Persembahan Anak-anak Gereja HKBP untuk Rohingya

Minggu, 17 September 2017 - 10:38 WIB

FAJAR.CO.ID — Sabtu (16/9/2017), Gedung Sopo Marpikir, Jakarta Timur, lebih ramai dari biasanya. Ribuan anak Sekolah Minggu Gereja HKBP se-Jakarta menggelar ibadah raya dan pergelaran budaya anak.

Acara ini diisi juga dengan doa bersama untuk krisis kemanusiaan yang menimpa etnis Rohingya di Myanmar.

Kordinator acara dan juga Preses HKBP Distik VIII DKI Jakarta, Pendeta Midian KH Sirait, mengatakan, secara khusus, doa-doa yang dilantunkan itu bertujuan agar kekerasan di Rakhine, Myanmar, terhadap etnis Rohingya, segera dihentikan. Sebab, tidak ada agama apapun yang mengajarkan kekerasan.

“Kami berdoa khusus, kapada anak-anak yang tidak berdosa, yang tidak punya apa-apa agar dilindungi dari pada kuasa-kuasa jahat di dunia ini. Seperti yang terjadi kepada anak-anak saudara kita di Rohigiya, Bangladesh,” kata Pendeta Sirait kepada wartawan.

Ia juga berharap, agar acara yang bertemakan “Firman Allah Mendidik dan Memperlengkapi Setiap Orang untuk Perbuatan Baik” itu, ditujukan juga untuk memperkenalkan secara dini kepada anak tentang kesadaran dan arti pentingnya mencintai sesama umat. Sehingga, memiliki empati dan kepedulian kemanusiaan yang tinggi.

“Kami melihat anak-anak di Myanmar adalah anak Tuhan. Anak sekolah minggu HKBP, bersama-sama berdoa agar Tuhan memberikan jalan keluar, khusus kepada saudara kita di Rohingya,” harapnya.

Ketua Panitia, Roni Lumbantobing mengatakan, pengenalan budaya pada anak sejak dini dirasa tepat untuk mengajarkan makna keberagaman. Sehingga, membuat anak lebih menerima pada setiap perbedaan.

“Kita perlu menanamkan kesadaran toleransi dan kemajemukan bangsa Indonesia kepada generasi muda secara lebih dini, terutama lewat pendidikan. Pemahaman itu akan memberikan dasar-dasar karakter kuat sebagai manusia yang lebih terbuka, demokratis, dan menghargai perbedaan,” katanya.

Sementara itu, seorang siswa, Sabam Aruan dengan polos mengatakan bahwa ia berdoa agar setiap kekerasan, segera dihentikan. Ia pun tak kuasa saat melihat begitu banyak foto kekerasan dan pengungsian besar-besaran warga Rohingya di media sosial.

“Kalau aku sih masih enak bisa sekolah. Kalau mereka, bagaimana? Makanya kita berdoa agar umat saling mencintai,” ucap Sabam.

Dalam pergelaran budaya tersebut, sejumlah persembahan seni kolosal yang penuh pukau ditampilkan. Seperti tari, nyanyi dan karnaval pakaian adat serta pementasan uning-uningan budaya Batak. Hadir dalam acara ini, perwakilan anak dari 83 gereja HKBP se-Jakarta.

Acara ini pun ditutup dengan menyanyikan lagu kebangsaan. Serta seremonial pemberian bantuan, baik materi, obat dan tenaga medis dari salah satu perwakilan gereja HKBP di Kalideres, kepada para pengungsi Rohingya yang ditampung di sejumlah tempat di Medan, Sumut. (san/rmol/fajar)