Tolong Dong! HET BBM Dikaji Ulang

Rabu, 22 November 2017 22:13

FAJAR.CO.ID, TALISAYAN – Rencana Pemerintah Kecamatan Talisayan mengatur penjualan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium berdasarkan Harga Eceran Tertinggi (HET) menuai kontroversi dari sejumlah pedagang.Para pedagang pun enggan harga jual bensin eceran mengikuti aturan HET. Seperti yang diungkapkan seorang pedangan bensin eceran berusia 32 tahun di Jalan Raja Alam, Kecamatan Talisayan, bahwa dirinya menolak untuk mengikuti HET.Ia menerangkan, jika aturan itu benar-benar diterapkan, akan berdampak pada penghasilan mereka. Terlebih, menjual bensin eceran merupakan penopang perekonomian keluarganya.“Jika harga diturunkan, otomatis pendapatan kami ikut berkurang. Lagi pula, meski kami menjualnya dengan harga Rp 10 ribu per botolnya, tetap saja mereka beli. Dan saya tidak pernah mendengar mereka mengatakan kok mahal,” katanya saat diwawancarai Berau Post, Selasa (21/11).Menurutnya, jika pemerintah meminta para pedagang menjual sesuai standarisasi yang telah ditentukan, yakni Rp 8 ribu per liter tentu dirinya akan merugi. Pasalnya, pasokan BBM tidak hanya dari Agen Penjualan Minyak dan Solar (APMS). Tetapi, sebagian dipasok dari Tanjung Redeb.“Satu jeriken 20 liter saja kami beli Rp 160-170 ribu. Kalau dijual sesuai keinginan pemerintah, nggak ada untung. Yang ada, gali tutup lobang,” tegasnya.Dirinya pun meminta kepada pemerintah, agar tidak semena-mena dengan rakyat kecil. Dan memikirkan nasib para penjual yang mendapat untung hanya Rp 2.500 per liter. ”Mudahan pemerintah dapat dipertimbangkan ulang niatnya,” harapnya.Berbeda pula dengan pengecer yang bermukim di Jalan Soekarno Hatta yang enggan menyebutkan namanya. Pria bertubuh tinggi besar itu, akan mengikuti ketetapan HET yang diatur pemerintah.“Bukan mendukung. Tapi jika memang prosedurnya seperti itu kita harus ikuti. Mungkin ada pertimbangan kenapa pemerintah meminta menurunkan harga. Ambil sisi positifnya saja, ”ungkapnya.Menjual BBM eceran mengikuti HET, juga akan dilakukan Tri yang berjualan di Kampung Dumaring. “Awalnya saya jual sama seperti yang lain. Ya ikut-ikutan bisa dikata. Setelah mendengar bensin harus mengikuti HET, itu jadikan patokan saya. Keuntungannya pun lumayan dijual segitu, untuk nambah-nambah pemasukan,” singkatnya. (jun/rio)

Bagikan berita ini:
4
1
8
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar