Bayi Moh. Amin Terlahir Tanpa Tempurung Kepala

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, SAMPANG – Kesedihan menyelimuti Jumadi dan Rusma. Pasangan suami istri (pasutri) asal Desa Banjar Talela, Kecamatan Camplong, Sampang, itu mengalami getir hidup ketika Moh. Amin, putranya yang baru lahir, mengalami cacat fisik tidak wajar.

Bayi malang itu hanya bisa menangis. Di balik inkubator yang membungkus badannya, tangisnya terdengar parau. Moh. Amin sudah dipasangi infus dan selang di hidung. Itu sejak dia dirawat di RSUD Sampang, Senin (30/10).

Jawa Pos Radar Madura menjenguk langsung kondisi terakhir bayi yang diberi nama Moh. Amin tersebut. Nama itu dibuat bersama antara orang tua dan Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Sampang.

Di ruang Kenanga RSUD Sampang, Moh. Amin diletakkan terpisah dengan bayi-bayi lain yang kritis. Hanya ada lima bayi yang satu ruangan dengan Amin. Di balik inkubator, sekali lagi suaranya terdengar menangis lirih. Hampir tak terdengar.

Saat Jawa Pos Radar Madura menjenguk Moh. Amin, kedua orang tuanya tidak ada. Menurut keterangan perawat, orang tua hanya meninggalkan nomor telepon. ”Kalau ada tindakan, kami biasanya menghubungi nomor itu,” ucap perawat RSUD Sampang yang namanya enggan dikorankan.

Dokter spesialis anak yang memberikan tindakan terhadap penyakit kelainan yang dialami Moh. Amin memvonis bahwa harapan bagi Amin untuk hidup sangat kecil. Hasil diagnosis, Moh. Amin terkena multipel kongenital anomali.

Dokter Made Yunita Saraswati Mulia yang menangani Moh. Amin mengatakan, kondisi pasien sudah sangat lemah. Bayi berwarna kuning. ”Saya curiga ke arah infeksi berat. Atau bahasa medisnya kita sebut sepsis,” terang dokter spesialis anak asal Denpasar itu.

Menurut dia, kuning itu tetap dilakukan fototerapi. Karena untuk bayi dengan kadar kuning yang tinggi, kemudian untuk perawatan di kepala dan bagian otaknya, dikompres dengan kasa NaCL. ”Sekarang usianya sudah empat hari. Pasien ini lahir di RSUD Sampang Jumat (27/10) di ruang bersalin,” katanya Selasa (31/10).

Made Yunita menyampaikan, pascalahir dan diketahui ada kelainan yang berat, keluarga disarankan masuk ruang NICU. Namun karena alasan biaya, keluarga memilih pulang paksa. ”Jadi, bukan dipulangkan oleh pihak rumah sakit, tapi karena alasan biaya tadi,” ujarnya.

Menurut dia, kalau sudah tidak ada tempurung kepala dan otaknya terekspos, harapan untuk hidup sangat kecil. Dari hasil pemeriksaan fisik, jelas Made Yunita, Amin menderita bibir sumbing dengan kelainan berat, wajah dan mata terbuka. ”Bayi-bayi ini biasanya hanya bertahan beberapa jam setelah lahir atau beberapa hari. Kita mau melakukan tindakan sudah tidak bisa, tapi tetap saya rawat,” katanya.

Sejauh ini, penanganan yang dilakukan hanya suportif. Yakni, pasang infus dan antibiotik serta diberikan sinar. Tindakan itu hanya mendukung kehidupan sang bayi, tidak bisa menyembuhkan kelainan atau cacat fisik yang dialami Moh. Amin. ”Kalaupun dirujuk tidak akan ada penanganan apa pun. Saya sudah sampaikan kepada orang tua pasien. Saya yakin, karena sudah konsultasi,” tegasnya.

Sayangnya, konsultasi Made Yunita hanya dengan dokter yang bertugas di RSUD Sampang. Belum ada konsultasi yang dilakukan dengan rumah sakit rujukan. Misalnya, ke rumah sakit di Surabaya. ”Saya konsultasi sama dokter spesialis anak yang di sini (RSUD Sampang),” katanya.

Dia mengaku sudah pernah menangani kasus-kasus serupa seperti kelainan yang dialami Moh. Amin. Seperti di Bali, kata Made Yunita, kasus-kasus seperti Moh. Amin ini memang tidak ada penanganan. ”Saya pernah dapat pasien seperti Moh. Amin ini tiga sampai empat kali. Dan tidak ada penanganan,” ucapnya.

Ketua DKR Sampang Moh. Iqbal Fatoni berharap pihak RSUD Sampang proaktif dan serius menangani kelainan atau cacat fisik berat yang dialami Moh. Amin. Dia mengaku kecewa saat menanyakan kepada dokter yang menangani. Sebab, sejauh ini pihak RSUD Sampang belum berkonsultasi dengan rumah sakit di Surabaya.

Dia juga mempertanyakan keseriusan pemerintah dalam membantu keluarga pasien. Juga agar Moh. Amin tetap memiliki harapan hidup. Fatoni berharap adanya donatur yang ikhlas membantu Moh. Amin dan keluarga. ”Kami akan melakukan komunikasi lagi dengan pemkab dan RSUD. Selain itu, kami mencari relawan untuk mengumpulkan biaya penyembuhan Amin,” tukasnya. (Fajar/JPR)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...