masuk ke Pantai Losari bisa melalui Jalan Ahmad Yani dan keluar di Jalan Haji Bau. Satu arahnya dimulai dari perempatan Jalan Ahmad Yani-Jenderal M Jusuf-HOS Cokroaminoto-Jenderal Sudirman (sudut Lapangan Karebosi). Lurus melalui depan Polrestabes Makassar dan balaikota, ke arah Jalan Riburane samping RRI. Kemudian menuju Jalan Ujung Pandang-Pasar Ikan lalu ke Haji Bau.

Selain itu, Dishub juga mengkaji perubahan arah di sejumlah ruas jalan, di antaranya Jalan Sungai Saddang, Landak Baru, Rajawali, Kakatua, dan Jalan Arief Rate. Kemungkinannya, jalan yang satu arah saat ini akan dibalik arus lalulintasnya dari yang ada sekarang. Atau dibuat menjadi hanya satu arah untuk ruas jalan yang masih dua arah.

Jasman memastikan, rancangan tersebut rampung dalam waktu dekat. Setelah itu ia laporkan ke wali kota untuk kemudian memasuki tahapan sosialisasi.

”Kalau tahapan sosialisasinya ada tiga bulan. Kita berharap perubahan arah ini bisa menjadi solusi mengatasi kemacetan. Kami target September sudah bisa disosialisasikan,” tandasnya.

Anggota DPRD Kota Makassar sependapat dengan rencana perubahan arah di sejumlah ruas jalan. Mereka bahkan merekomendasikan ke pemkot untuk menerapkan jalur one way alias satu arah.

Anggota Komisi C DPRD Makassar Irwan ST mengatakan, penerapan jalur satu arah merupakan terobosan yang baru yang harus dilakukan pemkot untuk menanggulangi kemacetan parah yang kerap terjadi.

“Harus itu one way diterapkan. Dengan cara ini, minimal 30 persen kemacetan akan berkurang,” ujarnya di gedung DPRD Makassar, Kamis (24/8/2017).

Legislator Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menilai, penerapan jalur satu arah di ruas jalan yang rentan kemacetan atau penumpukan kendaraan akibat jalan yang sempit, tentu akan membuat arus lalu lintas lebih lancar.

”Banyak di Makassar ini, jalannya sempit tapi dibuat dua arah. Makassar harus bisa berkaca dari daerah lain yang lalulintasnya jarang macet, karena lebih banyak menerapkan satu arah,” jelas Irwan.

Ia berharap, di bulan September mendatang perubahan arah tersebut sudah bisa diterapkan. Sebab wali kota dan jajarannya juga punya niat seperti itu.

Anggota Komisi C Susuman Halim mengingatkan, untuk perubahan dan membuat jalan satu arah diperlukan koordinasi dengan banyak pihak. Misalnya kepolisian serta masyarakat selaku pengguna jalan.

”Walau tidak mudah, tapi pemkot harus bersinergi dengan semua pihak untuk menerapkan jalur satu arah, utamanya kepolisian dan pengendara,” imbuhnya.

Legislator Partai Demokrat ini melanjutkan, jika merujuk pada beberapa kota besar yang telah menerapkan sistem satu jalur untuk mengurai kemacetan, pemkot harus merencanakan sistem tersebut ke seluruh ruas jalan Makassar. Terkecuali pada jalan utama yakni Jalan Perintis Kemerdekaan, AP Petta Rani, Urip Sumoharjo, Ratulangi dan Jalan Veteran.

“Harusnya semua ruas jalan kita terapkan, karena setiap jalan tentu saling mempengaruhi,” ujarnya.

Bagaimana tanggapan warga terkait rencana itu? Dewi Lestari, warga Jalan Landak Baru mengatakan, jika Landak Baru diubah menjadi satu arah, maka hal tersebut sangat merugikan dirinya. Sebab, Dewi yang saat ini sedang menempuh kuliah di Jurusan Antropologi UNM (kampus UNM Gunung Sari) ini akan kesulitan untuk pergi ke kampusnya.

“Kalau diubah satu arah dari Petta Rani ke Veteran, susahka pergi ke kampus. Harus berputar dulu ke Veteran, terus Alauddin sampai Petta Rani baru sampai k di kampus. Kalau pulangku tidak ada masalah,” cetus Dewi, kemarin.

Di singgung soal kemacetan di jalan tersebut yang kerap terjadi, warga Jalan Landak Baru Lorong 8 Nomor 113 ini mengatakan tidak menjadi masalah. Karena ia sama sekali tidak pernah terjebak macet. “Saya kalau pergi pagi-pagi, pulang tengah malam, jadi tidak pernah kena macet,” kata Dewi sambil tertawa.

Lain halnya dengan Rahmat, warga Jalan Landak lainnya. Ia menganggap jika perubahan arah jalan menjadi sangat penting. Rahmat yang merupakan seorang karyawan di salah satu perusahaan swasta ini, merasakan langsung dampak kemacetan yang sering terjadi di jalan tersebut.

“Bagus itu kalau dijadikan satu arah, supaya tidak macet. Tidak masalah kurasa kalau harus putar-putarka pulang. Lebih baik begitu dari pada macet terus,” kata Rahmat.

Agus, seorang pengendara yang biasa mengakses Jalan H Bau punya pendapat lain. ”Bikin bingung kalau berubah lagi arahnya. Saya biasa lewat Jalan Ratulangi menuju Metro (Tanjung Bunga). Itu jalur saya menuju tempat kerja. Kalau diubah, tambah jauh lagi jalurku,” ungkap Agus.

Sementara Haeruddin berharap, bila ada perubahan arah jalan, semoga hasilnya tidak merugikan pengendara. ”Semoga tidak mutar-mutar dulu baru bisa sampai tujuan. Jalurnya jangan jauh. Itu saja,” pintanya. (arf-ita-nug-jun/rus)