Cerita Yogi, Bocah Delapan Tahun yang Pilih Masuk Islam dan Ingin Jadi Ustad – FAJAR –
Daerah

Cerita Yogi, Bocah Delapan Tahun yang Pilih Masuk Islam dan Ingin Jadi Ustad

Yogi, bocah yang memeluk islam

Hidayah menyapa. Yogi Setiady yang baru berusia delapan tahun menjadi mualaf atas keinginan dirinya sendiri. Dia memeluk Islam disaksikan ibunya yang non muslim.

Jaidi Chandra, Ketapang

Tidak banyak alasan Yogi ingin memeluk agama Islam. Dia mengaku ingin masuk surga dan jika sudah besar nanti bercita-cita menjadi ustadz. “Saya memang sering salat di masjid, shalawat dan mengaji,” singkat Yogi ketika ditemui Rakyat Kalbar didampingi ibunya Mariana Erie Yantie, 43, di kediamannya Jalan Mayjend Sutoyo, Desa Kalinilam, Kecamatan Delta Pawan, Ketapang, Selasa (10/10).

Mariana Erie Yantie mengaku ikhlas merestui keinginan anak bungsunya untuk memeluk agama Islam. Meskipun dia dan juga suaminya masih beragama non muslim. “Sejak kecil, ketika baru pandai berbicara, Yogi kerap menolak ketika hendak dibawa ke rumah ibadah guna melaksanakan ibadah sesuai keyakinan kita,” ujarnya.

Disiarkan rakyat Kalbar, menurut Mariana, selama ini cuma satu kali Yogi ikut ke rumah ibadah keyakinan keluarganya. Setelah itu dia tidak mau ikut. Bahkan menangis dan keluar dari rumah ibadah keyakinan orangtuanya. Dia mengatakan, sejak kecil Yogi seolah mengerti ajaran Islam. Bahkan setiap kali melihat masjid yang merupakan tempat ibadah umat muslim, Yogi kecil kerap mengatakan “ala aba” maksudnya adalah Allahu Akbar.

“Ketika ada tetangga yang muslim melaksanakan selamatan seperti tahlilan, Yogi kerap mengajak saya pergi ke rumah tetangga tersebut,” ungkap Mariana. Mariana yang sehari-hari bekerja sebagai ibu rumah tangga ini menceritakan keseharian Yogi ketika berusia mendekati masuk Sekolah Dasar (SD). Putra bungsunya itu sering berbicara kepadanya untuk mengikuti orang yang salat. Bahkan, ketika kelas 1 SD, Yogi sering pergi dari rumah, terutama pada pukul 15.00 wib, menjelang magrib dan pada hari Jumat. “Ternyata Yogi pergi salat di surau dekat rumah,” jelas Mariana.

Keinginan Yogi ingin memeluk Islam juga terlihat ketika mulai aktif belajar di kelas 1 SD. Pada saat pelajaran agama, setiap siswa dipisahkan antara agama Islam dan non muslim.  “Saat itu Yogi hendak diajak masuk kelas agama non muslim. Namun Yogi meronta dan menangis ngotot tetap mau belajar pada kelas agama Islam,” tuturnya.

Mariana mengaku, melihat sikap anaknya itu membuat dirinya mulai luluh. Bahkan dia sempat meneteskan air mata ketika Yogi mulai duduk di bangku kelas 2 SD.  “Yogi meminta saya untuk mengislamkannya dengan alasan supaya bisa belajar mengaji dan mengatakan supaya ketika meninggal tidak kemana-mana. Saya meneteskan air mata saat itu,” ungkapnya.

Mulai dari situlah, Mariana menceritakan apa yang diinginkan Yogi kepada gurunya. Dia meminta guru anaknya itu membawa Yogi ketika ada sunatan massal. Akhirnya Yogi dikhitan. “Ibu guru Yogi nanya, apakah saya sudah ikhlas anak saya memeluk Islam,” kata Mariana.

Dia bersama suaminya Tedy mendiskusikan hal tersebut. Kemudian suaminya setuju kalau Yogi masuk Islam. “Saya ikhlas anak saya memeluk agama Islam, meskipun saya dan suami masih berstatus non muslim. Kami sudah banyak membelikan Yogi baju muslim dan ada juga bantuan dari orang yang peduli sama Yogi,” tutur Mariana. Dia mengaku sudah lama menghargai keinginan anaknya yang ingin masuk Islam, dengan menjaga makanan dan minuman Yogi agar selalu halal. “Yogi pernah saya bawa pulang kampung ke hulu Desa Serengkah Tumbang Titi, di sana Yogi lebih memilih makan mie instan,” ucapnya.

Kepala SDN 18 Sukabangun, Ahmadi mengatakan, pihak sekolah membantu Yogi dengan bantuan Alquran, perlengkapan salat serta bantuan lainnya. Bantuan ini diberikan kepada Yogi yang merupakan muridnya setelah menjadi mualaf. “Nama Yogi Setiady sekarang sudah menjadi Muhammad Yogi Setiady,” jelas Ahmadi.

Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Delta Pawan, Ketapang, M. Syafi’ie membenarkan bahwa Yogi Setiady yang baru berusia delapan tahun, sebelumnya non muslim telah memeluk Islam. Bahkan orangtua kandung dan guru sekolahnya telah menjadi saksi pengucapan dua kalimah syahadat, Kamis (5/10) lalu.

“Betul, Yogi sudah masuk Islam. Saya membimbing pembacaan dua kalimah syahadat di hadapan dua orang saksi. Ibu kandungnya juga menyaksikan dan hadir juga guru sekolahnya,” ungkap M Syafi’ie dikonfirmasi, Selasa (10/10).

Dia menjelaskan, anak tersebut masih duduk di kelas 2 SDN 18 Desa Sukabangun. Saat ke KUA, Yogi diantar langsung oleh ibu kandungnya sendiri. Orangtuanya telah mengikhlaskan anaknya masuk Islam. Karena anaknya terus memaksa agar dia bisa memeluk agama Islam. “Anak itu juga rajin ke surau setiap salat lima waktu dan belajar mengaji,” kata M. Syafi’ie.

Ketika dites mengaji, Yogi sudah hafal surah Al Fatihah, Al Ikhlas, do’a ibu bapak, do’a makan dan lain-lain. “Ditanya soal cita-citanya, anak itu ingin menjadi ustadz,” tuturnya. Kemudian saat pembacaan dua kalimah syahadat, Yogi begitu lancar mengucapkannya. Bahkan hafal artinya. “Nama Yogi sekarang menjadi Muhammad Yogi Setiady,” jelas M. Syafi’ie. (*)

loading...

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!