Depresi Berat Bisa Berujung Bunuh Diri, Jadi Waspadalah!

Sabtu, 28 Oktober 2017 - 03:07 WIB
FAJAR.CO.ID- BUNUH diri bukan solusi dari masalah. Yang ada malah menambah parah. Meski begitu, tidak sedikit jumlah individu yang memilih mengakhiri hidup dengan sengaja. Menukil data kepolisian, sepanjang 2017 hingga Oktober, sedikitnya ada enam peristiwa bunuh diri terjadi di Kota Tepian.  Dari jumlah tersebut, polisi menyimpulkan bahwa para pelaku bertindak demikian lantaran tak kuasa menahan problem hidup.

Menanggapi motif tersebut, psikolog klinis Ayunda Ramadhani menjelaskan, bunuh diri muncul karena kondisi depresi akut. Depresi, terang dia, muncul karena akumulasi masalah yang dipendam sendiri. Lebih lanjut, kondisi itu tercipta karena seseorang tidak piawai mengungkapkan gejolak emosi dalam diri.

Sebab itu, bunuh diri bisa dicegah. Gelagat seseorang sengaja mengakhiri hidup bisa dideteksi. Salah satunya, perubahan sikap drastis. “Itu mereka lakukan karena tak bisa lagi menguasai diri,” sebut Ayunda.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Samarinda Kompol Sudarsono menjelaskan, banyak pertimbangan sebelum menetapkan sebuah perkara terjadi karena murni bunuh diri. Paling krusial, yakni memeriksa tempat kejadian perkara (TKP).

Dalam sebuah kejadian, dia tidak bisa menyalahkan pihak yang berupaya memindahkan jasad pelaku bunuh diri dengan alasan tidak tega. Hanya, dari sudut pandang polisi, upaya itu berisiko mempersulit kinerja mereka. Sebab, kondisi TKP tidak lagi seperti saat kejadian.

Dari sederet kejadian tersebut, sebagian besar pelaku bunuh diri adalah laki-laki. Tentang fakta itu, Ayunda memaklumi. Sebab, menurut dia, kaum adam lebih berisiko mengalami depresi ketimbang perempuan. Itu karena pria mengutamakan berpikir menggunakan logika. Berbeda dengan perempuan yang mengambil keputusan condong melibatkan perasaan.

Namun, fakta berbeda ditunjukkan data World Health Organization (WHO) yang menunjukkan rasio perempuan bunuh diri lebih tinggi ketimbang pria. Per 100 penduduk Indonesia, terdapat 3,7 pria dan 4,9 perempuan berisiko mengakhiri hidup dengan bunuh diri.

Senada dengan Ayunda, dokter spesialis kejiwaan Jaya Mualimin menuturkan, dorongan bunuh diri berawal dari kondisi depresi. Terlebih, perempuan berisiko mengalami gangguan psikis lebih besar ketimbang pria. Selain faktor eksternal seperti problem hidup, kondisi internal, misalnya kondisi fisik tubuh, turut memengaruhi. Di antaranya, siklus bulanan seperti menstruasi, hingga hamil dan menopause. “Karena itu, perempuan harus lebih pandai memanajemen emosi,” ujarnya.

Sementara itu, Ayunda dalam kesempatan wawancara berbeda menjelaskan, terdapat rentang waktu antara kondisi depresi hingga keputusan untuk bunuh diri. Karena itu, gejalanya bisa mudah terlihat. “Tak mau makan, enggan bersosialisasi, lebih pendiam, adalah ciri orang yang depresi cukup parah,” terangnya.

Ketika seseorang menunjukkan tanda-tanda itu, apalagi sampai berbicara soal bunuh diri atau kematian, lingkungan terdekat harus segera ambil tindakan. Dimulai dengan pemberian perhatian lebih. “Bagi satu orang, mungkin sepele. Tetapi bagi orang lain, bisa jadi itu adalah problem berat. Itu karena pola penerimaan terhadap stres berbeda-beda. Bergantung pembentukan karakter yang dari pola asuh mereka sejak kecil,” imbuhnya. (*/nyc/*/dra/ndy/k8)