Waspadai Data Survei Abal-abal, Kenali Metode yang Tepat

Setelah menemukan metode sampling yang sesuai, surveyor bisa menentukan metode estimasi atau penghitungan. Namun, kadang lembaga survei menggunakan metode estimasi yang tidak sesuai desain. Masing-masing metode survei harus diperlakukan dengan cara penghitungan yang berbeda.

”Selama ini, ada yang menghitung dengan cara dikumpulkan, dijumlahkan, lalu dirata-rata. Padahal, tidak bisa begitu,” tuturnya. Metode estimasi penjumlahan itu, lanjut dia, hanya berlaku untuk simple random sampling. Bukan untuk metode cluster atau stratified.

Secara sederhana, Tuti menerangkan bahwa estimasi antara satu gugus (cluster) dan strata dengan yang lainnya harus berbeda. Misalnya, ketika melakukan survei pilgub di dua daerah, Banyuwangi dan Surabaya. Jumlah populasi dua wilayah tersebut berbeda. Jika ingin hasilnya dirata-rata, sampel Banyuwangi dan Surabaya tidak bisa dijumlahkan. ”Banyuwangi punya jumlah populasi yang berbeda dengan Surabaya. Dihitungnya sesuai dengan populasi masing-masing,” terangnya.

Kekeliruan itu bisa berimbas pada hasil survei yang bias. Selain metode estimasi, penyebab bias disebabkan error sejak awal atau pada penggalian data. Tuti menyebut tiga penyebab bias tersebut. ”Bisa jadi, sampel yang keliru, rumus yang keliru, atau pertanyaan yang keliru,” ucapnya.

Kembali pada sampel, mencari kecenderungan suara untuk pilgub di Jatim, peneliti harus cermat menentukan besar responden. Pendiri salah satu lembaga survei The Republic Institute Sufyanto memaparkan, survei untuk pilgub Jatim idealnya menggunakan 1.200 responden. Berdasar pengalamannya, margin error yang dianjurkan dalam sebuah survei mencapai 3,2–4 persen untuk jumlah sampel responden tersebut. ”Semakin besar jumlah sampelnya, semakin kecil margin error-nya,” paparnya.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor :


Comment

Loading...