Begini Kengerian Bus yang Terjun ke Jurang, Ternyata Awaknya Positif..

Rabu, 30 Agustus 2017 - 21:08 WIB

FAJAR.VO.ID, TENGGARONG – Tim Satlantas Polres Kukar masih menyelidiki penyebab kecelakaan tunggal bus Pulau Indah. Setelah memeriksa saksi, polisi akan meminta keterangan saksi ahli. Cara itu ditempuh untuk menelusuri dugaan kerusakan bus sebelum insiden terjadi.

Kasat Lantas Polres Kukar AKP Ramadhanil menjelaskan, pengembangan penyelidikan masih terus dilakukan. Termasuk menelusuri kemungkinan adanya kelalaian pada sopir atau kerusakan pada kendaraan.

Dia tak membantah, jika dari hasil pengembangan penyelidikan, diperoleh informasi bus bernopol KT 7029 AK yang dikemudikan Suwarno itu sempat bermasalah pada kaki-kaki bus. Jadi, menyebabkan bus tak bisa dikendalikan. Lalu oleng hingga masuk ke jurang sedalam sekitar 3 meter. “Ada komponen yang patah di bagian bawah bus. Ini masih ditelusuri. Bagian yang mana. Makanya perlu keterangan ahli,” tegas Ramadhanil.

Dikatakan, keterangan saksi ahli itu berasal dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kaltim. Terutama untuk mencocokkan keterangan saksi yang diperiksa. “Dari situ, akan terlihat ada sanksi pidana atau tidak,” tambahnya.

Sementara itu, Dirlantas Polda Kaltim Kombes Pol Subandriya memastikan, dalam peristiwa kecelakaan ini, sopir dan kernet masih ditahan. Meski belum ada penetapan tersangka. Namun, hal ini penting melengkapi pemeriksaan. Apalagi, terang dia, laporan terakhir mengenai tes urine, salah satu awak bus positif sebagai pengguna narkoba.

“Laporan yang saya terima, kernet bus terindikasi (mengonsumsi narkoba). Tapi masalah ini sudah kami limpahkan ke Polres Kukar. Kami backup mana kala diperlukan. Kami ingin Polres Kukar bisa belajar menangani kasus-kasus seperti ini. Di mana saya minta mereka menyelesaikannya dalam sepekan,” ucapnya.

Jika memang terbukti, maka akan ada kernet bus dikenakan hukum lain sesuai dengan pelanggarannya. Hal itu yang akan menangani juga dari Polres Kukar. Subandriya kembali menegaskan, jika pihaknya mengumpulkan jasa angkutan massal khususnya bus antarkota/provinsi. Khususnya para sopir. Akan dilakukan pemberian pembinaan agar kejadian serupa kembali terjadi.

“Kami akan panggil agen travel yang melayani rute antarkota dan antarprovinsi. Karena tanggung jawab mereka besar dalam melayani perjalanan dengan jarak jauh dan jumlah penumpang yang banyak,” jelasnya.

MEMAKSAKAN KEHENDAK

Salah satu faktor utama kecelakaan datang dari pengguna jalan. Meski ada faktor lain, seperti kendaraan, kondisi jalan, sampai kehendak alam. Pemegang otoritas sangat mewanti-wanti pengendara selalu berhati-hati. Mereka juga diimbau meningkatkan kewaspadaan dan tetap berkonsentrasi saat berkendara.

Kecelakaan bus antarkota antarprovinsi (AKAP) yang terjadi dua hari lalu (27/8) membukakan mata. Faktor manusia menjadi salah satu penyebab kecelakaan. Dinas Perhubungan (Dishub) Kaltim bersikap. Teguran akan disampaikan kepada perusahaan angkutan massal tersebut. “Pasti kami beri peringatan,” tegas Kepala Dishub Kaltim Salman Lumoindong, kemarin (28/8).

Evaluasi menyeluruh akan dilakukan kepada perusahaan itu. Tentu, perusahaan akan diminta memperketat pengawasan kepada para sopir. Terang dia, perusahaan harus sampai memastikan kondisi fisik si sopir. Salah satu pembinaan yang selama ini rutin berjalan adalah ramp check(pemeriksaan kelayakan kendaraan) ke lapangan dan tes urine kepada sopir.

