Kasus Antraks di Maros, Pemerintah Dinilai Lalai

Rabu, 30 Agustus 2017 - 13:56 WIB

FAJAR.CO.ID – Kasus antraks ternyata sudah terjadi tiap tahun di Kabupaten Maros, Sulsel. Karena itu, Anggota komisi tiga DPRD Maros, Akbar Endra, menilai pemerintah telah abai dalam penanganan dan antisipasi merebaknya bakteri antraks di wilayah Kecamatan Cenrana.

“Faktanya, bukan hanya terjadi kali ini saja, tapi hampir tiap tahun. Parahnya lagi karena bukan hanya sapi, tapi bakteri ini juga sudah menjangkiti warga di sana,” kata Akbar saat ditemui, Rabu (30/8/2017).

Menurut Akbar, dengan fakta ini, menandakan minimnya pengawasan dari Dinas Pertanian dalam hal ini Bidang Peternakan. Padahal, lanjut Akbar, alokasi anggaran untuk mengantisipasi kasus antraks ataupun penyakit hewan lainnya sudah disetujui oleh Dewan.

“Dewan sudah setujui alokasi anggaran untuk mengantisipasi kasus seperti ini ke dinas. Jadi tidak ada alasan bagi dinas lamban mengantisipasinya,” ungkapnya.

Selain itu Akbar menghimbau agar korban antraks juga harus diperhatikan dengan penanganan maksimal dari Dinas Kesehatan. Pasien yang diduga antraks tidak boleh dibiarkan berlama-lama, karena ditakutkan bisa menular ke orang lainnya.

“Memang belum ada kasus penularan dari manusia ke manusia, tapi pasien yang diduga antraks ini harus mendapatkan pelayanan maksimal untuk mengantisipasi penularannya. Jangan sampai itu terjadi hanya karena kita tidak mengantisipasi,” lanjutnya.

Kepala Bidang Kesehatan Ternak Dinas Pertanian Maros, Musyawal tidak menampik jika kasus antraks di wilayah Cenrana terjadi tiap tahunnya. Menurutnya, pihak Peternakan sudah maksimal melakukan pengawasan dan antisipasi antraks tersebut.

“Kami akui kasus antraks ini memang terjadi tiap tahun. Biasanya di bulan satu dan dua, tapi baru kali ini terjadi di bulan Agustus. Namun, tiap tahun jumlahnya menurun,” terangnya.

Lebih lanjut Musyawal menjelaskan, pihaknya sudah melakukan vaksinasi sejak bulan Februari lalu. Namun, dia akui ada beberapa ternak yang tidak divaksin karena sedang dalam keadaan bunting dan ditakutkan mengalami keguguran.

“Mungkin kita kebobolannya di situ. Bisa saja sapi yang tidak divaksin karena bunting ini yang mengidap antraks dan menyebar ke yang ternak lain,” sebutnya.

Saat ini, kata Musyawal, upaya yang dilakukan guna mengantisipasi penyebaran antraks di Desa Rompegading adalah dengan melakukan pengobatan ke seluruh ternak. Selain itu, isolasi keluar masuknya sapi juga masih tetap dilakukan.

“Selain mengisolir, Saat ini kami sudah melakukan pengobatan ke semua sapi disana. Nantinya, kalau tidak adalagi laporan antraks, 21 hari kemudian akan kami lakukan vaksinasi,” katanya.

Sebelumnya, dua ekor sapi yang mati mendadak di dusun Moncongjai, Desa Rompegading, Cenrana positif terjangkit bakteri antraks. Bahkan, seorang warga, Firman (32) juga diduga terjangkit penyakit sapi gila ini setelah menginjak bangkai sapi yang mati itu.

(m bakri / inikata / fajar)