DPR Marah-marah Dengar Jenazah Bayi Diantar Pakai Angkot

Sabtu, 23 September 2017 - 05:15 WIB
FAJAR.CO.ID, JAKARTA- Kabar adanya seorang ibu yang terpaksa menggondong jenazah bayinya di dalam angkot menuai kecaman dari DPR.

Anggota Komisi IX DPR Muhammad Iqbal mengaku geram mendengar kabar itu. Dia kesal, lantaran kondisi tersebut menunjukkan sikap rumah sakit (RS) yang tidak profesional dan membeda-bedakan pasien.

Kabar adanya seorang ibu menggendong jenazah bayinya di dalam angkot disebarluaskan akun Instagram seputar_lampung, Rabu (21/9) lalu. Akun seputar_lampung menuliskan bahwa ibu itu tidak mendapat layanan ambulans dari pihak RSUD Abdoel Moeloek Lampung lantaran menggunakan BPJS Kesehatan.

“Terkait kejadian ini, tentu sangat kita sesalkan. Seharusnya hal ini tidak perlu terjadi jika pihak RSUD Abdoel Moeloek Lampung bersikap kooperatif terhadap pasiennya, termasuk juga pasien BPJS Kesehatan,” kata Iqbal, Jumat (22/9).

Kejadian ini, sambung Iqbal, hanya berselang beberapa hari dari kasus meninggalnya bayi Tiara Debora Simanjorang akibat ditolak RS Mitra Keluarga, Cengkareng, Jakarta Barat. Bayi Debora ditolak lantaran merupakan pasien BPJS Kesehatan.

“Dengan adanya kejadian ini semakin terlihat adanya perbedaan pelayanan terhadap peserta BPJS Kesehatan. Seharusnya, semua pasien diberikan pelayanan yang sama tanpa membedakan statusnya,” ucapnya.

Menurut politisi PPP ini, berdasarkan standar operasional prosedur (SOP), rumah sakit tersebut wajib menyediakan ambulans dan mengantarkan jenazah sampai rumah duka jika ada pasien meninggal dunia. Makanya, tidak ada alasan bagi rumah sakit untuk menolak mengantar jenazah pasien ke rumah duka.

“Oleh karena itu, saya minta Kementerian Kesehatan untuk menegur dan memberi peringatan terhadap pihak RSUD Abdoel Moeloek. Ini penting agar ke depannya hal seperti ini tidak terulang kembali,” tandasnya.

Pihak RSUD Abdoel Moeloek mengaku, hal itu terjadi karena ada miskomunikasi antara keluarga pasien dengan sopir ambulans. Direktur Pelayanan RSUD Abdoel Moeloek Padilangga menyatakan, saat jenazah bayi itu akan diantar, sopir ambulans meminta keluarga melengkapi administrasi serta menyelesaikan perbedaan nama bayi.

Sebab, saat daftar masuk rumah sakit, bayi itu menggunakan nama ibunya, Delvasari. Padahal, nama bayi itu adalah Berlin Istana. Pihak keluarga yang saat itu sedang panik langsung membawa jenazah bayinya dengan menggunakan kendaraan umum. [ian]