Peran Penting Tito di Akhir Pengejaran Setya Novanto

0 Komentar

FAJAR.CO.ID — Kalau bukan karena dukungan Kapolri, Jenderal Tito Karnavian, KPK tidak akan “pede” menangkap Setya Novanto.

KPK sadar akan peran penting Tito. Berkali-kali pimpinan KPK mengucapkan terima kasih. Bahkan, saat konferensi pers di RSCM, Minggu malam (19/11/2017), sebelum Novanto dipindahkan ke rutan KPK, Wakil Ketua KPK Laode M. Syarif, sampai menyela waktu konpers yang hendak ditutup untuk mengulang rasa terima kasihnya ke Tito.

Padahal, di awal konferensi pers, ucapan terima kasih itu telah meluncur dari mulutnya. “Terima kasih kepada Kapolri dan Wakapolri yang telah membantu secara maksimum mulai dari menjaga keselamatan tersangka dan operasi yang berlangsung selama ini,” ujar Syarif yang didampingi Jubir KPK Febri Diansyah. “Kami berharap proses penyelesaian perkara ini berjalan lancar.”

Kapolri sendiri kembali menyatakan dukungannya kepada KPK dengan menyatakan tidak menggubris permintaan perlindungan yang diajukan Novanto.

“Saya sepenuhnya serahkan mekanisme itu sudah ditangani KPK. Kita ikuti aturan hukum yang ada pada KPK dan Polri akan mendukung langkah-langkah KPK. Titik,” kata Tito kepada wartawan usai membuka perdagangan saham di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), kemarin.

Untuk diketahui, usai diperiksa KPK dini hari kemarin, pukul 01.15 WIB, Novanto menegaskan, sudah melakukan berbagai upaya hukum. Salah satunya, mengajukan surat perlindungan hukum kepada Presiden, Kapolri, dan Kejaksaan Agung.

Permintaan perlindungan hukum tersebut sebelumnya juga diutarakan pengacara Setya, Fredrich Yunadi. Kendati begitu, baik Fredrich maupun Novanto tak merinci perlindungan semacam apa yang mereka maksudkan.

KPK juga pernah mengucapkan terimakasih kepada Kapolri saat berupaya menangkap Setya Novanto malam ini di kediamannya Jalan Wijaya XIII Nomor 19, Jakarta Selatan, Rabu (15/11). Saat itu, penyidik tak berhasil membawa Novanto karena dia tak ada di rumahnya.

“Kami berkoordinasi dengan Polri dan koordinasi berjalan sangat baik. Kami ucapkan terima kasih atas dukungan Polri tersebut,” ungkap juru bicara KPK Febri Diansyah.

Sebelumnya, Kapolri juga mencegah terjadinya kasus Cicak versus Buaya Jilid IV. Potensi terjadinya kasus itu dipicu terbitnya Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) kasus pemalsuan surat dan penyalahgunaan wewenang dengan terlapor Ketua KPK, Agus Rahardjo dan Wakil Ketua Saut Situmorang. “Nggak. Saya selaku Kapolri sangat mendukung proses proses penegakan hukum. Nah, kita semua paham hubungan selama ini kami dengan lembaga penegakan hukum lain seperti KPK, Kejaksaan, PNS,” tegasnya, Kamis (9/11) lalu.

Tito ogah cari ribut. Dia pun berkomitmen menjaga hubungan baik korps bhayangkara dengan seluruh lembaga, termasuk KPK. Jika sampai ada pertikaian di antara mereka, akan ada pihak-pihak yang diuntungkan.

“Kami sebagai lembaga Polri sangat ingin berusaha menjaga hubungan baik dan sinergi. Saya tak ingin sebagai pimpinan Polri, Polri berbenturan dengan lembaga lain. Nanti ada yang diuntungkan,” ujar eks Kapolda Papua ini.

Tito kembali berbicara di Hotel Mercure Ancol, Jakarta Utara. Dia hanya mengulang pernyataannya tadi. Tapi ditegaskannya sekali lagi, Polri tidak ingin membuat gaduh dengan mencuatnya masalah ini ke publik.

“Saya menyampaikan komitmen, prinsip, tak ingin masalah menjadi gaduh dan membuat hubungan Polri dan KPK menjadi buruk,” tegas bekas Kapolda Metro Jaya ini. Polri, juga berjasa menangkap Miryam Haryani yang menjadi buronan KPK. “Kami ucapkan terima kasih pada Tim Polri atas kerjasama ini,” ujar Ketua KPK Agus Rahardjo, Senin (1/5). Banyak jasa Tito bagi KPK. (rmo/fajar)

 

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...