Heboh! Dua Warga Meninggal Gara-gara Pakai Shampo Kutu – FAJAR –
Kriminal

Heboh! Dua Warga Meninggal Gara-gara Pakai Shampo Kutu

FAJAR.CO.ID, BALIKPAPAN – Kutu rambut adalah parasit di kepala yang paling menjengkelkan. Bagi yang dirundung masalah kutu, tak ada cara lain kecuali menyingkirkannya.

Tapi, jangan mengikuti Akhir Rustiyani. Dua buah hatinya Qoulan Shaqilla (9) dan Khamila (5) meninggal dunia usai “diobati”.

Warga Dusun Tegal Ombo RT 02, RW 05, Desa Kiringan, Kecamatan Boyolali Kota itu mengobati kutu yang bersarang di rambutnya bersama ketiga buah hatinya pada Jumat malam (25/8) sekira pukul 21.00 WIB dengan obat kutu yang tak diketahui mereknya.

Tak berselang lama, satu keluarga tersebut pusing-pusing, mual-mual, dan lemas. Lantaran kondisi terus memburuk, sekitar pukul 23.00 WIB mereka langsung dibawa ke rumah sakit. Sang ibu, Klarissa, dan Khamila dibawa ke RSUD Pandan Arang, Boyolali.

Sedangkan Qoulan Shaqilla dilarikan ke Rumah Sakit Umi Barokah, Boyolali. Nahas, takdir berkata lain. Nyawa Qoulan tak tertolong meski tim medis telah memberikan perawatan intensif. Anak yang paling kecil, Khamila, sempat kritis. Sayang, nyawa bocah itu akhirnya tak terselamatkan juga. Sedangkan sang ibu dan anak sulungnya, Klarissa (12), hanya mengalami mual-mual biasa.

Obat yang dipakai sejenis obat hama merek Diazinon. Diazinon merupakan insektisida yang biasa digunakan untuk membasmi hama tanaman seperti kutu loncat, kutu putih, dan hama pengisap buah kakao.

Menyikapi pada kejadian yang ada, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Kaltim tengah memburu obat kutu berbahaya yang menyebabkan kematian bagi penggunanya. Seperti yang terjadi di Boyolali, Jawa Tengah itu.

Kepala BPOM Kaltim, Fanani Mahmud mengatakan bahwa pihaknya telah turun ke lapangan pasca adanya isu obat kutu yang mematikan tersebut. Ia pun mengambil sejumlah sampel dan selanjutnya diperiksa kandungannya. Sampai saat ini diketahui dari sampel yang diambil, tidak ditemukan adanya kandungan yang berbahaya.

“Kami mengambil sampel skala prioritas untuk dilakukan uji sampling. Tapi sampai saat ini kami tidak menemukan,” katanya.

Meski begitu pihaknya tetap akan melanjutkan pencariannya di sejumlah tempat yang belum didatangi. Sebab obat hama tanaman ini memang hampir terdistribusi di sejumlah wilayah di Indonesia tanpa terkecuali di Kalimantan. BPOM masih terus melakukan pemeriksaan terhadap sampel-sampel obat kutu berbagai jenis.

“Tapi kami masih akan tetap turun lagi karena masih menjadi isu. Seperti kemarin kami turun soal garam yang ada kacanya. Itu juga kami turun ke lapangan dan tidak ada yang mengandung kaca. Jadi kalau ada isu kami turun ke lapangan,” ujarnya.

Fanani mengakui bahwa obat kutu acapkali dijual di toko tanaman, toko kosmetik hingga toko kelontongan milik masyarakat. Sehingga pihaknya pun berencana akan melakukan pemeriksaan di tempat tersebut. Meski begitu, dirinya belum dapat menyimpulkan kandungan obat dari Diazonin yang menyebabkan kematian tersebut.

“Kalau yang terkait obat kutu rambut didistribusikan di toko kosmetik dan toko kelontongan. Kalau mengandungnya macam-macam,  kalau memang ada nanti kami akan uji. Sekarang kami belum tahu. Kami sudah turun dan lagi mencari. Nanti kalau ada ya kami uji, tapi sampai sekarang gak ada,” terangnya.

Di lain sisi masyarakat agar lebih berhati-hati dalam menggunakan produk. Harus benar-benar cermat. Hindari pembelian produk yang tidak memiliki nomor registrasi BPOM maupun label halal MUI untuk makanan.

“Carilah produk yang sudah ter-register. Jadi kalau melihat produk itu waspadai KLIK. Yaitu kemasan, label, izin edar dan kedalwuarsa,” pungkasnya. (yad/war)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!