Kasihan.. Ayah ini Sering Dipaksa Bekerja dan Dimarah-marahi Anaknya, Beberapa Kali Pernah Usaha Bunuh Diri

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, SAMARINDA- Jika orangtua kaya, anak jadi raja. Jika anak kaya, orangtua bisa jadi pembantu. Pribasa yang sebenarnya jarang terlontar. Tapi peribasa ini sepertinya cukup menggambarkan perasaan yang dialami Palapo.

Pria 62 tahun ini sebenarnya sudah cukup renta. Namun dia tetap dipaksa bekerja oleh salah satu anaknya. Karena tidak nurut, Palapo pun harus “makan hati.” Saban hari dia harus menerima perlakuan tak layak dari anaknya. Palapo dimarahi. Sebuah perlakuan yang tak pantas diterima oleh seorang ayah.

Diduga jengkel karena sering dimarahi, Palapo yang pernah bekerja di kebun ini nekat terjun ke sungai. Dia menceburkan diri dari jembatan setinggi 8 meter di Jalan Gelatik, Samarinda Utara, pukul 10.00 Wita, kemarin (30/8).

Pria tersebut diketahui tinggal di Jalan Karya Baru, Kelurahan Gunung Kelua, Samarinda Ulu. Beruntung aksi nekatnya diketahui waga sekitar. Nyawa Palapo berhasil diselamatkan.

Seorang saksi mata bernama Irwan mengatakan, sebelumnya korban sudah dua kali berusaha bunuh diri dengan cara menceburkan diri ke sungai. Saat itu, Irwan dan rekannya sedang duduk di salah satu warung di dekat jembatan. Irwan lantas melihat seoang pria tua berpakaian lusuh tanpa alas kaki tiba-tiba naik ke pagar jembatan. Alangkah tekejutnya Irwan, pria itu langsung menceburkan diri ke sungai. Tanpa pikir panjang Irwan bersama warga lain pun bergegas menuju jembatan.

Dia melihat orang tua itu timbul tenggelam di sungai. Tapi tidak berteriak minta tolong. Selanjutnya Irwan dan beberapa warga lain turun ke bawah jembatan menuju batang untuk menyelamatkan nyawa Palapo. Namun anehnya setelah berhasil diselamatkan dari derasnya arus sungai, Palapo justru kembali terjun.

Irwan dan rekannya pun bingung. Karena Palapo terjun kembali dan larut hingga 200 meter. “Kami pun mengejar kembali untuk menyelamatkannya,” kata Irwan.

Setelah berhasil menyelamatkan nyawa Palapo untuk ke dua kalinya, beberapa relawan kebencanaan pun datang. Para relawan yang datang mencoba menenangkan Palapo. Dari pengakuannya, pria asal Pulau Buton, Sulawesi Tenggara ini mengaku depresi dan sakit hati lantaran sering dimarahi anak perempuannya di rumah. ”Saya sudah tua. Tapi dipaksa bekerja,” lirih Palapo.

Ditambahkan Palapo, dirinya memiliki 7 anak kandung dan 1 anak tiri. Empat di antaranya sudah menikah. Sedang istrinya yang juga sudah berusia lanjut, saat ini tengah bekerja di kebun.

“Istri saya tidak tahu jika saya jalan kaki dari rumah hingga ke sini. Mudahan anak saya bisa mengerti keadaan saya,” tambah Palapo.
Selang tak berapa lama, anak sulung Palapo datang untuk menjemput, setelah mendengar kabar ayahnya nekat hendak mengakhiri hidupnya. (kis/nha)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...