Penyebar Konten Gay di Medsos Ngaku Mengidap HIV – FAJAR –
Kriminal

Penyebar Konten Gay di Medsos Ngaku Mengidap HIV

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri meringkus Taufik Gani (22 ) karena melakukan penyebaran dan ajakan bertindak asusila sesama jenis di media sosial.

Saat petugas melakukan penangkapan di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, Taufik melakukan perlawanan dan mengaku mengidap virus HIV (Human Immunodeficiency Virus).

Kasubbag Operasi Patroli Siber Bareskrim Bareskrim Polri, AKBP Susatyo Purnomo mengatakan, saat dilakukan penangkapan Taufik mengaku mengidap sakit HIV, sehingga petugas langsung membawanya ke RS Tarakan, Tanah Abang Jakarta Pusat. Pelaku akhirnya dilanjutkan ke RS Polri Kramat Jati.

“Tersangka dalam status penahanan dan kami bantarkan dalam perawatan RS Polri,” kata AKBP Susatyo di RS Polri, Kramatjati, Jumat (3/11).

Wakil Kepala Rumah Sakit RS Polri, Kombes Pol Musyafar membenarkan jika Taufik Gani dirawat di salah satu Klinik di bawah RS Polri dengan informasi mengidap HIV. Musyafar pun memastikan pihaknya akan merawat Taufik sebagaimana mestinya.

“Ada klinik khusus menangani kasus HIV. Memang berbeda dengan RS lain, karena di RS Polri ada ruang rawat tahanan, karena tersangka dan saksi kalau sakit di rawat di sini. Kami tidak ada bedanya,” ucap Musyafar.

Meski demikian, Musyafar tidak menjelaskan secara detail terkait kepastian apakah Taufik telah positif mengidap penyakit aids. “Hasil kami tidak bisa sampaikan, kaitannya dengan kode etik. Kami tidak bisa sampaikan positif atau negatif,” tutur Musyafar.

Atas perbuatannya, Taufik terancam Pasal 29 undang-undang No. 44 tahun 2008 tentang Pornografi dengan ancaman pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp 250 juta dan paling banyak Rp 6 miliar.

Pelaku juga dikenakan Pasal 45 ayat (1) dan atau pasal 45A ayat (2) Undang-undang Nomor 19 tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang lnformasi dan Transaksi Elektronik dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1 Miliar. (Fajar/JPC)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!