Viral, RS Arya Medika Dianggap Terlantar Pasien Hingga Meninggal, Begini Kata IDI

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, TANGERAN- Sebuah video tengah viral di sosial media soal perlakuan Rumah Sakit Arya Medika di Tangeran yang dianggap menolak pasiennya hingga meninggal di dalam mobil.

Kejadian itu memicu amarah salah satu LSM Komunitas Pengawas Korupsi (KPK) di rumah sakit tersebut. Sekelompok pemudah yang tergabung dalam Ormas itu, melabrak seorang dokter di ruang kerjanya.

Kejadian ini membuat Sekretaris Jenderal Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Adib Khumaedi angkat bicara. Menurut Adib, dokter RS Arya Medika dalam hal ini tidak sepenuhnya bersalah.

“Jadi pasien itu datang dari rumah sakit yang sebelumnya di rumah sakit Hermina Bitung. Dari Hermina dengan kondisi yang memang sudah dalam keadaan koma,” kata Adib saat dihubungi JawaPos.com, (Grup Fajar) Jakarta, Minggu (15/10).

Adib menuturkan, setiap rumah sakit memiliki pelayanan dan fasilitas yang berbeda. Begitu juga pelayanan di RS Hermina belum bisa menangani pasien tersebut, karena masuk kedalam kategori rumah sakit tipe C. Sehingga, pasien harus dirujuk ke rumah sakit lain yang mempunyai pelayanan lengkap dan memadai atau rumah sakit dengan kategori tipe B.

“Cuma memang dirujuknya pasien ini dibawa oleh keluarga pasien sendiri. Kalau di Tangerang kan Hermina tipe C mungkin dirujuknya ke tipe B atau rumah sakit yang lebih besar,” ucap Adib.

Lantas, pasien tersebut dibawa keluarganya ke rumah sakit Arya Medika. Pihak keluarga pasien pun menayakan kepada dokter terkait kondisi pasien yang saat itu tengah memburuk.

Namun, lanjut Adib, RS Arya Medika juga ternyata tidak memiliki fasilitas lengkap sebagaimana yang dibutuhkan pasien. “(RS) Arya Medika minta ini harus segera dibawa ke rumah sakit yang memang memiliki fasilitas lebih lengkap. Karena Arya Medika juga sama tidak memiliki fasilitas itu. Di dalam perjalanan menuju rumah sakit yang dituju kemudian pasien meninggal di mobil,” ungkap Adib.

Adib mengungkapkan, saat itu rumh sakit Arya Medika memang tidak menolak pasien yang sedang keadaan memburuk, tetapi memang tidak punya fasilitas untuk menangani pasien tersebut. Sehingga, dokter menganjurkan untuk segera dibawa ke rumah sakit yang lebih baik atau rumah sakit yang memiliki fasilitas lengkap.

“Arya Medika nggak menolak, karena memang nggak punya fasilitas lengkap. Sehingga pasien harus segera dibawa ke rumah sakit yang lebih baik dan keluarga pun sudah paham dengan hal itu,” tutur Adib.

Terkait nasib pasien yang akhirnya meninggal, Adib mengaku bahwa rumah sakit Arya Medika memang memiliki fasilitas terbatas sehingga akhirnya menyarankan untuk dirujuk ke rumah sakit yang lebih baik fasilitasnya.

“Seperti halnya pada saat pasien harus butuh ICU, tapi kita tidak punya ICU itu harus dirujuk ke rumah sakit yang punya ICU,” ujar Adib.

Mengetahui ada pasien meninggal, sejumlah anggota LSM KPK lantas mendatangi RS Arya Medika. Mereka bahkan melabrak salah seorang dokter untuk meminta pertanggungjawaban.

Sejauh ini, lanjut Adib, IDI Banten tengah mencari audit medis pasien tersebut untuk melihat penyebab sebenarnya keadaan pasien hingga akhinya tewas di jalan.

“IDI Banten akan mencoba melakukan audit medis terkait kondisi sebenarnya pasien itu seperti apa. Kita juga belum dapat kabar seperti apa dia koma, dan dilakukan tindakan apa,” ujarnya.

“Saya minta laporan juga audit medisnya dari pihak rumah sakit, dari prosedur pelayanan yang sudah dilakukan dengan keterbatasan sarana yang ada di Arya Medika maka dia kemudian meminta pasien itu kepada rumah sakit yang lebih lengkap sarananya,” tandas Adib.

(cr5/JPC/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...