Prabowo-Yusril Harus Kerja Keras Lawan Taktik Blusukan Jokowi

Jumat, 1 September 2017 - 06:02 WIB

FAJAR.CO.ID — Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Prabowo Subianto, dan Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB), Yusril Ihza Mahendra, dikabarkan akan bersatu untuk maju di pilpres 2019.

Lantas apakah pasangan ini cocok dan bisa bisa bersaing dengan Joko Widodo (Jokowi) di pesta demokrasi dua tahun mendatang?

Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia (UAI), Ujang Komarudin, mengatakan, apabila Prabowo dan Yusril berpasangan maka akan sangat cocok. Karena Prabowo dikenal dengan figur militernya dan Yusril adalah seorang sipil.

“Nah kemudian Yusril ini sipil dengan kekuatan dari kelompok Islam dan seorang intelektual. Jadi komposisinya cocok,” ujar Ujang kepada JawaPos.com, Kamis (31/8/2017).

Selain itu, Prabowo yang seorang berdarah Jawa juga sangat cocok dari non Jawa. Kebetulan Yusril berasaln dari luar Jawa, yakni Belitung Timur.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) ini juga menambahkan, saat ini Yusril juga diyakininya punya dukungan tambahan dari para simpatisan dan kader-kader Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Di mana Yusril diketahui sebagai kuasa hukum dari HTI.

“Ini keuntungan Yusril, paling enggak kader dan simpatisannya akan mendukung Yusril, dan saya berkeyakinan itu,” ungkapnya.

Namun demikian Ujang melihat Prabowo dan Yusril masih sulit mengimbangi Jokowi untuk bisa menembus masyarakat di tingkat bawah.

Karena Jokowi sudah identik dengan merakyat dan blusukannya. Sehingga, strategi blusukannya Jokowi diyakini Ujang akan kembali dipakai pada Pilpres 2019 nanti.

“Basis Pak Prabowo militer dan Pak Yusril dari kaum itelektual biasanya kan intelektual hanya main di kalangan menengah atas. Itu dinilai kesulitan menembus basis massa bawah. tentu ini PR-nya jik mereka jadi maju di 2019,” pungkasnya.

(cr2/JPC)