Mantan Hakim Tipikor Meninggal di Lapas – FAJAR –
Daerah

Mantan Hakim Tipikor Meninggal di Lapas

FAJAR.CO.ID, SEMARANG – Nasub mantan hakim ad hoc Pengadilan Tipikor Semarang Asmadinata bin Ali Imron berakhir tragis. Ia meninggal di dalam jeruji besi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas I Kedungpane, Semarang, Selasa (14/11/2017). Terpidana 10 tahun penjara kasus suap perkara mantan Ketua DPRD Grobogan M Yaeni  ini dikabarkan meninggal akibat sakit.  Praktis, Asmadinata menyusul M Yaeni yang juga meninggal di dalam Lapas Kedungpane pada 19 Juli 2014 lalu.

“Benar, dia (Asmadinata, Red) meninggal dunia pada pukul 07.50 pagi tadi (kemarin, red). Beliau memang sedang sakit TBC akhir-akhir ini,” kata Kepala Lapas Kedungpane Semarang Taufiqurrahman kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (14/11/2017).

Taufiq menerangkan, dari laporan petugas lapas, sebelumnya pada Senin (13/11/2017) Asmadinata datang ke Poliklinik Lapas karena mengeluh sakit. Kepada petugas, dia mengaku mual dan muntah. Petugas lantas memberikan infus dengan RL 30 tetes/menit sebanyak 2 colf, tepatnya selesai pukul 20.00 WIB. Sekitar pukul 13.00 WIB, pihak keluarga sudah datang.

“Pukul 14.30, dia (Asmadinata) dan keluarganya sudah diinformasikan oleh dokter lapas bahwa infus selesai pukul 20.00 dan agar obat yang diberikan untuk diminum. Kemudian pukul 16.45, dia minta kembali ke kamarnya di blok Janaka (J) dan sempat mengeluhkan sakit,” jelasnya.

Keesokan harinya sekitar pukul 07.50, Asmadinata menghembuskan nafas terakhirnya. Selanjutnya jenazah Asmadinata dibawa ke RSUD Tugurejo Semarang guna dilakukan pemeriksaan. Setelah itu, jenazah diberangkatkan ke Medan dengan pesawat di Bandara Internasional Ahmad Yani, Semarang.

“Dia divonis 10 tahun penjara dan denda Rp  200 juta subsider 6 bulan kurungan,” jelasnya.

Dokter Lapas Kedungpane yang menangani Asmadinata, dr Joyce Jolanda Maya, menyebutkan, sebelumnya almarhum sempat mengeluhkan lemas dan akan dibawa ke poliklinik. Namun sekitar pukul 07.50, almarhum sudah meninggal saat masih dilakukan pemeriksaan di blok J kamar 10. “Diperkirakan meninggalnya karena serangan jantung (abdomen), yang bersangkutan juga punya riwayat penyakit TBC dan DM (diabetes melitus),” katanya.

Tim kuasa hukum Asmadinata, Theodorus Yosep Parera dan Eko Suparno mengaku hampir setiap minggu atau bulan ketika kliennya butuh dana pasti menghubungi kantornya. Dana tersebut biasanya langsung diantar oleh stafnya. Yosef mengaku tergerak untuk membantu biaya hidup  Asmadinata selama di lapas lantaran kliennya tersebut tidak memiliki istri dan anak yang bisa rutin membezuk.

“Sejak ditahan, setiap butuh duit pasti ngomong. Tapi, sebulanan ini setiap telepon dan SMS, saya selalu lupa mengirimkan dana. Tahu kalau meninggal saya kaget sekali,” kata Yosep. (Fajar/JPR)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!