Sebagai Dirut Pertamina, Massa Manik Gagal Lakukan Efisiensi

Kamis, 30 November 2017 18:51

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Pengamat ekonomi energi Universitas Gajah Mada (UGM) Fahmy Radhi menegaskan bahwa alasan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Elia Massa Manik soal hilangnya pendapatan dari bulan Januari -September 2017 sebesar Rp 19 triliun tidak dapat diterima.Fahmi pun membandingkan antara penurunan laba Pertamina pada 2017 di era Massa Manik dengan peningkatan laba pada 2016 di era Pertamina pimpinan Dwi Soetjipto.”Klaim Massa Manik soal penurunan laba 2017 lebih disebabkan tidak dinaikkannya harga BBM premium tidak beralasan. Pemerintah juga tidak menaikkan harga BBM premium sepanjang 2016, pada saat kepemimpian Dwi Soetjipto,” ujar Fahmy kepada wartawan, Kamis (30/11).Bahkan, lanjut dia, dalam kondisi bisnis yang hampir serupa, Dwi Soetjipto justru mampu menaikkan laba sekitar USD 1,83 miliar pada semester pertama 2016 atau naik sebesar 221 persen dibanding periode yang sama pada 2015.”Peningkatan laba Pertamina itu bukan berasal dari peningkatan pendapatan penjualan, tetapi lebih dipicu oleh efisiensi besar-besaran yang dilakukan oleh Pertamina, di bawah kepemimpinan Direktur Utama Dwi Soetjipto,” jelas dia.Fahmy menjelaskan, Pertamina di era Massa Manik akan kembali gagal melakukan efisiensi karena adanya penggemukan direksi Pertamina yang tentunya membengkakan pengeluaran biaya operasional.”Tidak dinaikkannya harga BBM premium, penugasan distribusi BBM di luar Jawa, Madura dan Bali (Jamali), dan kebijakan BBM Satu Harga akan selalu menjadi kambing hitam, manakala pendapatan Pertamina mengalami penurunan drastis di era Massa Manik,” ujar dia.

Bagikan berita ini:
5
2
5
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar