Diduga Bayi Debora Kekurangan Biaya Lalu Meninggal di Rumah Sakit, DPR: Ada yang Salah

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Seorang bayi berusia empat bulan Tiara Debora Simanjorang meninggal dunia karena diduga terlambat mendapat penanganan medis dari RS Mitra Keluarga, Kalideres, Jakarta Barat.

Dia terlambat penanganan akibat kekurangan biaya. Ibunda Debora, Henny Silalahi menyesalkan sikap RS tersebut.

Sementara pihak RS membantah menolak pasien karena kekurangan biaya.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR Sodik Mudjahid menilai ada yang salah dalam implementasi sistem perlindungan anak dan kesehatan di Indonesia.

Dia mengatakan, kesalahan mungkin terjadi karena tidak terjangkau oleh fasilitas jaminan kesehatan dan perlindungan sosial lainnya dari Kementerian Sosial (Kemensos).

Selain itu, Sodik juga melihat kesalahan dan kelemahan implementsi sistem informasi dan penyuluhan bagi masyarakat tentang fasilitas-fasilitas pemeritah sehingga dia tidak tersentuh.

“Komisi VIII selalu mengkritisi update data masyarakat miskin yang berhak menerima berbagai fasilitas perlindungan sosial yang datanya banyak tidak akurat,” ujarnya, Minggu (10/9).

Ketua DPP Partai Gerindra itu juga menilai ada kesalahan rumah sakit yang masih selalu meminta jaminan yang tanpa melihat situasi kondisi pasien.

“Harusnya kalau swasta bisa pakai dana CSR untuk kaum miskin,” tegas Sodik.

RS Mitra Keluarga dalam pernyataan resminya di mitrakeluarga.com, Kamis (7/9) membantah Debora meninggal dunia dikarenakan tidak mendapat fasilitas ICU berhubung keluarga pasien kesulitan biaya.

Menurut RS, pasien datang ke IGD pada 3 September 2017 pukul 3.40, dalam keadaan tidak sadar, kondisi tubuh tampak membiru.

Pasien dengan riwayat lahir prematur, riwayat penyakit jantung bawaan (PDA) dan keadaan gizi kurang baik.

Dalam pemeriksaan didapatkan napas berat, dan dalam, dahak banyak, saturasi oksigen sangat rendah, nadi 60 kali per menit, suhu badan 39 derajat celcius.

Pasien segera dilakukan tindakan penyelamatan nyawa life saving berupa penyedotan lendir, dipasang selang ke lambung dan intubasi (pasang selang nafas).

Lalu dilakukan bagging (pemompaan oksigen dengan menggunakan tangan melalui selang napas), infus, obat suntikan dan diberikan pengencer dahak (nebulizer).

“Pemeriksaan laboratorium dan radiologi segera dilakukan,” kata pihak RS dalam klarifikasi di mitrakeluarga.com yang dikutip Sabtu (10/9).

Kondisi setelah dilakukan intubasi lebih membaik, sianosis (kebiruan) berkurang, saturasi oksigen membaik, walaupun kondisi pasien masih sangat kritis.

Pihak RS kemudian menjelaskan kondisi Debora kepada ibu pasien dan penanganan selanjutnya dianjurkan di ruang khusus ICU.

Ibu pasien mengurus di bagian administrasi dijelaskan oleh petugas tentang biaya rawat inap ruang khusus ICU.

“Tetapi ibu pasien menyatakan keberatan mengingat kondisi keuangan,” ungkap bunyi pernyataan RS.

Ibu pasien kembali ke IGD. Dokter IGD menanyakan kepesertaan BPJS kepada ibu pasien. Ibu pasien menyatakan punya kartu BPJS.

Dokter menawarkan untuk dibantu merujuk ke RS yang bekerja sama dengan BPJS, demi memandang efisiensi dan efektivitas biaya perawatan pasien.

Ibu pasien menyetujui. Dokter membuat surat rujukan dan kemudian pihak RS berusaha menghubungi beberapa RS yang merupakan mitra BPJS.
Dalam proses pencarian RS tersebut baik keluarga pasien maupun pihak RS kesulitan mendapatkan tempat.

Akhirnya pada pukul 09.15 keluarga mendapatkan tempat di salah satu RS yang bekerjasama dengan BPJS.

Dokter RS tersebut menelepon dokter Mitra Keluarga menanyakan kondisi pasien.

Sementara berkomunikasi antardokter, perawat yang menjaga dan memonitoring pasien memberitahukan kepada dokter bahwa kondisi pasien tiba-tiba memburuk

Dokter segera melakukan pertolongan pada pasien. Setelah melakukan resusitasi jantung paru selama 20 menit.

“Segala upaya yang dilakukan tidak dapat menyelamatkan nyawa pasien,” tulis RS Mitra Keluarga dalam pernyataannya. (boy/jpnn)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...