Penipuan First Travel Sudah Tercium Sejak 2015

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Kelakuan biro perjalan umrah First Travel ternyata sudah pernah mendapat sempritan dari Kemenag pada 2015 lalu.

Hal itu pelaporan salah seorang jemaahnya terkait kualitas pelayanan yang sangat tak sesuai dan jauh dari yang dijanjikan.

“Kemenag fasilitasi dan melakukan pemanggilan kepada First Travel tahun 2015 itu,” ujar Sekretaris Jenderal Kementerian Agama (Kemenag) Nur Syam‎ ditemui di Kantor Kemenkopolhukam, Jakarta, Selasa (29/8).

Melalui pertemuan tersebut, perusahaan milik Andika dan Anniesa itu akhirnya sepakat mengembalikan atau refund dana jemaah yang merasa dirugikan.

“Kemudian refund dan sudah difasilitasi juga,” tambahnya.

Selain itu, lanjutnya, di tahun yang sama Kemenag juga telah memberikan surat peringatan tertulis terhadap First Travel.

Surat teguran tertulis itu, terangnya, adalah teguran agar perusahaan tersebut memperbaiki fasilitas calon jamaahnya.

“(Peringatan tertulis itu diberikan) karena ada ha-hal yang tidak ditetapi dan tidak sesuai dengan perjanjian,” jelasnya.

Seperti diketahui, polisi sampai sejauh ini sudah menetapkan tiga tersangka, yakni pasangan pemilik First Travel Andika Surachman Siregar dan Anniesa Desvitasari Hasiubuan.

Disusul selanjutnya adik Anniesa, Siti Nuraidah Hasibuan alias Kiki Hasibuan yang memiliki jabatan sebagai komisaris perusahaan merangkap direktur keuangan.

Ketiganya diduga kuat melakukan penipuan, penggelapan dan pencucian uang calon jemaan umrah.

Sebelumnya, Kepala PPATK Kiagus Ahmad Badaruddin mengaku sudah menuntaskan analisa dan penelusuran rekening perusahaan tersebut dan akan diserahkan ke penyidik.

Kiagus menuturkan, pihaknya menemukan bahwa benar sebagian dana dalam sejumlah rekening tersebut dipakai untuk kepentingan bisnis pemberangkatan umrah.

Namun, PPATK juga menemukan bahwa ada juga aliran dana dari rekening tersebut yang dipakai untuk investasi bisnis.

“Ada juga aliran dana untuk kepentingan pribadi,” tuturnya.

Kendati demikian, Kiagus tak bisa menyebut besaran dan rincian aliran dana hasil analisi PPATK tersebut.

Yang lebih mengejutkan, lanjut Kiagus, dari analisis PPATK itu juga ditemukan bahwa perusahaan tersebut diduga kuat telah melakukan tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Pasalnya, pihaknya menyebut ada dugaan kuat pasangan Andika dan Anniesa menyamarkan dana hasil kejahatannya.

“Kalau ada upaya untuk menyamarkan ya itu namanya TPPU,” pungkasnya. (Fajar/pojoksatu)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...