50 Persen Terumbu Karang di Sulsel Rusak Akibat “Destructive Fishing”

  • Bagikan

FAJAR.CO.ID — Upaya penangkapan ikan menggunakan alat yang tidak ramah lingkungan (destructive fishing) sangat marak terjadi di perairan Sulawesi Selatan.Berdasarkan data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Sulwesi Selatan, lebih dari 50 persen kerusakan terumbu karang yang diakibatkan adanya aktivitas destructive fishing tersebut.Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Selatan, Sulkaf S. Latief, menegaskan bahwa penegakan hukum terhadap pelaku destructive fishing sangatlah penting. Dan, perairan Sulsel menjadi rujukan dalam hal praktik destructive fishing.”Kita sudah katakan, dan kita berkomitmen, yang namanya destructive fishing tidak ada lagi ampun. Kami juga lakukan kerja sama dengan Lantamal dan Polairut untuk mengawasi ini,” ujarnya saat seminar Focus Group Service, Penanggulangan Destructive Fishing di Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Sulsel, Makassar, Rabu (1/11/17).Senada, Kepala Balai Karantina Ikan, Sitti Chadidjah, mengungkapkan bahwa indikator dari kerusakan terumbu karang khususnya diperairan Sulsel, diakibatkan dengan adanya praktik pengeboman dan pembiusan ikan.”Jadi mereka menangkap ikan dengan menggunakan alat sejenis bom dan alat bius ikan, alat biusnya dari bahan kimia berupa sianida. Alat tersebut didatangkan secara terselubung dari Malaysia,” ungkapnya kepada awak media.Untuk saat ini, wilayah di Sulsel yang paling banyak terindikasi kerusakan terumbu karang yaitu pulau Karangrang di Pangkep, dan yang sangat riskan yaitu pulau yang ada di Sinjai. (sul/fajar)

  • Bagikan