Bila selama ini hanya dilakukan saat arus mudik dan balik Lebaran, ke depan intensitas pemeriksaan akan ditingkatkan. “Bisa jadi 2–3 bulan sekali dilakukan tiba-tiba. Tidak terjadwal. Kalau tidak layak, tak boleh jalan,” ucap dia.

Bahkan, terang Salman, bila perusahaan angkutan massal itu melakukan kesalahan fatal. Seperti kecelakaan yang menyebabkan jatuh korban jiwa, tak menutup kemungkinan izin trayek direkomendasi dicabut. Dishub Kaltim hanya bisa sebatas rekomendasi, mengingat izin trayek antarprovinsi diterbitkan Kementerian Perhubungan. “Kalau berulang-ulang bisa saja begitu (cabut izin trayek),” tuturnya.

Namun, terang dia, ada mekanisme sebelum itu dijatuhkan. Mulai pembinaan, peringatan satu dan dua, hingga ketika tak bisa ditoleransi dan fatal. Langkah tegas dengan mencabut izin trayek ditempuh.

Upaya pembinaan lain juga dilakukan. Seperti, memberikan penyuluhan tertib dan aman berlalu lintas kepada sopir. Materi diberikan kepolisian, Jasa Raharja, dan Dishub. Di samping itu, apresiasi diberikan kepada awak kendaraan umum teladan. “Perlombaan tingkat provinsi. Ini bentuk penghargaan agar si pemenang bisa memotivasi awak kendaraan lain,” sebutnya.

Tahun lalu, bahkan, awak kendaraan umum dari Kaltim berhasil menjadi juara dua tingkat nasional. Itu mengartikan pembinaan yang dilakukan selama ini cukup berhasil. “Kalau ada yang bermasalah, itu hanya oknum,” imbuhnya.

Kepala Bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Dishub Kaltim Mahmud Samsul Hadi menerangkan, hampir 90 persen faktor kecelakaan datang dari si pengemudi. Faktor teknis kendaraan pun datang dari pengguna. Ketika abai terhadap kelayakan kendaraan menjadi salah satu penyebab kecelakaan.

Sejauh ini, terang dia, belum ada alat yang bisa mendeteksi sopir sudah beristirahat cukup atau belum sebelum berkendara. “Kembali kepada si kesadaran sopir. Kadang merasa mampu, tapi ternyata di luar kemampuannya. Jangan memaksakan, apalagi rute Samarinda-Banjarmasin dengan waktu dan jarak tempuh yang jauh,” ucap dia.

Dalam UU 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sebenarnya sudah diatur mengenai jam kerja pengemudi. Setiap empat jam semestinya harus beristirahat minimal setengah jam digantikan dengan sopir pengganti atau cadangan. “Aturan sudah mengatur sedemikian rupa supaya tidak capek, lelah, atau mengantuk. Kalau itu ditaati dan konsisten dilaksanakan, minimal bisa menekan kecelakaan,” terangnya.

Sebelumnya, bus Pulau Indah KT 7029 AK berangkat dari Sungai Keledang, Samarinda Seberang, Minggu (27/8). Transportasi jurusan Samarinda-Banjarmasin itu melaju dengan kecepatan tinggi menuju Balikpapan. Tepat di Jalan Soekarno-Hatta, Km 29, Samboja, Kutai Kartanegara, kondisi jalan lurus menanjak. Lalu, menikung ke kiri.

Saat itulah pengemudi bus diduga berusaha ingin mendahului kendaraan di depannya. Namun, secara bersamaan, saat hendak mendahului, tiba-tiba ada masalah pada bagian kaki-kaki bus yang membawa 50 penumpang tersebut. Di situ terjadi out of control. Bus masuk ke jurang sedalam 3 meter.

Sebanyak dua korban yang mengalami luka yaitu Hamsani (67), warga Jalan Jurusan Pelaihari, Km 24, Kecamatan Landasan Ulin Selatan, Banjarmasin. Korban diketahui mengalami luka memar di bagian pinggang.

Kemudian, korban lain, Abdul Hamid (75) warga Jalan Vitikan, Nomor 25, RT 1, Kelurahan Telaga Sari, Kecamatan Amuntai Selatan. Dia mengalami luka memar di bagian bahu sebelah kiri dan memar di bagian dahi sebelah kanan. Adapun korban yang tak cedera melanjutkan perjalanan ke Banjarmasin. (qi/(ril/*/rdh/rom/k8)