Indonesia Menuju Lumbung Pangan Dunia Tahun 2045

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, PONTIANAK – Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-37 kembali digelar. Kali ini, Provinsi Kalimantan Barat yang bertindak sebagai tuan rumah bertempat di Makodam XII Tanjungpura, Kabupaten Kubu Raya. Peserta yang datang hadir dari seluruh provinsi di Indonesia turut memeriahkan agenda tahunan yang akan berlangsung  mulai 19-22 Oktober 2017.

Para peserta hadir dengan membawa hasil pertanian unggulan utuk dipamerkan. Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian Agung Hendriadi dalam laporannya dihadapa Menteri Pertanian Amran Sulaiman menjelaskan peringatan HPS kali ini mengusung tema “Menggerakkan Generasi Muda Dalam Membangun Pertanian Menuju Indonesia Lumbung Pangan Dunia”.

Menurutnya, tema yang dipilih sangat strategis mengingat pada tahun 2035 mendatang Indonesia akan mengalami bonus demografi dimana jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai jumlah yang cukup besar.

“Bonus demografi ini juga perlu didukung dengan penciptaan lapangan pekerjaan yang prospektif dan inovatif serta modern di bidang pangan untuk mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia tahun 2045,” kata Agung.

Disamping itu, mengacu pada tema tersebut pihaknya juga melibatkan peserta dari kalangan universitas maupun gerakan pemuda yang diinisiasi dari pemerintah pusat dan daerah. Dengan demikian, melalui peringatan HPS dapat dijadikan momentum untuk menguatkan peran para generasi muda untuk dapat mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia 2045 mendatang.

Olehnya itu, untuk mendukung Indonesia sebagai lumbung pangan dunia telah dilakukan upaya penerapan teknologi pertanian di masyarakat di lima kabupaten perbatasan. Untuk Kalimantan Barat terletak di Kabupaten Sambas, Bengkayang, Sanggau dan Kapuas Hulu dengan total luasnya mencapai 5.000 Ha.

“Dari empat daerah ini salah satunya akan dilakukan panen besok pagi itu ada di Sanggau seluas 100 Ha padi sekaligus persiapan ekspor perdana ke Malaysia,” ujarnya.

Sementara itu, Markus Smulders perwakilan dari Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO) di Indonesia dan Timor Leste mengatakan dalam peringatan HPS di Pontianak menekankan pentingnya investasi di pedesaan untuk mengubah masa depan migrasi.

“Pembangunan yang komprehensif di pedesaan dapat mengubah banyak hal. Menghapus kemiskinan, mengurangi potensi konflik dan memberdayakan masyarakat miskin di pedesaan untuk terlibat dalam rantai makanan yang menguntungkan dan keberlanjutan akan membuat migrasi sebagai pilihan,” ujarnya.

Mengenai tema yang diusung, lanjut Markus, di Indonesia sendiri saat ini ada 45 persen penduduknya tinggal di daerah pedesaan dan pekerja formal di seluruh negeri masih bekerja di bidang pertanian dan dinilai sangat penting. Selama 15 tahun terakhir penduduk daerah perkotaan di Indonesia meningkat sebanyak 50 juta orang. Sementara jumlah penduduk di pedesaan menyusut sebanyak 5 juta orang.

“Pada tahun 2016 saja jumlah orang yang pindah dari daerah pedesaan ke perkotaan mencapai sekitar 7 juta orang, padahal generasi muda sangat dibutuhkan di pedesaan. Nah, untuk mengurangi laju migrasi kita harus memberikan insentif yang tepat dan mendemonstrasikan bahwa terlibat dalam pertanian menjadi amat menguntungkan dan dapat membuat hidup lebih nyaman,” tukasnya. (Hrm/Fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...